K.H. Abdurrohman Asnawi: Ini Enam Penyebab Seseorang Gagal dalam Menuntut Ilmu

0
1426

BincangSyariah.Com – Selain memperhatikan sebab kesuksesan, seorang santri juga harus tahu tentang sebab kegagalan dalam menuntut ilmu agama. Inilah yang menjadi salah satu pesan penting K.H. Abdurrohman Asnawi, Pengasuh PP. Talukagung, dalam pengajian bulanan yang diadakan Majelis Wakil Cabang (MWC) NU Kec. Cijati, Cianjur, Jawa Barat, Rabu (1/1/2020). (Dua Etika Seorang Santri dalam Menuntut Ilmu)

Dalam forum yang dibalut dengan pengajian kitab Tafsir Jalalain dan Fawa’idul Makkiyyah tersebut, Ajengan Abdurrohman menyebutkan setidaknya ada enam sebab seseorang gagal dalam menuntut ilmu agama.

“Ngandelaken hari esok. Gumantung pada kacardasan. Cacagnakaeun, mengaji sambil usaha, nyamper-nyamper jalma benghar, cicing dinu benghar.” Demikian kiai sepuh tersebut bertutur dalam bahasa Sunda yang kental.

Artinya, seorang santri jangan sampai menunda-nunda mengaji. Menunda ngaji di pesantren hanya akan menyebabkan seseorang menyesal karena ia akan kehilangan kesempatan. Belum tentu di esok hari kita sempat mengikuti pengajian. Seorang santri hendaknya tidak bergantung kepada kecerdasannya sendiri. Ia harus memperhatikan adab dan sopan santun kepada guru serta istiqamah dalam mengaji.

Cacagnakaeun artinya pindah-pindah pondok pesantren padahal belum menuntaskan satu kitab pun. Ini akan menyebabkan santri tidak memperoleh ilmu yang cukup. Mengaji sambil usaha juga menjadi sebab penting kegagalan belajar ilmu agama. Perlu totalitas, fokus dan konsentrasi dalam belajar agama.

Nyamper jalma benghar berarti mendatangi orang kaya untuk meminta-minta sumbangan. Ini juga dapat menjadi sebab kegagalan. Cicing dinu benghar berarti tinggal di rumah orang kaya. Terkadang hal itu akan membuat seorang santri terpalingkan semangat belajarnya dan terobsesi dengan kekayaan orang lain.

Karena itu, Ajengan Abdurrohman juga mengingatkan agar para kiai NU yang hadir dalam pengajian tersebut yang umumnya adalah pengasuh pesantren di desanya, agar menyampaikan kepada santrinya bahwa jangan sampai dalam hati terbersit ingin dapat derajat mulia di masyarakat ketika sedang mesantren. Selain itu, jangan putus harapan bagi santri yang kurang cerdas dan santri yang cerdas jangan sampai mengandalkan kecerdasannya sehingga jatuh dalam kesombongan.

Baca Juga :  Kisah Imam as-Syafii Mendamaikan Dua Pengikut Mazhab Besar

“Yang bodo, jangan putus harapan. Yang pintar, jangan andalkan kapintaran.” Demikian pungkas pengasuh pesantren tertua di kawasan Cianjur Selatan tersebut.

MWC NU Cijati, Cianjur telah aktif mengadakan kegiatan pengajian bulanan (syahriyahan) sejak dua tahun lalu. Kegiatan dilaksanakan sebulan sekali, biasanya pada awal bulan. Narasumber pengajian berganti-ganti demikian pula dengan materinya. Tetapi, yang pasti para narasumber adalah kiai-kiai sepuh di kawasan Cianjur Selatan serta materi adalah kitab kuning yang menjadi spesialisasi setiap kiai sepuh. Para peserta adalah para kiai pengasuh pondok pesantren yang lebih muda. Setiap kali diadakan, pesertanya tidak kurang dari 200 an orang kiai.

“Forum ini menjadi ajang tabarrukan dengan para kiai sepuh, selain memperkuat silaturahim antar kiai NU di kawasan Cianjur Selatan.” Demikian seperti dijelaskan oleh Rois Syuriah MWC NU Kec. Cijati, K.H. Sahlan Hidayat atau yang akrab disapa Ajengan Pelor. (Dudu Abdurrohman, M. Khoirul Huda)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here