Peran Abu Bakar Baasyir dalam Jamaah Anshorut Tauhid (JAT)

2
15

BincangSyariah.Com – Pernahkah Anda mendengar kelompok Jamaah Anshorut Tauhid? Abu Bakar Baasyir berperan di dalamnya. Selain itu, Abu Bakar Baasyir (ABB) merupakan tokoh ikonik yang menjadi simbol gerakan jihad di Indonesia. Gerakan jihad melawan NKRI telah lama tumbuh sejak era Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) atau dikenal juga sebagai Negara Islam Indonesia (NII).

Abu Bakar Baasyir tumbuh dari keluarga keturunan Arab di Jombang. Pernah mengenyam pendidikan di pesantren Gontor, Ponorogo, Jawa Timur. Ia kemudian aktif di sebuah komunitas dakwah di Solo. Ia juga berbaiat kepada petinggi NII di Jawa Tengah. Pada hari kemudian, ia bersama Abdullah Sungkar menjadi  buronan pemerintah karena secara terbuka menolak asas tunggal Pancasila. Sejak itulah ia menjadi pelarian

Bersama Abdullah Sungkar dan jaringan NII, ia terlibat dalam pembentukan organisasi jihad Jamaah Islamiyah (JI) pada awal 90-an. Pasca reformasi, ia turut membidani lahirnya organisasi jihad lainnya; Majelis Mujahidin Indonesia (MMI).

Menurut Asman Abdullah, dalam “Radikalisasi Gerakan Jamaah Ansharut Tauhid Dan Pengaruh Isis Di Indonesia” (2018), tahun 2006 setelah keluar dari penjara, ABB berkeinginan mengubah struktur kelembagaan MMI, namun mendapat penentangan dari pimpinan lainnya. Keinginan ABB oleh sebagian pihak dianggap mengarah pada model dan konsep kepemimpinan Syiah. Sebaliknya, pendukung ABB menganggap tanzhim MMI bersifat sekuler karena menganut mekanisme demokrasi dengan sistem presidium dan peralihan kepemimpinan berkala. Ketidaksetujuannya dengan sistem organisasi ini membuatnya memisahkan diri dan mendirikan organisasi jihad baru bernama Jamaah Anshorut Tauhid (JAT) pada tahun 2008.

Abu Bakar Baasyir, bagaimana pun, pada tahun itu memiliki kharisma sebagai seorang tokoh gerakan jihad yang menarik bagi sebagian anak muda Muslim yang dilanda semangat revolusioner. Keberadaan ABB telah menjadi daya tarik tersendiri. Perkataanya diikuti; sekalipun sulit untuk mendapatkan dokumen-dokumen JAT, tetapi dapat mudah diterka bahwa ideologi organisasi ini tidak lain adalah pemikiran ABB itu sendiri. Pada tahun 2012-2013, terbit buku Tadzkirah II karya ABB. Buku ini adalah buku lama, tetapi dalam edisi yang diterbitkan JAT, ditambahkan beberapa tulisan Aman Abdurrahman, pemimpin Jamaah Tauhid Wal Jihad yang lebih radikal dibanding ABB. Aman Abdurrahman lebih keras dibanding ABB. Tidak heran jika para pengikut JAT, lebih radikal dibanding MMI. Inilah transformasi awal dari JAT menuju JAD (Jamaah Anshorut Daulah).

Pada 2014, dikabarkan Abu Bakar Baasyir berbaiat kepada pemimpin ISIS, Abu Bakar Al-Baghdadi. Tetapi, dalam laporan yang dikeluarkan oleh Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Kemenkumham, baiat itu memang terjadi, tetapi lebih didasari oleh paksaan kelompok narapidana kasus terorisme yang memaksanya. Bagaimana pun, di lapangan, baiat ABB telah mendorong sebagian anggota JAT untuk bergabung dengan ISIS di Timur Tengah dan membentuk organisasi yang menjadi wadah bagi pendukungnya.

Laporan Tempo (18/03/2015) menyebutkan bahwa Ketua Tim Advokasi Jemaah Ansharut Tauhid (JAT) Nanang Ainur Rofiq membenarkan adanya deklarasi sebagian anggota kelompoknya dan beberapa lembaga dakwah lain untuk mendukung Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS). Menurut dia, deklarasi itu dilakukan untuk membentuk suatu lembaga baru, yaitu Jemaah Ansharut Daulah (JAD). Bahkan, setahun kemudian, Nanang Ainur Rafiq dikabarkan tewas di Timur Tengah dalam barisan ISIS.

Di sisi lain, para anggota JAT yang enggan berbaiat kepada ISIS mendirikan organisasi jihad lain; Jamaah Anshorus Syariah (JAS) pada tahun 2014. Dua putera ABB bergabung dalam organisasi baru ini. Jika JAT yang kemudian menjadi salah satu pendukung JAD mendukung ISIS di Timur Tengah, maka JAS mendukung Al-Qaeda.

Dengan demikian, ada dua peran ABB dalam organisasi Jamaah Anshorut Tauhid (JAT). Pertama, sebagai ikon dan simbol gerakan jihad yang mampu menjadi daya tarik generasi muda Muslim bergabung dengan organisasi ini. Kedua, menjadi sumber pemikiran anggotanya melalui bukunya Tadzkirah II yang dijadikan dasar pandangan politik-keagamaan anggota JAT. Ketiga, menjadi jembatan para aktivis jihad yang berada dalam lingkarannya bergabung dengan organisasi jihad yang lebih radikal-brutal, Jamaah Anshorut Daulah (JAD) yang terafiliasi dengan ISIS.

Pada 2021, ABB telah bebas murni. Pada 2019, ada kabar bahwa Aman Abdurrahman mengkafirkan ABB karena bersedia mengajukan PK kepada pengadilan. Ini menjadi penanda pemutusan hubungan para jihadis dengan ABB yang dulu pernah diinspirasi olehnya. Dan tukang potong itu adalah Aman Abdurrahman, ideolog Jamaah Anshorut Daulah (JAD).

100%

2 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here