Perhatian Ulama Salaf terhadap Malam Nisfu Sya’ban

0
640

BincangSyariah.Com – Malam Nisfu Sya’ban merupakan salah satu malam yang dimuliakan Allah. Dalam kitabnya al-Khuthab al-Ilhamiyah Fauzi Muhammad Abu Zaid mengatakan, kaum muslimin telah bersepakat bahwa ada seseorang yang dipilih Allah menjadi hamba-Nya yang shalih, dan ada pula waktu-waktu tertentu yang dipilih oleh Allah sebagai waktu yang utama dan istimewa di antara waktu-waktu yang lain.

Di dalam Islam, Allah memilih hari Jumat sebagai hari yang istimewa dalam seminggu, memilih bulan Ramadhan sebagai bulan yang istimewa dalam setahun, memilih bulan Rajab untuk malam isra, dan juga memilih malam Nisfu Sya’ban untuk berbagai keutamaan seperti dikabulkannya doa, diterimanya tobat dan ampunan terhadap orang-orang yang membaca istighfar di malam Nisfu Sya’ban. Semua ini adalah karunia yang telah ditetapkan Allah.

Al-Imam Abu Thalib al-Makki dalam kitabnya Qut al-Qulub mengatakan, para sahabat Nabi Saw telah mencurahkan perhatian mereka pada malam Nisfu Sya’ban dengan berbagai macam amal ibadah. Di antaranya, mereka menghidupkan malam Nisfu Sya’ban dengan shalat sunah secara berjamaah. Melalui amal ibadah yang mereka lakukan, mereka mengharapkan kebaikan-kebaikan yang dikaruniakan Allah pada malam Nisfu Sya’ban.

Al-Imam Abu Thalib al-Makki juga menyebutkan tentang perhatian ulama salaf terhadap malam Nisfu Sya’ban. Mereka menghidupkan malam Nisfu Sya’ban dengan mendirikan shalat sunah sebanyak 100 rakaat. Tentu mendirikan shalat sunah sebanyak 100 rakaat ini bagi sebagian orang sangat berat, tetapi mereka mampu melaksanakan hal tersebut karena mengharapkan kebaikan-kebaikan yang ada di malam Nisfu Sya’ban.

Dengan demikian, menghidupkan malam Nisfu Sya’ban dengan melaksanakan berbagai bentuk ibadah kepada Allah sangat dianjurkan. Hal ini di antaranya karena para sahabat Nabi Saw dan ulama salaf telah mencontohkan. Mereka adalah sebaik-baik contoh untuk kita ikuti.

Baca Juga :  Empat Keutamaan Surah Al-Waqiah

Dalam kitabnya Ma Dza Fi Sya’ban, Sayyid Muhammad bin Abbas al-Maliki menuturkan kondisi penduduk Syam ketika malam Nisfu Sya’ban. Disebutkan, dahulu para ulama di Negeri Syam menghidupkan malam Nisfu Sya’ban, baik secara sendiri maupun berkelompok di masjid.

Di antara ulama yang berpendapat dan ikut menghidupkan malam Nisfu Sya’ban di masjid adalah beberapa ulama besar di Negeri Syam, yaitu Khalid ibnu Ma’dan, Lukman bin Amir, serta ulama-ulama besar lainnya. Diriwayatkan bahwa pada malam Nisfu Sya’ban mereka memakai pakaian terbagus, dan wewangian terharum. Mereka juga menghidupkan malam Nisfu Sya’ban di masjid dengan beribadah semalam suntuk kepada Allah.

Al-Imam Ishak Ibnu Rohawaih, ahli hadis sekaligus guru al-Imam al-Bukhari, menyatakan bahwa menghidupkan malam Nisfu Sya’ban di masjid dengan beribadah kepada Allah bukanlah perkara bid’ah. Beberapa ulama lain juga berpendapat bahwa menghidupkan malam Nisfu Sya’ban dengan beribadah adalah bukan perkara yang dilarang oleh agama.

Namun demikian, mereka berpendapat bahwa meghidupkannya di rumah (bukan secara berkelompok di masjid) adalah lebih baik. Di antara mereka adalah al-imam al-Auza’I, pemimpin ulama di Negeri Syam.

Melalui contoh dan pendapat dari beberapa ulama di atas, sebagaimana dikatakan Fauzi Muhammad Abu Zaid, berkumpul di dalam masjid pada saat Shalat magrib di malam Nisfu Sya’ban, kemudian membaca surah Yasin dan berdoa, bukan termasuk perbuatan bid’ah yang dilarang.

Hal ini karena membaca surah Yasin adalah ibadah. Berdoa kepada Allah adalah perintah dan berkumpul untuk melaksanakan shalat termasuk perbuatan yang dianjurkan. Wallahu a’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here