Peran Perempuan dalam Seni Kaligrafi di Dunia Islam

0
9

BincangSyariah.Com – Istilah seni kaligrafi Arab di abad pertengahan Islam, tidak terpisahkan dari model menulis Arab pada masa itu. Artinya, kaligrafi Arab adalah tulisan Arab itu sendiri (al-khatt’)

Dan, dalam perkembangan seni kaligrafi Arab, seperti digambarkan Shalahuddin al-Munajjid dalam artikelnya berjudul Women’s Roles in the Art of Arabic Calligraphy dalam buku The Book in The Islamic World : The Written Word and Communication in the Middle East (disunting oleh George N. Atiyeh), dalam perkembangannya ada peran perempuan dalam seni kaligrafi di dunia Islam. Mereka adalah perempuan yang memang terlatih secara profesional dalam melakukan kegiatan tulis menulis tersebut.

Al-Munajjid menggambarkan, bahwa ragam jenis tulisan Arab sendiri berkembang seiring dengan tersebarnya Islam ke berbagai wilayahnya. Ketika di Mekkah, berkembang ragam tulisan bernama al-Makki. Begitu juga saat di Madinah. Jenis tulisan al-Kufi berkembang ketika Islam mulai masuk ke kota Kufah dan menjadi font yang digunakan luas di seluruh wilayah yang Islam sudah masuk di dalamnya. Font Kufi pun menjadi font resmi untuk penulisan Al-Qur’an sampai abad ke-4 H/10 M, hingga kemudian digantikan oleh ragam jenis tulisan Naskhi yang dipelopori oleh tokoh bernama Ibn al-Muqlah dan Ibn al-Bawwab.

Di abad ke-6, font Kufi hampir hilang dari seluruh penulisan untuk teks Al-Quran, tapi masih digunakan untuk kaligrafi di masjid atau makam-makam. Setelah abad ke-6 tersebut, berkembanglah font kaligrafi Arab lainnnya seperti Riq’I, Thuluth, Diwani, dan Ta’liq. Ini belum termasuk font yang muncul dari orang-orang keturunan Persia dan Turki yang memiliki model tersendiri.

Kaligrafi di abad pertengahan Islam memasuki seluruh sisi-sisi kehidupan masyarakat di berbagai tempat pada waktu itu di wilayah yang kini kita kenal sebagai Timur Tengah.  Kaligrafi digunakan di kitab suci (Al-Quran), teks-teks keagamaan, sastra, sains. Tertulis di masjid, mimbar, istana, tempat-tempat pemandian, kursi-kursi, pedang, baju zirah, hingga alat-alat peraga sains seperti bola dunia dan astrolabe (h. 144).

Dalam perkembangan kaligrafi Arab tersebut, ada banyak juga penulis-penulis kaligrafi Arab dari kalangan perempuan. Dan, karena kemampuannya itu, mereka dihormati bahkan oleh penguasa saat itu. Al-Munajjid mengelompokkan penulis kaligrafi Arab perempuan tersebut menjadi tiga setidaknya, penulis di lingkungan kepegawaian kekhalifahan/kerajaan; penulis dari kalangan ulama perempuan; dan para penyalin Al-Quran.

Kelompok pertama, di lingkungan kepegawaian kerajaan, perempuan-perempuan asisten para permaisuri memiliki kemampuan menulis yang baik sehingga membantu urusan para Khalifah di berbagai lembaga kerajaan (diwan/jamak: dawaawin). Ada sosok bernama Khalisah, pembantu al-Khayzuran (salah seorang istri Khalifah di Era Abbasiyyah?). Ada ‘Utbah, pembantu dari Rithoh, anak dari Abu al-‘Abbas as-Saffah yang juga pandai menulis. Para perempuan yang punya kemampuan menulis ini sangat dihormati karena memiliki penampilan yang sangat elegan ketika keluar dan tidak ada yang berani berbuat macam-macam terhadap mereka. Ada yang bernama Sitt Nasim, perempuan yang diajarkan menulis oleh an-Nasir li Dinillah, khalifah terakhir Dinasti Abbasiyyah. Sampai-sampai Nasim yang mewakili urusan Khalifah An-Nasir di usia senjanya penglihatannya memburuk dan menderita pikun.

Para sastrawan, yang memang biasanya dekat dengan lingkungan kerajaan, juga memiliki sejumlah asisten terampil menulis dari kalangan perempuan. Misalnya Abu al-‘Atahiyyah, salah seorang sastrawan di era Abbasiyyah memiliki sejumlah penulis perempuan yang bertugas mencatat dan mengkoreksi keakuratan hasil tulisannya.

Di Andalusia, bahkan para perempuan menjadi sekretaris para sultan. Selain kemampuan menulis, mereka juga memiliki kemampuan intelektual yang pilih tanding. Ada sosok bernama Lubna (w. 394 H/1003 M), adalah sekretaris al-Mustansir yang juga seorang sastrawan, ahli bahasa, retorika, dan matermatika,

Dari kalangan ulama juga tidak bisa diabaikan. Ada sosok benrama Sayyidah (w. 647 H/1249 M), anak dari ulama asal Granada bernama ‘Abd al-Ghani al-‘Abdariyyah, yang telah menyalin sendiri Ihya’ ‘Ulumuddin karya al-Ghazali. Di Irak, ada sosok bernama Shudah binti al-Ubrii, seorang kompilator hadis (muhaddits) yang sampai dijuluki musnidatu al-‘Iraq (wanita pemilik banyak sanad dari Irak). Ketika ia wafat di tahun 574 H/1178 M, Khalifah waktu itu sampai menyaksikan proses pemakamannya.

Dari kalangan para penulis Al-Quran, juga menarik untuk dipelajari. Para penulis Al-Quran ini, bahkan bersaing untuk menulis Al-Quran dengan seni kaligrafi terbaik. Para perempuan penulis Al-Quran ini bahkan dapat ditemukan terbentang dari Spanyol sampai India. Di Cordoba saja, para sejarawan mencatat ada 170 perempuan yang siang malam pekerjaannya adalah menyalin Al-Quran dengan font Kufi.

Shalahuddin al-Munajjid menyebut bahwa ada keyakinan di masa itu bahwa setiap huruf yang ditulis para perempuan itu juga memiliki dimensi spiritual di dalamnya. Ada seorang penulis menggambarkan para penulis perempuan, « tinta yang ia gunakan layaknya rambutnya yang hitam, kertas untuk menulis layaknya kulit wajah mereka yang menguning, penanya seperti jari-jari mereka yang indah, dan pisau untuk menajamkan pena mereka seperti tajamnya pedang yang menusuk yang berasal dari pandangan mereka. » Bahkan, di masa itu, salah satu standar kecantikan yang langka adalah perempuan yang memiliki kemampuan menulis. Bahkan, perempuan yang beruntung di masa itu adalah mereka yang tidak hanya memiliki fisik yang bagus dan wajah yang menawan, tapi juga kemampuan menulis yang menunjukkan karakternya yang kuat.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here