Pengorbanan Diri dan Kiat Memaafkan

1
61

BincangSyariah.Com – Dalam sebuah kesempatan, sebagaimana termaktub di dalam Jejak-jejak Para Sufi yang dituliskan oleh Imam Musbikin dan Miftahul Asror, saat Abu Hafshin al-Haddad, seorang tokoh sufi terkenal asal Khurasan, berniat ingin melaksanakan ibadah haji ke tanah suci, ia menyempatkan dirinya untuk sejenak singgah di kota Baghdad. (Baca: Menyembelih Sifat Hewani dalam Diri Kita)

Persinggahan ini bukan tanpa tujuan. Meskipun ia terkenal sebagai ulama yang fasih dalam berbahasa Arab, namun tetap saja, berkat kerendahan hatinya, ia selalu merasa bahwa apa yang ia ketahui masih belum memenuhi kriteria sebagai seorang yang fasih.  Untuk tujuan tersebut, ia berniat mengujungi Syekh Junaedi , seorang tokoh sufi yang sangat terkenal di kota tersebut untuk memperdalam pengetahuannya mengenai bahasa Arab.

Tak ayal, mendengar kabar tersebut, Syekh Junaedi merasa gembira yang tiada tara. Dengan sesegera mungkin, ia memerintahkan kepada para muridnya untuk menyambut kedatangan Abu Hafshin al-Haddad. Mengetahui bahwa tamu yang akan disambut merupakan tokoh sufi besar namun tidak terlalu memahami bahasa Arab, salah seorang dari para murid tersebut pun mulai membuka pembicaraan untuk mencibir hal tersebut.

“Memalukan! Ternyata Abu Hafshin al-Haddad, yang katanya seorang guru besar sufi namun masih saja memerlukan juru bahasa untuk memahami bahasanya sendiri”, kata dari salah seorang murid Syekh Junaedi.

Sebagai seorang yang memiliki keilmuan yang tinggi, tentunya Abu Hafshin al-Haddad mengetahui apa yang sedang dipikirkan oleh para murid Syekh Junaedi tersebut. Tanpa di sangka, setibanya Abu Hafshin al-Haddad di majelis dan bertemu Syekh Junaedi, para murid tersebut dibuat terkejut menyaksikan begitu fasihnya Abu Hafshin al-Haddad ketika berbincang menggunakan Bahasa Arab dengan gurunya, Syekh Junaedi.

Baca Juga :  Tafsir Surah al-Sajdah Ayat 17; Allah Tak Akan Melalaikan Amal Perbuatan Makhluk-Nya

Mengetahui hal tersebut, setelah selesai melakukan penyambutan kepada Abu Hafshin al-Haddad, para murid Syekh Junaedi pun berkumpul mengelilingi Abu Hafshin al-Haddad dan Syekh Junaedi. Mereka menanyakan prihal cinta yang telah menyebabkan setiap manusia rela untuk mengorbankan dirinya.

“Engkau lebih fasih dalam berbicara, maka jawablah pertanyaan tersebut”, kata Abu Hafshin al-Haddad sembari menghadapkan pandangannya kepada Syekh Junaedi.

“Jika kita benar-benar mengorbankan diri sendiri, maka kita tidak akan beranggapan bahwa kita telah mengorbankan diri dan membanggakan segala perbuatan yang telah kita lakukan”, jawab Syekh Junaedi.

“Hebat sekali! Tetapi menurutku, apa yang dimaksud mengorbankan diri adalah ketika kita berlaku adil kepada orang lain dan tidak mengharapkan adanya balasan agar orang lain berlaku adil jga kepada diri kita sendiri”, tambah Abu Hafshin al-Haddad.

“Laksanakan petuah ini!”, seru Syekh Junaedi kepada para muridnya.

“Pelaksanaan yang benar jauh lebih sulit dari apa yang telah saya katakan tadi, wahai Syekh Junaedi”, lanjut Abu Hafshin al-Haddad.

Mendegar petuah tersebut, Syekh Junaedi kembali berseru kepada muridnya, “Bangkitlah! Di dalam pengorbanan diri sendiri, Abu Hafshin al-Haddad telah melebih Adam beserta cucunya”.

Setelah sempat beberapa saat Abu Hafshin al-Haddad memperdalam keilmuannya di majelis Syekh Junaedi, ia pun kembali melanjutkan perjalannanya menuju Mekkah dan Madinah untuk melaksanakan ibadah haji. Setelah menyelesaikan rangkaian ibadah haji, Abu Hafshin al-Haddad kembali menyempatkan dirinya untuk mengunjungi Syekh Junaedi di kota Baghdad.

Penyambutan yang sama kembali dihadirkan oleh Syekh Junaedi dan para muridnya saat kedatangan Abu Hafshin al-Haddad. “Wahai Syekh, adakah oleh-oleh yang engkau bawa untuk kami?”, tanya salah seorang murid Syekh Junaedi.

Sembari melontarkan senyuman hangat, Abu Hafshin al-Haddad mengatakan, “Yang hendak aku katakan inilah oleh-oleh yang kubawakan untuk kalian. Mungkin di antara kita terdapat perasaan tidak sanggup dalam menghadapi kehidupan ini sebagaimana seharusnya? Jika tingkah lakunya tidak selaras dengan apa yang engkau kehendaki, maka carilah dalam dirimu sebuah alasan untuk memaafkannya. Lalu maafkanlah kesalahannya itu”.

Baca Juga :  Begini Cara Menjamu Tamu yang Baik Menurut Abu Hafshin Al-Hadad

Syekh Junaedi dan para muridnya dengan seksama memperhatikan setiap kata yang dikeluarkan oleh Abu Hafshin al-Haddad.

“Bila kesalahan tersebut tidak dapat dihilangkan karena maaf itu, sedang engkau pada dasarnya berada di pihak yang benar, cari pula alasan lain untuk kembali memaafkannya lalu maafkanlah kesalahannya itu. Bila masih juga tidak dapat dihilangkan, carilah kembali alasan lain untuk memaafkannya meskipun mencapai empat puluh kali”, lanjutnya.

“Bila masih juga tidak kita dapati kata maaf untuk kesalahan orang lain tersebut, meskipun telah mencapai empat puluh kali banyaknya, maka duduklah dan berkatalah kepada dirimu sendiri: Betapa kerasnya kepala dan hatimu! Betapa buruknya kelakuanmu dan betapa sombongnya dirimu! Saudaramu telah mengajukan empat puluh alasan untuk dapat dimaafkan kesalahannya, tetapi engkau menolak alasan-alasan tersebut dan tetapi membencinya. Aku berlepas tangan terhadapmu. Perbuatlah semaumu!”, paparnya.

Syekh Junaedi dan para muridnya hanya bisa diam dan terkagum dengan penjelasan Abu Hafshin al-Haddad.

“Tetapi siapakah yang sekiranya mempunya kekuatan seperti itu?” Semoga kita termasuk orang  yang demikian. Wallahu’alam

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here