Perang Bani al-Mushtoliq: Terbukanya Niat Tersembunyi Kaum Munafik Madinah

1
965

BincangSyariah.Com – Perang Bani al-Mushtoliq (mim-shod-tho’-lam-qaf) atau al-Muraisi’ (mim-ra’-si’-ya’-‘ayn) terjadi di tahun ke-5 atau ke-6 Hijriyah. Para pencatat sejarah peperangan atau Sirah Nabawiyah seperti Ibn Ishaq berbeda pendapat soal itu. Tapi yang jelas, peristiwanya terjadi di bulan Sya’ban.

Perang ini memang bukan perang yang besar. Namun Nabi Saw. ikut serta dalam peperangan ini. Perang ini penting untuk dibicarakan karena pada peristiwa ini, ada peristiwa penting dimana Nabi Saw. mulai mengetahui gelagat orang-orang yang disebut al-Munafiqun (orang-orang Munafik). Mereka ada orang yang secara zahir terlihat mendukung Islam namun diam-diam justru melakukan tindakan-tindakan yang melemahkan komunitas muslimin saat itu.

Perang ini dimulai dari peristiwa ketika pemimpin Bani Mushtoliq, al-Harits bin Abi Dhirar, mengajak sukunya untuk memerangi Rasulullah. Sebelum dilanjut, Bani Mushtoliq ini termasuk keluar besar Bani Khuza’ah, suku yang pernah bersama-sama suku Quraisy ikut memerangi Nabi pada Perang Uhud.

Al-Harits benar-benar serius dengan ucapannya. Ia kemudian menyiapkan sejumlah kuda dan senjata. Aktivitas ini kemudian terdengar hingga Rasulullah Saw. Beliau kemudian mengutus seorang mata-mata bernama Buraidah bin al-Hashib al-Aslami untuk mencari informasi soal itu. Setelah mengetahui bahwa ternyata al-Harits benar-benar mau menyerang Madinah, Buraidah segera mengabari Nabi soal ini.

Nabi Muhammad kemudian menyiapkan pasukan untuk menghadapi Bani Mustholiq, 300 pasukan plus 70 penunggang kuda terdiri dari golongan Muhajirin dan Anshar. Diantara pasukan ini ada sejumlah orang yang disebut sebagai orang Munafiq yang belum pernah mengikuti peperangan bersama Rasulullah sebelumnya. Alasan Rasulullah Saw. langsung memerangi mereka adalah, karena mereka sudah pernah didakwahkan Islam terlebih dahulu ketika peristiwa Uhud, namun mereka justru melakukan serangan balik bahkan tidak menjaga perdamaian.

Baca Juga :  Syiiran Nasihat K.H. Asnawi Kudus: Syair Kiat Menjaga Keutuhan Negara

Perang pun terjadi. Kekalahan pun dialami oleh Bani Mushtoliq. Pasukan Nabi disebutkan hanya mati satu orang, meskipun pendapat ini ditentang Ibn al-Qayyim. Menurut Ibn al-Qayyim al-Jauziyyah, yang terjadi bukanlah peperangan terbuka, namun pengepungan wilayah. Pasukan muslim kemudian menawan sejumlah orang, mendapatkan rampasan perang. Salah satu tawanan adalah Juwairiyyah binti al-Harits, putri al-Harits bin Abi Dhirar yang menyerahkan diri. Juwairiyyah lalu dilepaskan sebagai tawanan dan diperistri oleh Rasulullah setelah menyatakan memeluk Islam.

Lalu dimana kisah orang Munafiq pada peperangan ini ? Jawabannya, mereka pada awalnya mengharapkan rampasan perang dengan mengikuti peperangan ini. Tapi disaat yang sama, sepanjang peperangan ini mereka melakukan tindakan-tindakan yang membuat persatuan antara Muhajirin dan Anshar rusak dan membangkitkan lagi sentimen kesukuan. Salah satu peristiwanya adalah ketika Abdullah bin Ubay bin Salul mengatakan,

لئن رجعنا إلى المدينة ليخرجن الأعز منها الأذل

 

kalau kita sudah kembali ke Madinah, orang kuatnya akan menggeser mereka yang lemah.

Abdullah bin Ubay bin Salul mengatakan ini mirip seperti provokasi dalam bentuk membangkitkan perasaan terancam orang Madinah. Bahwa kedatangan Rasulullah dan pencapaiannya yang besar di Madinah, pasti nanti akan menggeser peran orang Madinah dari kotanya sendiri.

Zayd bin Arqam yang mendengar ini, melaporkan ucapan Abdullah bin Ubay kepada Nabi. Sebagian pasukan tadi ada yang terprovokasi ucapan Abdullah bin Ubay dan memutuskan untuk memisahkan diri dari pasukan. Putra Abdullah bin Ubay sendiri, meminta izin kepada Nabi Saw. untuk menghukum ayahnya sendiri atas ucapannya itu. Nabi menahan keinginan putra Abdullah bin Ubay dengan mengatakan, “Biarkan, kami akan tetap berperilaku baik terhadap ayahmu selama dia bersama kita di Madinah.”

Baca Juga :  Ini Empat Pesan Allah untuk Nabi Adam Saat Diturunkan di Muka Bumi

Ucapan Abdullah bin Ubay ini nantinya merembet pada konflik selanjutnya, salah satunya adalah peristiwa al-Ifk dimana ibunda ‘Aisyah Ra. dituduh serong dengan lelaki lain.

1 KOMENTAR

  1. […] “Kiamat tidak akan terjadi sampai kalian memerangi sekolompok orang yang sendalnya terbuat dari rambut, dan memerangi bangsa Turk, yang mana mereka bermata sipit, berwajah kemerah-merahan, berhidung pesek, wajah mereka berbentuk perisai yang bundar (HR Bukhari dan Muslim). (Baca: Perang Bani al-Mushtoliq: Terbukanya Niat Tersembunyi Kaum Munafik Madinah) […]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here