Menengok Perayaan Maulid Nabi di Tunisia

1
580

Kecintaan kepada Nabi adalah hal yang sangat wajar bagi kalangan sahabat. Dahulu, ketika Sahabat Ali bin Abi Thalib r.a ditanya tentang kecintaannya kepada Nabi beliau menjawab “Sungguh aku mencintai Rasulullah melebihi cintaku pada hartaku, anak-anakku, dan kedua orang tuaku. Bahkan melebihi kesegaran air dingin ditengah dahaga yang menyerang.” Hal ini juga diperkuat oleh Abu Sufyan, “Saya tidak melihat manusia mencintai sesamanya seperti cintanya para sahabat Nabi kepadanya.” Begitu juga pada masa Tabi’in,  cinta kepada Nabi juga menjadi hal yang sangat wajar. Kecintaan mereka kepada Nabi hanya bertahan hingga abad pertama hijriyah saja.

Seiring berjalannya waktu, kecintaan mereka kepada Nabi mulai kendur dan luntur. Bagaimana bisa mereka melancarkan futuhat (penaklukan/pembebasan bumi Allah), tanpa adanya rasa cinta terhadap Nabi mereka. Maka dari itu Imam Ibnu Hajar Al ‘Asqolani yang terkenal dengan kisah anak batu ini mengeluarkan fatwa pertamanya ketika dimintai fatwa memperingati hari kelahiran nabi.

Beliau berkata: “Pada dasarnya amalan ini bid’ah, belum ada ulama sebelumnya yang melakukannya. Namun apabila ditemukan adanya kebaikan dalam pengamalannya dan berusaha menjauhi madlorotnya, maka itu bid’ah hasanah (bid’ah yang baik). Dan jika tidak demikian maka sebaliknya”. Bid’ah yang dimaksud disini adalah inovasi baru. Hal ini diperkuat dengan pernyataan Al ‘Abdary Muhammad bin Muhammad yang familiar dengan sebutan Ibnu al Haaj,  meninggal pada tahun 737 H. Beliau menyampaikan bahwa di dalam perayaan-perayan maulid itu banyak ditemukan kebaikan.  Pernyataan beliau bisa kita temukan dalam karyanya, Al Madkhol

Di tengah kesyahduan seperti ini  muncul pendapat Imam Al Fakihani Al Maliki, Beliau juga Asy’ari, yang mengatakan bahwa perayaan maulid  itu tidak ada landasananya baik dari Alquran dan hadis. Dan ini bid’ah, maka tidak boleh diamalkan. Uniknya pendapat beliau ini dijadikan “peluru kendali” oleh mereka yang ingin melarang perayaan maulid. Namun mereka tidak mau mengikuti ajaran akidah sang Imam yang Asy’ari tulen.

Baca Juga :  K.H. Turaichan Adjhuri: Ulama Ahli Falak dari Kudus

Pernyataan Sang Imam ini dibalas oleh Imam As Suyuthi di dalam karyanya Husnu al Maqsad fi ‘Amali al Maulid. Beliau berargumen dengan menggunakan fatwa Imam Ibnu Hajar yang sudah pernah disinggung di atas lalu diperkuat dengan hadis yang termaktub dalam Sahih Bukhari dan Muslim. Bahwa nabi dulu saat bertandang ke Madinah beliau mendapati orang-orang yahudi sedang berpuasa ‘Asyura. Lalu beliau bertanya, dan mereka menjawab, “ Hari Asyura’ adalah hari keberkahan, di mana Fir’aun ditenggelamkan di Laut Merah lalu diselamatkannya Nabi Musa. Maka kami berpuasa sebagai wujud syukur kami kepada Tuhan”.

Berlandaskan pada hadis tersebut, menurut Imam Suyuthi  kita boleh bersyukur kepada Allah untuk hari tertentu di mana Allah menganugerahkan nikmatnya dan mencabut adzabnya. Maka di sini kita juga harus bersyukur atas nikmat yang sangat besar ini, nikmat berupa kelahiran junjungan kita, Nabi Muhammad saw.

Bukti lain bahwa maulidan adalah hal lumrah adalah banyak ulama yang telah menulis madah (puji-pujian untuk Rasulullah saw). Ini dibuktikan dengan karya-karya ulama tentang Maulid nabi. Sebut saja Ibnu Dihyah Al Kalbi Al Andalusi, meninggal tahun 633 H. Beliau pernah menulis Al Tanwir fi Maulidi al Siraj al Munir.

Begitu juga beberapa kitab maulid yang lumrah di Nusantara seperti ‘Iqdul Jawahir karya Imam Ja’far Al Barzanji, dan Maulid al Diba’i karya Imam Abdurrahman Al Diba’i, dan masih banyak lagi. Ini menunjukan maulid adalah hal yang lazim dan injeksi yang dibutuhkan oleh umat untuk sarana kembali mengingat dan mencintai Nabi. Dalam sejarah, maulid juga senang dilaksanakan oleh pejabat. Sebut misalnya Abu Hamwin Musa ibn Harun Ibn Yusuf, seorang pembaharu Daulah Bani ‘Abdil Wad di Tilmisan, Aljazair.

Baca Juga :  Aneka Model Pakaian Nabi (Bagian 1)

Di Tunis, ibukota Tunisia, perayaan maulid Nabi dipopulerkan oleh Sultan Ahmad Bin Musthofa Pasha Bey. Ini sejalan dengan keterangan sejarawan terkemuka Ibnu Abi Dhiyaf di dalam kitabnya Ithafu Ahli al-Zaman. Di Tunis sendiri perayaan maulid nabi biasanya digelar dengan pembacaan Qashidah Al Hamziyah karya Imam Al Bushiry dengan judul kitabnya Ummu al-Qura fi Madhi Khoiri al-Wara lalu diakhiri dengan doa sambil menghadap kiblat. Di kalangan keluarga-keluarga Tunis perayaan maulid Nabi lebih meriah daripada Lebaran Idul Fitri, selain membaca Qashidah Al Hamziyah mereka biasanya membuat Asidah, yaitu sejenis bubur manis khas Tunis. Manisan ini hanya khusus ada di saat maulid nabi saja.

Perayaan maulid yang tak kalah meriah dan disambut dengan antusias oleh masyarakat kota Kairouan, kota kuno di sebelah utara. Keantusiasan masyarakat dapat dilihat dari padatnya pengunjung Masjid Agung Kairouan atau masjid Uqbah bin Nafi’. Mereka tidak hanya berasal dari kota Kairouan saja, melainkan luar kota. Karena tidak hanya meramaikan perayaan maulid, mereka juga dapat berziarah di salah satu makam sahabat yang terletak tidak jauh dari masjid agung kairouan yaitu makam sahabat Abu Zam’ah Al-Balawi.

Rangkaian kegiatan yang diselenggarakan antara lain pembacaan Alquran, sholawat, dzikir, menceritakan kisah-kisah Nabi Muhammad dan lain sebagainya. Selain itu ada juga pameran lampu yang diadakan di dekat Masjid Agung Kairouan. Lampu-lampu bervariasi diarahkan menuju menara masjid yang kemudian membentuk ornamen-ornamen unik diselingi dengan pemutaran film “Risalah” berisi tentang kisah Nabi Muhammad Saw. Di luar masjid, terdapat sebuah pasar rakyat yang sangat ramai. Pasar ini menjual berbagai macam makanan khas Kairouan seperti Maqrud, manisan dan barang khas Kairouan seperti karpet.

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here