Perbandingan Gaya Kepemimpinan Dinasti Umayah dengan Kekhalifahan Sebelumnya

0
19075

BincangSyariah.Com – Berakhirnya masa khulafaur Rasyidin ditandai dengan wafatnya Ali bin Abi Thalib. Pola pemerintahan maupun gaya kepemimpinan juga akhirnya berubah total. Sebagaimana telah kita ketahui bahwa penerus kekhalifahan islam setelah Ali bin Abi Thalib mengalami episode baru. Hal yang membedakan kedua episode itu adalah pola pemerintahan dan gaya kepemimpinannya. Sedangkan prinsip politik luar negeri, menurut Imam al-Dzahabi dalam kitab Tarikh Islam, tetap sama yaitu perluasan wilayah dalam rangka dakwah.

Untuk membandingkan perbedaan tersebut diambil salah satu contoh khalifah pada Dinasti Umayah, misalnya khalifah pertama dan pendiri dinasti itu, yaitu Muawiyah. Perbedaan kedua pola pemerintahan dan gaya kepemimpinanannya, yaitu sebagai berikut:

Kepemimpinan Khulafaur Rasyidin

  • Mengutamakan, meniru sikap Rasulullah Saw. Dalam melaksanakan segala kegiatan dan berupaya mentaati segala ajaran islam
  • Menetapkan khalifah atau pimpinan secara demokratis yaitu dengan musyawarah untuk mufakat dan pemilihan
  • Jabatan khalifah diperoleh berdasarkan kesepakatan seluruh kaum muslimin
  • Apabila terjadi permasalahan, diambil solusi melalui musyawarah untuk mufakat
  • Jabatan dianggap sebagai amanah yang harus di pertanggungjawabkan di hadapan Allah dan masyarakat
  • Khalifah lebih mengutamakan kesejahteraan daripada mengejar kekayaan dan kekuasaan. Rakyat adalah segalanya, sedangkan khalifah adalah pengabdi
  • Prinsip dasar sebagai khalifah adalah pemimpin pemerintah sekaligus pemimpin agama
  • Prinsip dasar pemerintahan bersandar pada kedekatan hubungan istimewa dengan Nabi Muhammad Saw. Dan faktor keagamaannya, ketokohannya dan kesetiaannya kepada islam
  • Prioritas dakwah islam dan perhatian kaum muslimin di negeri-negeri; Turki, Mesir,Syiria, Arab, Irak dan Persia (prioritas pengalaman ketika kepemimpinan Nabi Saw. Dan Khulafaur Rasyidin)

Kepemimpinan Muawiyah

  • Masih meneladani Rasulullah Saw, tetapi berani melakukan penyimpangan dari ajaran islam
    Menetapkan khalifah berdasarkan kekerabatan atau keturunan. Hal itu mirip dengan kerajaan atau sistem monarkhi
  • Jabatan khalifah diperoleh dengan jalan paksaan, politisasi dan kelicikan
  • Tidak ada musyawarah karena pemerintahan cenderung diktator
  • Jabatan sangat diagungkan sampai-sampai jabatan khalifah disebut sebagai “Khalifah Allah” yang diartikan “penguasa” yang ditunjuk oleh Allah. Khlifah adalah segalanya dan harus disanjung, sedangkan rakyat adalah hamba atau pengabdi
  • Berorientasi mengumpulkan kekayaan dan melanggengkan kekuasaan
  • Berprinsip bahwa khalifah tidak harus sebagai pemimpin agama. Posisi itu dapat diserahkan kepada orang lain yang ditunjuk
  • Prinsip dasar pemerintahan bersandar pada jaringan kerja yang memberikan keuntungan dan kedekatan kekerabatan
  • Prioritas dakwah islam dan perhatian kaum muslimin di negeri-negeri; Turki, Spanyol, Eropa Timur, India dan lain-lain (prioritas pengislaman setelah kepemimpinan Khulafaur Rasyidin).
Baca Juga :  Hari ini Harlah ke-73, Ini Sejarah Muslimat NU

Maka dapat dikatakan bahwa Dinasti Umayah telah menggoreskan sejarah baru. Hal penting lainnya adalah tindakan Muawiyah bin Abi Sofyan yang mempersiapkan putra mahkota untuk menghindari ancaman dan tekanan dari pendukung Muawiyah. Namun, di pihak lain masih ada tokoh dari kalangan muslimin yang tidak mau mengubah cara yang diterapkan pada masa sahabat Nabi Saw, sehingga para tokoh itu tidak bersedia membaiat pengangkatan putra mahkota. Tokoh-tokoh yang masih murni tersebut antara lain Husen bin Ali, Abdullah bin Zubair, dan Abdullah bin Umar.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here