Pengantar Tafsir Surah Al-Waqi’ah: Kandungan dan Keutamaan

1
4412

BincangSyariah.Com – Al-Waqi’ah berasal dari kata dasar wa-qa-‘a yang menurut Ibnu Manzhur dalam Lisan al-‘Arab bermakna dasar ‘jatuh (saqatha), terjadi (ashaba), dan turun (nazala)’. Sedangkan kata al-Waqi’ah sendiri menurut Abu Ishaq yang dikutip Ibnu Manzhur telah menjadi salah satu nama untuk menyebutkan Hari Kiamat (Ismun min Asma’ Yaum al-Qiyamah). (Baca: Empat Keutamaan Surah Al-Waqiah)

Dalam mushaf al-Quran yang kita kenal, surah al-Waqi’ah ini terletak pada urutan ke-56 setelah surah al-Rahman dan sebelum surah al-Hadid. Namun dalam catatan Ibnu ‘Asyur yang mengutip pendapat Jabin bin Zaid, jika menyesuaikan dengan urutan turunnya wahyu (tartib nuzul) maka surah al-Waqi’ah ini berada pada urutan ke 46. Turun setelah surah Thaha dan sebelum surah al-Syu’ara.

Dalam surah al-Waqi’ah yang kita kenal, jumlah ayatnya adalah 96 ayat. Akan tetapi menurut Ibnu ‘Asyur terjadi perbedaan pendapat di kalangan ulama ahli qiraat. Ulama Madinah, Mekah, dan Syam sepakat bahwa surah al-Waqi’ah berjumlah 99 ayat, Ulama Bashrah 97 ayat, sedangkan Ulama Kufah menghitung surah ini berjumlah 96 ayat. Adapun al-Qurthubi dalam tafsirnya al-Jami’ li Ahkam al-Quran memilih pendapat bahwa surah ini berjumlah 97 ayat. (Baca: Telaah Hadis: Benarkah Kematian Mendadak adalah Tanda Kiamat?)

Meskipun terdapat berbedaan pendapat tentang jumlah ayat, namun perlu diketahui bahwa jumlah ini tidak berpengaruh pada keseluruhan konten surah. Perbedaan ini hanya perbedaan hitungan saja. Misalnya Ulama Bashrah menghitung pada suatu ayat terdapat tanda baca waqaf, sedangkan Ulama Syam menghitungnya sebagai satu ayat. Maka bagi Ulama Bashrah ayat tersebut adalah satu ayat, sedangkan bagi Ulama Syam ayat itu dihitung dua ayat. Perlu diingat pula bahwa yang dimaksud dengan Ulama-Ulama disini bukan Ulama pada masa sekarang ketika mushaf al-Quran telah dicetak sedemikian luas, akan tetapi Ulama Ahli Qiraat yang masyhur pada masa abad-abad pertama hingga ketiga hijriah.

Baca Juga :  Kisah Cucu Nabi Saw. Makan Bersama Orang-Orang Miskin di Pinggir Jalan

Surah ini secara keseluruhan diturunkan di Mekah dan termasuk dalam kategori surah Makkiyyah. Hanya beberapa ayat yang turun di luar Mekah seperti kata Ibnu ‘Abbas bahwa ayat 81-82 (afabihadza al-haditsi antum mudhinun wa taj’aluuna rizqakum annakum tukadzdzibuun) turun di Madinah dan kata al-Kalbiy dua ayat lain turun di luar Mekah yaitu ayat 39-40. Begitulah keterangan yang dicatat Imam al-Qurthubi dalam tafsirnya.

Ibnu ‘Asyur dalam pendahuluan tafsir surah al-Waqi’ah menjelaskan beberapa kandungan yang terdapat dalam surah ini. Pertama, sebagai pengingat (al-tadzkir) Hari Kiamat, menegaskan kebenaran akan datangnya hari tersebut, dan gambaran keadaan alam semesta ketika terjadinya Kiamat. Kedua, karakter yang melekat pada penduduk surga dan sebagian deskripsi nikmat-nikmat di dalam surga.

Ketiga, karakter orang-orang ahli neraka dan siksaan yang akan menimpa mereka ketika di neraka sebagai akibat dari ketidakpercayaan mereka terhadap Hari Kebangkitan. Keempat, menunjukkan bukti-bukti Kuasa Allah SWT dan menerangkan bahwa ketika manusia dicabut nyawanya oleh Allah SWT mereka takut dan tidak akan mampu untuk mencegahnya. Terakhir, menguatkan bahwa Al-Qur’an adalah benar-benar Firman Allah SWT yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw sebagai nikmat dan mukjizat yang utama.

Kandungan surah al-Waqi’ah di atas dikonfirmasi juga oleh Imam al-Qurthubi yang mengutip pendapat Masruq yang berkata,

مَنْ أَرَادَ أَنْ يَعْلَمَ نَبَأً الْأَوَّلِينَ وَالْآخِرِينَ وَنَبَأً أَهْلِ الْجَنَّةِ وَنَبَأً أَهْلِ النَّارِ وَنَبَأً أَهْلِ الدُّنْيَا وَنَبَأً أَهْلِ الْآخِرَةِ فَلْيَقْرَأْ سُورَةَ الْوَاقِعَة

“Siapa yang ingin mengetahui berita permulaan dan akhir, berita tentang penduduk surga, berita tentang penduduk neraka, dan berita tentang akhirat, maka bacalah surah al-Waqi’ah.”

Kemudian terkait dengan keutamaan surah al-Waqi’ah, kita dapat menemukan beberapa riwayat yang dikutip para mufassir dalam kitab-kitab tafsir mereka. Ibnu Katsir dalam Tafsir al-Quran al-‘Adzim meriwayatkan sebuah hadis populer dari al-Hafidz ibnu ‘Asakir bahwa ketika Abdullah bin Mas’ud sakit keras hingga mendekati ajal, Usman bin Affan menjenguknya.

Baca Juga :  Mengapa Ulama Merutinkan Baca Surah Al-Waqi‘ah untuk Kelancaran Rezeki? Ini Penjelasan Imam al-Ghazali

Usman bin Affan bertanya, “Apa yang menyebabkanmu sedih?” Ibnu Mas’ud menjawab, “Dosa-dosaku.”

Usman bertanya lagi, “Apa yang menyebabkanmu gembira?” Ibnu Mas’ud menjawab, “Rahmat Allah Swt.”

“Bolehkan aku memberikanmu hadiah?” Tanya Usman. Dijawab Ibnu Mas’ud, “Aku tidak membutuhkannya.”

Usman pun bertanya, “Adakah harta yang disimpan anak-anak perempuanmu setelah engkau tiada?”

Ibnu Mas’ud berkata,”Apakah engkau mengkhawatirkan anak-anakku jatuh miskin? Aku telah menyuruh mereka untuk membaca surah al-Waqi’ah setiap malam. Sungguh aku telah mendengar Rasulullah Saw bersabda,

مَنْ قَرَأَ سُورَةَ الْوَاقِعَةِ كُلَّ لَيْلَةٍ لَمْ تُصِبْهُ فَاقَةٌ أَبَدًا

“Barangsiapa membaca surah al-Waqi’ah setiap malam, maka selamanya ia tidak akan melarat.”

Dalam hadis lain yang terdapat dalam kitab Musnad Imam Ahmad bin Hanbal dari Jabir bin Samurah dikatakan bahwasanya Rasulullah Saw membaca surah al-Waqi’ah di setiap waktu fajar. Wallahu A’lam.

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here