Peran Cina dalam Menyebarkan Islam di Nusantara

1
8

BincangSyariah.Com – Ada banyak teori yang menjelaskan tentang penyebaran Islam di Nusantara. Salah satu teori tersebut adalah teori Cina yang memaparkan tentang peran Cina dalam menyebarkan Islam di Nusantara.

Teori ini menjelaskan bahwa etnis Cina Muslim memiliki peran penting dalam proses penyebaran agama Islam di Nusantara. Serupa dengan teori Arab dalam penyebaran Islam di Nusantara, hubungan Arab Muslim dan Cina pun sudah terjadi sejak Abad pertama Hijriah.

Pada saat itu, Islam datang dari arah Barat ke Nusantara dan ke Cina bersamaan dalam satu jalur perdagangan yang sama. Islam datang ke Cina tepatnya di Canton atau yang sekarang bernama Guangzhou pada masa pemerintahan Tai Tsung dari Dinasti Tang.

Dalam Sejarah Sosial Intelektual Islam di Indonesia (2012), Moeflich Hasbullah menuliskan bahwa Islam datang ke Nusantara di Sumatera pada masa kekuasaan Sriwijaya. Di pulau Jawa, Islam datang berdasarkan kedatangan utusan raja Arab bernama Ta cheh atau Ta shi ke kerajaan Kalingga yang di perintah oleh Ratu Sima.

Dari penjelasan Hasbullah, kita bisa menyimpulkan bahwa Islam datang ke Nusantara berbarengan dengan kedatangan Islam Cina. Sayangnya, teori di buku tersebut tidak menjelaskan tentang awal masuknya Islam, tapi lebih menekankan pada peran Cina dalam pemberitaan. Meski begitu, tetap ada bukti-bukti bahwa Islam datang ke Nusantara pada awal abad Hijriah.

Selain penjelasan di atas, ada pula teori Cina tentang penyebaran Islam di Nusantara yang dikemukakan oleh Selamet Muljana. Ia menyatakan bahwa sultan-sultan di kerajaan Demak adalah peranakan Cina. Ia juga menyatakan bahwa para Wali Sanga adalah peranakan Cina.

Teori ini bukan teori asal tanpa sumber. Pendapat Selamat Muljana didasarkan pada sebuah kronik klenteng Sam Po Kong. Ia menuangkannya dalam Runtuhnya Kerajaan Hindu Jawa dan Timbulnya Negara-Negara Islam di Nusantara (1968).

Baca Juga :  Wajah Baru Yahudi yang Islami

Ia memberikan contoh Sultan Demak Panembahan Patah, sebagai pendukung teori ini dalam Kronik Sam Po Kong bernama Panembahan Jin Bun sebagai nama Cinanya. Arya Damar sebagai pengasuh Panembahan Jin Bun pada waktu di Palembang juga punya nama Cina yaitu Swang Liong.

Dalam buku Api Sejarah (2010) Ahmad Mansur Surya Negara mencatat bahwa Sultan Trenggono juga disebutkan dengan nama Cina yaitu, Tung Ka Lo. Sedangkan Wali Sanga antara lain Sunan Ampel dengan nama Cina Bong Swee Hoo. Sunan Gunung Jati dengan nama Cina Toh A Bo.

Hubungan diplomatik antara Cina dan Arab sebenarnya bukan sebuah hal yang baru. Hubungan tersebut telah terjalin sejak zaman khulafaurrasyidin. Pada waktu itu, Cina tengah berada di bawah kekuasaan Dinasti Tang.

Sementara itu, hubungan dagang Cina dengan Nusantara juga sudah terjalin dan mengalami puncaknya pada kunjungan Laksamana laut Cheng Ho antara tahun 1405-1430 M. Saat itu, Cina berada di bawah kekuasaan dinasti Ming pada 1363-1644 M.

Tentang teori Cina dalam kedatangan Islam di Nusantara, Nurcholish Madjid melihat kecocokan dilihat dari segi mazhab dan kebahasaan yang ada. Pada masa itu, mazhab yang berkembang di Cina adalah Sunni dan Syafi’i. Umumnya, kedua mazhab tersebut dianut oleh umat Islam di sepanjang “jalur sutra”.

Umat islam yang berada di Asia Tengah dan Cina pada saat itu berada dalam Kawasan yang mendapatkan pengaruh bahasa dan budaya dari Islam Persi. Bisa disimpulkan bahwa Islam datang ke Nusantara dari daratan Cina dalam satu fase perkembangan tertentu di Asia Tenggara.

Teori-teori tentang kedatangan Islam ke Nusantara begitu banyak dan beragam. Apabila ingin menggunakan satu teori sebagai sumber pendapat atau penelitian, kita mesti menyaringnya dengan mempertimbangkan bukti-bukti sejarah yang dipaparkan.[] (Baca: Kisah Pedagang Arab dalam Menyebarkan Islam di Nusantara)

Baca Juga :  Perdebatan Soal Tauhid antara Sayyid Usman bin Yahya Syaikh Ismail Abdul Wahab Tanjungbalai

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here