Pengalaman Spiritual Ulama Terkait Ziarah Kubur

0
717

BincangSyariah.Com – Rasulullah saw. bersabda, “zawwarû al-qubûr fa innahâ tazkirakum al-âkhirah” (berziarahlah kalian ke kuburan, karena hal itu akan mengingatkan kalian terhadap akhirat). Oleh karena itu, Imam ‘Abd al-Wahhâb asy-Sya’rânî menyebutkan dalam Tanbîh al-Mugattarîn (hlm. 42) bahwa ziarah yang dilakukan oleh orang-orang saleh (salaf aṣ-ṣâliḥ) dalam rangka mengamalkan sabda Nabi saw. tersebut.

Berbeda dengan kebanyakan orang yang berziarah hanya karena kebiasaan (adat) semata, seperti ziarah setiap hari Jumat atau setiap bulan sekali karena merasa tidak enak pada ahli kubur. Apalagi dia (ahli kubur) masih memiliki hubungan keluarga yang sangat erat, seperti orang tua, istri atau suami, anak, dan sanak saudara.

Pun demikian, menurut Imam asy-Sya’rânî, masih ada beberapa orang yang mengamalkan hadis itu ketika ziarah kubur, seperti Muhammad bin ‘Annân yang berziarah setiap hari Jumat ke makam orang-orang yang dikenal dan orang-orang yang tidak dikenal, di mana beliau langsung menangis ketika melihat kuburan sembari membaca zikir yang berkaitan dengan ziarah kubur, sebagaimana diajarkan oleh Rasulullah saw.

Kemudian beliau berkata, “semua ahli kubur ini sejatinya ingin sekali mengerjakan salat meskipun hanya dua rakaat atau mengucapkan kalimat Lâ Ilâha Illâ Allâh walau hanya sekali. Oleh karena itu, gunakanlah sisa umur kalian untuk berbakti kepada Allah dan berbuat kebaikan kepada sesama.”

Begitu juga dengan Yazîd ar-Raqâsyî ketika ziarah kubur langsung menangis sambil berkata, “Rambutku sudah tampak tua. Amal apa yang kalian punya, sehingga bisa bergembira dan senang dalam hidup ini?” Lalu, beliau berteriak seperti teriakan sapi jantan. Berbeda dengan Hisyâm ad-Dustuwâî ketika selesai ziarah kubur, di mana beliau langsung pulang ke rumahnya dan tinggal beberapa hari tanpa menyalakan lampu.

Baca Juga :  Ulama dalam Perumpamaan Pohon

Hal ini dilakukan karena ingin mengingat keadaan dalam kubur yang gelap-gulita. Sementara Ḥasan al-Baṣrî yang pernah menegur seorang laki-laki yang sedang tertawa di kuburan seraya berkata, “apakah belum cukup bagimu Nabi Muhammad saw. yang membenci perbuatan semacam itu?”

Berat memang melakukan ziarah kubur semacam ini, kecuali bagi orang-orang khusus, seperti yang telah disebutkan tadi. Namun demikian, minimal ziarah kubur yang kita lakukan bukan untuk mencari kekayaan dan jabatan—apalagi meminta nomor (judi), sebagaimana yang sering dilakukan oleh beberapa orang, tetapi dalam rangka beribadah kepada Allah, seperti tahlil, membaca Alquran, zikir dan salawat, baik untuk mendokan ahli kubur, diri sendiri, keluarga maupun sanak saudara, dan mengingat bahwa suatu ketika kita akan dikubur dalam tanah seorang diri seperti mereka.

Sehingga tidak ada jalan lain bagi kita kecuali berbakti kepada Allah dan memperbanyak amal baik sebagai bekal di alam barzakh nanti. Mau tidak mau, ajal pasti akan menjemput kita kelak. Tubuh yang dipuja-puja ini pada waktunya akan menjadi bangkai dan santapan ulat tanah. Tidak ada yang abadi kecuali amal baik yang diterima oleh Allah swt.

Ingat pesan Sayyidinâ Lukman al-Hakim ra. kepada putra-putranya, sebagaimana disebutkan oleh Imam Muḥammad Nawâwî bin Umar al-Jâwî dalam Syarḥ Naṣâ’ih al-‘Ibâd, “Duhai anak-anakku, sesungguhnya manusia terbagi menjadi tiga bagian. Sepertiga pertama untuk Allah, yaitu ruhnya. Sepertiga kedua untuk dirinya, yaitu perbuatannya (baik ataupun buruk) yang pernah dilakukan ketika masih hidup dan sepertiga terakhir untuk ulat, yaitu tubuhnya.”

Apalagi kuburan tidak mengenal pangkat dan nasab, sebagaimana dipahami dari cerita wafatnya putri tercinta Nabi saw., Siti Fatimah az-Zahrâ’ ra. yang disebutkan oleh Imam Nawawî al-Jâwî dalam Nûr aẓ-Ẓalâm (hlm. 30). Dijelaskan bahwa yang membawa jenazah beliau ke tempat pemakaman adalah suaminya, Sayyidina Ali ra., kedua putranya, Hasan dan Husain ra., dan sahabat Abi Darrin al-Gifari ra. Sebelum beliau dikubur, sahabat Abi Darrin ra. menyempatkan diri berpesan kepada liang lahad yang akan ditempati jasad Siti Fatimah ra. seraya berkata, “wahai kuburan, taukah kamu, jasad siapa yang kami bawa ini? Beliau adalah putri Rasulullah saw., dan istrinya Sayyidina Ali al-Murtaḍâ ra. serta ibunya Sayyidina Hasan dan Husain ra. Oleh karena itu, sepatutnya kamu jangan berbuat macam-macam kepada beliau. Muliakan dan buatlah beliau nyaman.” Mendengar pernyataan tersebut, kuburan langsung menjawab dengan tegas, “aku bukan tempat orang yang memiliki nasab mulia (keturunan orang-orang agung), tetapi merupakan tempat amal baik. Sehingga jangan mengharap sesuatu yang baik dariku, kecuali bagi orang-orang yang banyak amal baiknya, selamat (baik) hatinya dan ikhlas dalam perbuatannya.”

Baca Juga :  Allah Menegur Nabi yang Melarang Bersedakah pada Non-Muslim

Oleh karena itu, sayang sekali apabila generasi muda Muslim hanya dididik untuk mendapatkan dan menguasai dunia semata dan melupakan bagaimana pentingnya memberikan pertolongan kepada para leluhur yang sudah wafat, baik melalui sedekah, fatihah, tahlil, salawat, maupun membaca al-Qur’an.

Sayyidinâ Abu Bakar ra. mengatakan, sebagaimana disebutkan dalam kitab Syarḥ Naṣâ’ih al-‘Ibâd (hlm. 4), bahwa orang yang memasuki alam kubur (meninggal) tanpa membawa bekal berupa amal baik, maka dia seperti orang yang mengarungi samudra tanpa perahu.

Hal ini sesuai dengan sabda Nabi saw. yang menyatakan bahwa orang meninggal (ahli kubur) seperti orang tenggelam di tengah lautan yang membutuhkan pertolongan orang lain. Sehingga tidak heran apabila Sufyân aś-Śaurî berkata, sebagaimana disebutkan dalam Tanbîh al-Mugattarîn, “sesungguhnya ahli kubur diperiksa oleh malaikat Munkar-Nakir dalam kurun waktu tujuh hari.

Oleh karena itu, dianjurkan bersedekah untuknya dalam masa-masa itu. Karena hal itu akan membantu dan menolongnya dalam memberikan argumentasi (jawaban) yang benar kepada para malaikat.” wa Allâh A’lam wa A’lâ wa Aḥkam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here