Perbedaan DI/TII dan Jamaah Islamiyah

0
33

BincangSyariah.Com – Sejarah terorisme yang berkaitan dengan agama di Indonesia kontemporer tidak dapat dilepaskan dari pengaruh gerakan Negara Islam Indonesia (NII). Atau juga disebut gerakan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII). Gerakan ini berhasil ditumpas dengan dieksekusinya pemimpin tertinggi gerakan, SKM Kartosoewiryo, pada tahun 1962.

Sekalipun pemimpin tertingginya telah tewas, tetapi gerakan ini tidak begitu saja mati. Ideologi NII bertahan dalam pikiran dan segenap jiwa para pengikut Kartosoewiryo. Pada tahun 80-an, wafatnya Adah Djaelani sebagai pemimpin Darul Islam, telah menyisakan ruang kosong kepemimpinan. Para aktivis Darul Islam kemudian mengangkat Ajengan Masduki, Cianjur, untuk mengisi jabatan sebagai imam.

Dalam struktur kepemimpinan ini, Abu Bakar Ba’asyir sebagai Menteri Hukum, Abdullah Sungkar Menteri Luar Negeri dan Hubungan Internasional, Udjang Burhanuddin sebagai Menteri Dalam Negeri dan Ahmad Furzon sebagai Komandemen Perang Wilayah Besar (KPWB) yang bertugas merekrut anggota baru.

Pada 1988, Masduki dan Abdullah Sungkar pergi mengunjungi Afganistan dan bertemu Abdul Rasul Sayyaf, pemimpin tertinggi Ittihad Islami. Pada mulanya, Masduki dan Sungkar meminta bantuan persenjataan untuk Darul Islam. Tetapi, Sayyaf mengatakan tidak bisa mengirim senjata. Tetapi, ia mengizinkan kader Darul Islam mengikuti training militer di Akademi Militer yang dikelolanya. Inilah awal mula pengiriman anggota-anggota Darul Islam ke Afganistan pada akhir tahun 80-an. Ada sekitar empat angkatan.

Infishol

Setelah beberapa waktu, terjadi perbedaan pendapat antara Masduki dan Sungkar. Masduki menghendaki agar Sungkar segera membuka semacam kedutaan di sejumlah negara Islam. Artinya, dalam logika Masduki, Darul Islam ditempatkan sebagai sebuah entitas negara. Sungkar memiliki pemikiran lain. Bahwa setelah 1962, Darul Islam sudah tidak bisa disebut negara karena tidak punya kawasan teritorial yang dikuasai. Masduki berpendapat bahwa sekalipun teritorial Darul Islam telah dikuasai oleh pemerintah RI, tetapi Darul Islam tetap eksis.

Perbedaan pendapat ini semakin meruncing. Sungkar dituduh sebagai pembelot yang korup. Ia dianggap tidak mematuhi imam dan tidak profesional dalam mengelola dana pengiriman kader Darul Islam. Sebaliknya, Sungkar mulai mengkritisi kultur dan ajaran yang berkembang di Darul Islam. Sungkar yang merupakan seorang Salafi, tidak bisa menerima tradisi klenik para pemimpinnya. Konflik ini berpuncak dengan munculnya gerakan infishol (pemisahan diri) pada tahun 1992.

Jamaah Islamiyah

Setelah Infishol, Sungkar berencana membuat gerakan baru yang dianggap lebih sesuai dengan ide-ide Salafisme. Bersama dengan teman-temannya di Malaysia, Abu Bakar Ba’asyir dan Thoriquddin, ia pada akhirnya tertarik dengan ideologi Al-Gamaah Al-Islamiyyah yang berasal dari Mesir. Mereka mendiskusikan sejumlah pemikiran para tokoh gerakan ini. Buku-buku Gamaah Islamiyah didiskusikan dengan intensif. Di antaranya, Al-Thariq Ila Jama’atil Muslimin karya Husain Muhammad Ali Jabri, Al-Manhaj Al-Haraki Li Sirah An-Nabawiyyah karya Murnis Muhammad Ghadhaban, Mitsaq Amal Islami Najih Ibrahim, Ashim Abdul Majid dan Ishamuddin Darbalah. Pada akhirnya, Sungkar menamai gerakannya ini dengan sebutan Jamaah Islamiyah (JI). Organisasi ini menjadi lengkap pada tahun 1995. Organisasi berjalan dengan mengikuti Pedoman Umum Perjuangan Jamaah Islamiyah (PUPJI). Berdasarkan pedoman ini, struktur JI terdiri dari Amir Jamaah, Majelis Qiyadah Markaziyah, Majelis Syuro, Majelis Fatwa, dan Majelis Hisbah. Majelis Qiyadah Markaziyah membawahi sejumlah kepemimpin daerah yang disebut Majelis Qiyadah Mantiqi. Pada 1997, terdapat empat Mantiqi terbentuk.

Terbentuknya JI merupakan bentuk tantangan besar bagi gerakan Darul Islam/NII. Tetapi, sekalipun telah berpisah, sebagian kader NII/Darul Islam tetap menjalin kerja sama. Dalam sejumlah kasus pemboman, aktivis JI memanfaatkan jaringan Darul Islam.

Perbedaan DI/TII dan JI

Terdapat sejumlah perbedaan antara DI/TII atau akrab juga disebut NII dengan JI. Baik dari aspek kultur, ideologi, strategi dan tujuan.

Kultur

Para aktivis Darul Islam memiliki kultur Islam tradisional. Mereka percaya pada sufisme, dan dalam beberapa hal percaya pada klenik. Hal ini terjadi sejak era kepemimpinan Kartosoewiryo. Berbeda dengan Abdullah Sungkar dan Abu Bakar Baasyir yang merupakan kader modernis-Salafi. Karya-karya Abu Bakar Baasyir dipenuhi rujukan dari pemikir Wahabi dan Ikhwanul Muslimin.

Ideologi

Darul Islam melanjutkan usaha mendirikan Negara Islam di kawasan yang saat ini berdiri Republik Indonesia. Ketika Darul Islam kalah pada tahun 60-an, para aktivisnya hanya ingin kembali merebut kembali kawasan yang pernah mereka kuasai. Musuh mereka, sejatinya hanya Republik Indonesia. Berbeda dengan JI yang memiliki visi baru dengan mengembangkan sebuah negara yang lebih luas daripada Indonesia. JI menginginkan Negara yang meliputi kawasan regional Asia Tenggara dan Australia bagian utara. Ideologi JI dibandung berdasarkan rujukan yang berasal dari Wahhabisme dan Ikhwanul Muslimin.

Strategi

Dalam memperjuangkan ideologinya, Darul Islam pada masa lalu mengedepankan aksi militer. Setelah ditumpas, aktivis Darul Islam lebih mengedepankan gerakan bawah tanah; seperti dakwah dan perekrutan anggota baru. Secara umum, aktivis NII hampir tidak menggunakan aksi kekerasan. Di sisi lain, JI mengembangkan jaringan internasional, kamp pelatihan militer, pengiriman laskar ke daerah konflik, sistem pendidikan yang lebih mutakhir, dan skema penggalangan dana. Beberapa faksi dalam JI, melakukan aksi sepihak dengan melakukan penyerangan terhadap simbol-simbol Barat. Karena mereka memahami, bahwa musuh mereka bukan hanya pemerintah, tetapi juga negara-negara Barat. Ini jelas berbeda dengan DI/NII.

Tujuan

Tujuan organisasi DI/TII atau NII adalah mendirikan negara nasional. Hal ini karena dalam imajinasi kenegaraan anggota DI, Indonesia pada asalnya adalah negara Islam yang telah direbut oleh kaum sekuler. Indonesia sejati adalah Indonesia yang mereka perjuangkan. Sedangkan JI bertujuan mendirikan kekhalifahan regional di kawasan Asia Tenggara yang dikenal dengan sebutan Nusantara. Regionalisme ini menjadi ciri khas JI yang membedakannya dengan NII.

Demikian, perbedaan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII atau yang dikenal dengan NII dan Jamaah Islamiyah.

100%

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here