Pengalaman Uzlah Imam al-Ghazali

0
19

BincangSyariah.Com – Praktik kesufian menurut Al-Ghazali harus dilalui dengan uzlah (menyendiri), khalwat (menyepi), riyadhah (olah jiwa), dan mujahadah (sungguh-sungguh) demi memperbaiki hati dan akhlak agar selalu ingat Allah swt, sehingga dapat merasakan (dzauq) hasil yang dilakukan. Mengenai hal ini, kita perlu mempelajari pengalaman uzlah Imam al-Ghazali.

Pengalaman uzlah Imam Al-Ghazali itu dialami setelah beberapa waktu menjadi rektor Universitas  Nidzhamiyah. Adapun Universitas Nidzhamiyah ini dibangun bulan Dzulhijjah tahun 457 H. yang teletak di daerah al-Rusafa di kota Baghdad. Univeristas Ini didirikan oleh Wazir Nizham al-Mulk pada masa Pemerintahan Khalifah Abu Ja’far Abdullah al-Qa’im bi-Amrillah.

Di dalam kitab Thabaqah as-Syafiiyah, dikisahkan Suatu hari, Imam al-Ghazali didera kebingungan dan keresahan yang berat dalam. Beliau berpikir, “Selama ini, aku sudah banyak sekali mengarang kitab, mengajarkan ilmu dan melayani umat dengan pendidikan yang tujuannya hanya untuk mendapatkan pahala dari Allah.” Namun pikiran yang dirasakan oleh al-Ghazali muncul setelah diangkat menjadi rektor Universitas Nidzhamiyah oleh raja al-Wazir Nidzam al-Mulk pada waktu itu.

Setelah mengalami kegundahan tersebut, al-Ghazali mengambil sikap uzlah dan khalwat sebagai proses penyucian sifat-sifat tercela menuju kebeningan hati. Dia sadar, selama menjadi idola dan orang yang terpandang, bahwa kedudukan dan kemewahan bagian dari orientasi hidupnya.

Karena perihal itu, setelah hampir sepuluh tahun uzlah, al-Ghazali merasakan sesuatu hal yang baru saat kembali dari uzlah ke Naisaburi, menjadi tenaga pengajar. Dalam uzlah beliau membawa istrinya serta anak-anaknya untuk meninggalkan hal-hal yang bersifat duniawi dan konsentrasi beribadah kepada Allah swt.

Dalam kitabnya al-Munqidz, Al-Ghazali menjelaskan proses uzlahnya tersebut. Dia meraskan hal baru yang tidak beliau rasakan ketika masih di Baghdad. Jiwa al-Ghazali tidak lagi mencari kedudukan, gelar, harta, dan pengaruhnya. Dirinya bersandar pada kalimat laa haula wa laa quwwata illa billah. ‘Aku tidak berdaya. Dialah yang menggerakkan jiwa dan ragaku.’

Waktu Imam al-Ghazali uzlah, hari-harinya dihabiskan untuk iktikaf di masjid al-Aqsha. Pada waktu itu Imam al-Ghazali sudah begitu terkenal di banyak negara Islam sebab dia adalah Murid Imam Haramain yang paling cerdas dan cemerlang. Kemasyhuran Imam al-Ghazali pun sampai ke Palestina ditempat dia menjalani prosess uzlah.

Saat uzlah di Palestina, beliau mendengar ada pengajian seorang ustadz, di dalam pengajiannya ustadz itu sering sekali mengutarakan pendapat-pendapat Imam al-Ghazali. Karena merasa khawatir keberadaanya di masjid al-Aqsha akan ketahuan sehingga bisa menganggu proses uzlahnya, maka Imam al-Ghazali pun pergi meninggalkan masjdi al-Aqsha kemudian mencari tempat yang lebih sepi. Pada akhirnya pun dia pergi sebuah hutan, agar tidak diketahui oleh orang dan proses uzlah dia tidak terganggu.

Selama pengasingan itu, Imam al-Ghazali telah merampungkan sebuah kitab seperti kitab Minhaj al-Abidin serta tidak lupa kitab yang fenomenal yang di akui kehebatannya oleh ulama-ulama dunia sebagai kitab yang sangat lengkap, yakni Kitab Ihya’ al-‘Ulum al-Din.

Bagi Imam al-Ghazali, sebagaimana tercantum dalam kitabnya Sirajuth-Thalibin, uzlah adalah sebuah proses netralisasi diri dari kekagetan salik yang akan menemukan rahasia yang tak terhingga sebagai tahap awal menuju maqam musyahadah (penyaksian yang haq) kemudian meningkat menuju maqam mukasyafah (tersingkapnya hijab).

Itulah pengalaman Imam al-Ghazali dalam mengapai derajat tinggi di sisi Allah. Dulu Imam al-Ghazali senang berkumpul dengan para pejabat, orang kaya, akademisi dan orang-orang terpandang. Setelah melakukan proses uzlah beliau mejaga jarak dengan mereka demi kedekan dan kecintaannya kepada Allah swt.

Demikian penjelasan singkat tentang perjalanan uzlah sang Hujjatul Islam Imam al-Ghazali. Semoga bermanfaat.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here