Penjelasan Tokoh Sufi Imam al-Qusyairi Tentang Futuwwah

0
28

BincangSyariah.Com — Nama Imam al-Qusyairi (w. 465 H) tentu sudah tidak asing lagi di kalangan pengkaji ataupun peminat kajian tasawuf. Tokoh sufi kelahiran Khurasan, Iran, itu memiliki kitab tasawuf cukup masyhur berjudul al-Risaalah al-Qusyairiyyah.

Nah, di antara tema bahasan kitab tersebut tentang futuwwah. Lantas, sudahkah Anda paham apa yang dimaksud dengan futuwwah? Jika jawabannya adalah belum, maka ini bisa jadi alasan bagus untuk Anda membaca tuntas tulisan ini.

Bahasan tentang futuwwah bermula salah satunya dari firman Allah swt. dalam QS. Al-Kahfi [18]: 13.

نَحْنُ نَقُصُّ عَلَيْكَ نَبَاَهُمْ بِالْحَقِّ اِنَّهُمْ فِتْيَةٌ اٰمَنُوْا بِرَبِّهِمْ وَزِدْنٰهُمْ هُدًى

Kami ceritakan kepadamu (Muhammad) kisah mereka dengan sebenarnya. Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka, dan Kami tambahkan petunjuk kepada mereka.

Melalui ayat ini, Allah Swt. memulai uraian spesifik mengenai kisah Ashhabul Kahfi (pemuda-pemuda penghuni gua). Allah Swt. menerangkan bahwa sesungguhnya para pemuda penghuni gua itu merupakan kawula muda yang luar biasa. Mereka mampu mempertahankan keimanan di tengah mayoritas masyarakat mereka kala itu yang telah tenggelam dalam kemusyrikan.

Memang istilah futuwwah sendiri tidak dinyatakan secara gamblang di dalam Alquran maupun hadis nabi. Namun, istilah ini baru diperkenalkan kemudian oleh para salafuna ash-shalih (ulama-ulama terdahulu yang saleh).

Sayyid Muhammad Murtadha al-Husaini al-Zabidi (w. 1205 H) dalam kamusnya, Taaj al-‘Aruus min Jawaahir al-Qaamuus (39/213), menjabarkan dari aspek kebahasaan, kata futuwwah dan kata fityah dalam ayat tadi bersumber dari satu akar kata yang bermakna al-syabaab (kemudaan).

Selain itu, Sayyid al-Zabidi juga mengurutkan nama-nama ulama yang pertama-tama memperkenalkan istilah futuwwah ini. Mulai dari Imam Ja’far al-Shadiq (w. 148 H), Imam Fudhail bin ‘Iyadh (w. 187 H), Imam Ahmad bin Hanbal (w. 241 H) Imam Sahl al-Tustari (w. 283 H), hingga Imam Junaid al-Baghdadi (w. 297 H). Kendati demikian, kelima tokoh pelopor tersebut memiliki pandangan berbeda-beda menyangkut definisi futuwwah.

Imam al-Qusyairi dalam al-Risaalah al-Qusyairiyyah menampilkan definisi-definisi futuwwah menurut kelima ulama tersebut dan beberapa ulama sufi yang lain. Malah Imam al-Qusyairi mengawalinya dengan definisi futuwwah menurut guru tarekat sekaligus mertuanya bernama Syekh Abu Ali al-Daqqaq (w. 405 H). Menurutnya, pada dasarnya futuwwah itu suatu akhlak berupa kepedulian yang intensif terhadap orang lain.

Al-Daqqaq menambahkan bahwa kepedulian Rasulullah Saw. menjadi contoh akhlak futuwwah paling paripurna. Lantaran manakala nanti di akhirat seluruh manusia, bahkan para nabi sekalipun, mengurusi nasibnya masing-masing. Justru Rasulullah Saw. saat itu sibuk mengurusi nasib umatnya dan meringankan beban mereka dengan uluran syafaatnya, tentu hal itu atas seizin Allah Swt.

Selanjutnya, berikut definisi futuwwah menurut kelima ulama pelopornya tersebut, sesuai dengan penjelasan Imam al-Qusyairi dalam kitabnya, al-Risaalah al-Qusyairiyyah.

Futuwwah menurut Imam Ja’far al-Shadiq

سأل شقيق البلخي جعفر بن محمد عن الفتوة، فقال: ما تقول أنت؟ فقال شقيق: إن أعطينا شكرنا، وإن منعنا صبرنا.

Imam Ja’far al-Shadiq pernah ditanya tentang futuwwah oleh Syaqiq al-Balkhi (w. 194 H), seorang eksponen sufi kelahiran Balkh, Afghanistan. “Menurut kamu sendiri apa itu futuwwah?” ujar Imam Ja’far bertanya balik. Lalu, Imam Syaqiq menjawab, “Futuwwah itu bilamana kita diberi kita bersyukur, dan bilamana tidak diberi kita bersabar”.

فقال جعفر: الكلاب عندنا بالمدينة كذلك تفعل. فقال شقيق: يا ابن بنت رسول الله، ما الفتوة عندكم؟ فقال: إن أعطينا آثرنا، وإن منعنا شكرنا.

Imam Ja’far menanggapinya, “Wah, kalau begitu sih seekor anjing saja bisa berbuat begitu”. Imam Syaqiq lantas kembali bertanya, “Duhai anak cucu Rasulullah, kalau begitu apa sebetulnya futuwwah menurut Anda?” Kata Imam Ja’far, “Futuwwah itu kalau kita diberi kita menghargainya, dan jikapun tidak diberi ya kita mensyukurinya”.

Futuwwah menurut Imam Fudhail bin ‘Iyadh

الفضيل يقول: الفتوة الصفح عن عثرات الإخوان

Futuwwah itu adalah kebesaran hati untuk memaafkan segala kesalahan orang lain.

Futuwwah menurut Imam Ahmad bin Hanbal

سمعت أبا سهل بن زياد يقول: سمعت عبد الله بن أحمد بن حنبل يقول: سئل أبي: ما الفتوة؟ فقال: ترك ما تهوى لما تخشى

Jawaban Imam Ahmad bin Hanbal ketika ditanya mengenai futuwwah, yakni meninggalkan apa yang dikehendaki atau disukai demi sesuatu yang dikhawatirkan.

Pertanyaannya, apa lagi sesuatu yang patut dikhawatirkan selaku hamba Allah swt. selain kemurkaan-Nya. Dengan demikian, barangkali yang dimaksud dengan futuwwah menurut Imam Hanbali tersebut, yakni kemampuan diri dalam mengekang hawa nafsu untuk tidak melakukan hal ahwal yang mengundang murka Allah swt.

Futuwwah menurut Imam Sahl al-Tustari

وقال سهل بن عبد الله: الفتوة اتباع السنة

Mudahnya, futuwwah itu berarti mengikuti sunnah atau teladan hidup Rasulullah Saw.

Futuwwah menurut Imam Junaid al-Baghdadi

وسئل الجنيد عن الفتوة، فقال: أن لا تنافر فقيرا ولا تعارض غنيا.

Imam Junaid al-Baghdadi juga pernah ditanyakan mengenai futuwwah. Dan jawabnya, “Hendaknya Anda tidak membanggakan diri atas orang fakir dan tidak pula menjauh dari orang kaya”.

وقال الجنيد: الفتوة كف الأذى وبذل الندى.

Pada kesempatan yang lain, Imam Junaid mendefinisikan futuwwah sebagai tindakan menahan diri dari perbuatan mengganggu atau menyakiti sesama, dan mendorong diri agar banyak bederma kepada sesama.

Selain definisi-definisi di atas, terdapat satu definisi lain tentang futuwwah yang juga dipaparkan oleh Imam al-Qusyairi dalam al-Risaalah al-Qusyairiyyah, dan definisi tersebut cukup menarik untuk ditambahkan di sini.

وقيل لبعضهم: ما الفتوة؟ فقال: أن لايميز بين أن يأكل عنده ولي أو كافر.

Menurut sebagian ulama tasawuf, futuwwah ialah manakala seseorang sudah mampu untuk tidak lagi membeda-bedakan makan bersama wali ataupun bersama non-muslim.

Imam al-Qusyairi mengukuhkan definisi futuwwah satu ini dengan kisah klasik Nabi Ibrahim bersama seorang majusi (pengikut agama pemuja api di Persia Kuno). Dikisahkan suatu ketika seorang majusi meminta makan kepada sosok nabi yang dikenal loyal memberi makan orang itu.

Akan tetapi, Nabi Ibrahim tidak langsung memberinya makan dan terlebih dahulu mengajukan satu syarat. Syaratnya orang majusi itu harus masuk Islam terlebih dahulu, baru kemudian Nabi Ibrahim akan memberinya makanan.

Sayangnya orang majusi itu enggan memenuhi syarat tersebut dan langsung berpaling meninggalkan Nabi Ibrahim. Tidak berselang setelah itu, Allah Swt. menurunkan wahyu kepada Nabi Ibrahim yang isinya memprotes tindakannya tadi. Allah Swt. berfirman,

“Selama lima puluh tahun dia hidup dalam kekufuran kepada-Ku, namun selama itu pula Aku tetap memberinya makan. Sedangkan engkau, untuk memberinya sesuap makanan saja sampai mengharuskannya untuk mengganti agamanya?”

Seusai mendapat teguran itu, Nabi Ibrahim buru-buru mengejar orang majusi tadi dan langsung meminta maaf atas kekhilafannya tersebut. Orang majusi itu pun merasa aneh dengan perubahan sikap Nabi Ibrahim dan mempertanyakannya.

Nabi Ibrahim pun membeberkan wahyu berupa teguran yang telah ia terima dari Allah Swt.. Orang majusi tersebut akhirnya masuk Islam karena terketuk hatinya mendengar kenyataan itu.

Akhirnya, itulah beberapa definisi futuwwah yang dijelaskan oleh Imam al-Qusyairi dalam Kitab al-Risaalah al-Qusyairiyyah. Meski tidak semua definisi tentang futuwwah dalam kitab tersebut dapat dipaparkan di sini, setidaknya terdapat nilai positif yang dapat diresapi sebagai pelajaran dalam kehidupan sehari-hari.

Termasuk definisi futuwwah yang disebut terakhir tadi berupa nilai-nilai anti-diskrimansi di antara sesama, meskipun yang notabene berbeda agama. Wallahu a’lam bish-shawab.

(Baca: Biografi Ibnu Arabi: Sosok Sufi dan Filosof Besar dari Spanyol)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here