Pengantar Tafsir Surah an-Nisa; Sejarah dan Kandungan Surah

0
736

BincangSyariah.Com – Surah An-Nisa adalah jenis surah Madaniyah; surah yang diturunkan setelah Nabi saw. hijrah ke Madinah. Hal ini sebagaimana disampaikan dalam hadis riwayat sayyidah Aisyah r.a., ia berkata, “Tidaklah surah An-Nisa turun kecuali aku bersama dengan Rasulullah saw.” (H.R. Al-Bukhari). Sementara itu, kehidupan sayyidah Aisyah r.a. bersama Nabi saw. dimulai pada bulan Syawal di tahun pertama Hijriyah. (Baca: Keutamaan dan Intisari Surah An-Nisa)

Surah ini berjumlah 176 ayat. Ia terdapat dalam urutan keempat dalam Al-Qur’an menurut tartib mushafi, yakni setelah surah Ali Imran dan sebelum surah Al-Ma’idah. Namun, terjadi perbedaan pendapat di kalangan peneliti studi Al-Qur’an tentang urutan surah An-Nisa sesuai turunnya (tartib nuzuli).

Menurut Noldeke; seorang orientalis Jerman menyebutkan bahwa surah An-Nisa berada pada urutan ke- 99, yang diturunkan setelah surah As-Shaff sebelum At-Talaq.  Sementara itu, Al-Jabiri; sarjana muslim asal Maroko menyebutkan bahwa surah An-Nisa tartib nuzulinya berada pada urutan ke- 97, setelah Al-Mumtahanah sebelum surah Al-Hadid.

Sedangkan Ibn Qarnas mengatakan bahwa surah An-Nisa diturunkan pada urutan ke- 96 setelah surah Al-Baqarah dan sebelum surah Al-Maun. Adapun menurut Izzat Darwazah; ilmuwan muslim asal Palestina mengatakan bahwa surah An-Nisa menempati pada urutan ke 98 setelah surah Al-Ahzab dan sebelum surah Muhammad.

Surah An-Nisa ini tergolong tujuh surah yang panjang. Al-Hafidz Ibnu Hajar mengatakan, At-Thabari meriwayatkan dengan sanad shahih, dari Ibnu Abbas bahwa As-Sab’ul Matsani adalah tujuh surah yang panjang, yaitu awal surah Al-Baqarah sampai akhir surah Al-A’raf kemudian At-Taubah. Ada yang mengatakan surah Yunus.

Menurut Hasan bin Ali As-Saqqaf dalam bukunya Mukjizat surah-surah Al-Qur’an (terj. Nurdin Lubis) mengatakan bahwa tujuh surah yang panjang itu adalah Al-Baqarah, Ali Imran, An-Nisa, Al-Maidah, Al-An’am, Al-A’raf, Al-Anfal, dan Bara’ah (Surah At-Taubah).

Baca Juga :  Dalam Islam, Seperti Apa Potret Orang Paling Pemaaf?

Terkait penamaan surah ini, Syekh Muhammad Ali Ash-Shabuni dalam kitab Shafwatut Tafasir menyampaikan, surah An-Nisa disebut An-Nisa karena di dalamnya terdapat banyak hukum-hukum yang berhubungan dengan perempuan yang tidak ditemukan yang sama dengan surah-surah lainnya. Oleh karena itu, ia disebut dengan surah An-Nisa Al-Kubra yang berbandingan dengan surah An-Nisa As-Shughra yang dikenal di dalam Al-Qur’an dengan nama surah At-Thalaq.

Keutamaan Surah an-Nisa

Adapun di antara keutamaan-keutamaan surah An-Nisa adalah sebagai berikut. Dari Abdurrahman bin Abdullah bin Mas’ud r.a., ia berkata, “Sesungguhnya di dalam surah An-Nisa ada lima ayat yang dapat membuatku bahagia di dunia dan seisinya, ayat itu adalah “Inna Allaha laa yadhlimu mitsqaala dzarrah… (40), in tajtanibuu kabaaira maa tunhauna ‘anhu… (31), inna Allaha laa yaghfiru ay yusyraka bihi… (116), yaghfiru maa duuna dzaalika limay yasyaa’… (48), walau annahum idz dzalamuu anfusahum jaauka… (64) (H.R. Al-Hakim)

Dari Aisyah r.a., Rasulullah saw. bersabda, “Barangsiapa membaca tujuh surah yang pertama, maka dia adalah orang yang shaleh.” (H.R. Ahmad)

Dari Abdullah bin Mas’ud r.a., ia mengatakan, Rasulullah saw. bersabda kepadaku, “Bacakanlah Al-Qur’an untukku.” “Apakah saya benar-benar membacakan Al-Qur’an kepada Anda, sedangkan ia diturunkan kepada Anda?” Kataku. “Benar”. Kata Rasulullah saw. Kemudian aku membaca Surah An-Nisa hingga aku sampai pada ayat fakaifa idza ji’na min kulli ummatin…. “Sudah cukup sekarang..” Pinta beliau. Aku melihat kedua mata beliau meneteskan air mata.” (H.R. Al-Bukhari)

Dari sayyidina Ali bin Ali Thalib r.a. dari sayyidina Abu Bakr r.a., Rasulullah saw. bersabda, “Tidakkah seorang muslim melakukan dosa lantas dia berwudu dan shalat dua rakaat kemudian meminta ampunan kepada Allah atas dosanya itu, dan membaca dua ayat berikut ini melainkan Allah mengampuninya. Dua ayat ini adalah wa may ya’mal su’an au yudzlim nafsahu tsumma yastaghfirillaha yajidillaha ghafurar rahima (Q.S. An-Nisa (4): 110 dan walladzina idza fa’alu fahisyatan au zhalamu anfusahum dzakarullaha fas taghfaruu lidzunuubihim, wa may yaghfirudz dzunuba illallah, walam yushirru ala ma fa’aluu wahum wa’lamuun. (Q.S. Ali Imran (3): 135).” (H.R. Ahmad dan At-Tirmidzi)

Baca Juga :  Menguak Sisi Hermetisme dalam Doktrin Trinitas Kristen

Keterkaiatan Surah an-Nisa dengan Surah Ali Imran:

Menurut Syekh Wahbah Az-Zuhaili di dalam kitab At-Tafsir Al-Munir menerangkan bahwa ada beberapa hal yang dapat menghubungkan antara surah An-Nisa dengan surah Ali ‘Imran.

Pertama, surah Ali Imran diakhiri dengan perintah kepada orang-orang mukmin untuk bertaqwa, sedangkan surah An-Nisa dimulai dengan perintah kepada seluruh manusia untuk bertaqwa.

Kedua, turunnya ayat famaa lakum fil munaafiqiina fiatain…(Q.S. An-Nisa/88) berhubungan dengan perang Uhud, dan turunnya enam puluh ayat dalam perang Uhud ini terdapat di dalam Surah Ali Imran.

Ketiga, turunnya ayat wa laa tahinuu fibtighaail qauum… (Q.S. An-Nisa/104) berhubungan dengan perang Hamra’ul Asad yang turun setelah turunnya ayat-ayat alladzinas tajaabuu lillahi war rasuuli mim ba’di maa ashaabahumul qarh… dalam perang itu yang terdapat dalam surah Ali Imran (172-175)

Kandungan Surah an-Nisa

Menurut Abu Nizhan dalam bukunya Mutiara Shahih Asbabun Nuzul menyebutkan bahwa surah ini merupakan termasuk surah yang paling sosial. Hal ini disebabkan karena di dalamnya dibahas mengenai pembentukan masyarakat Islam, baik secara skala kecil yakni mengenai keluarga, dengan disebutkannya hukum-hukum mengenai perempuan, hak, dan kewajiban suami istri juga tentang wasiat. Maupun skala besar, yaitu masyarakat Islam, dengan diterangkannya pondasi masyarakat Islam berdasarkan asas saling mengasihi, saling melengkapi dan saling menasihat.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here