Pengakuan Para Habib tentang Kehadiran Rasulullah di Acara Maulid

0
32

BincangSyariah.Com – Imam al-Barzanji menyebutkan bahwa sungguh beruntung orang-orang yang mengagungkan Rasulullah saw. sebagai tujuan akhirnya (Maulid al-Barzanji, hlm. 46 dalam Majmu‘ah al-Mawalid wa Ad‘iyyah, penerbit al-‘Aidrus Jakarta). Salah satu bentuk mengagungkan Rasulullah saw. adalah merayakan maulid Nabi yang merupakan salah satu wujud bahagia atas lahirnya beliau ke muka bumi. Para ulama juga merasakan kehadiran Rasulullah di acara maulid.

Menurut Habib Zein bin Smith, melakukan perayaan Maulid Nabi merupakan salah satu bentuk berbahagia atas lahirnya Rasulullah saw. Ia sangat bermanfaat bagi orang-orang Islam dan bahkan bagi orang kafir. Dalam hal ini, Abu Lahab masih mendapatkan keringanan di dalam neraka setiap hari Senin hanya karena berbahagia atas lahirnya Rasulullah saw. yang merupakan keponakannya (al-Fawa’id al-Mukhtarah, 2008: 221).

Oleh karena itu, Imam al-Hafizh Muhammad bin Nashir ad-Damasyqi berkata: “jika Abu Lahab yang kekal dalam neraka saja bisa mendapatkan keringanan setiap hari Senin karena bergembira atas lahirnya Rasulullah saw., lalu bagaimana dengan orang-orang yang senatiasa bergembira atas lahirnya Rasulullah saw. dan meninggal dalam keadaan beriman?” (hlm. 222).

Di sisi lain, Sayyid Muhammad ‘Alawi al-Maliki menyebutkan bahwa orang yang pertama kali merayakan Maulid Nabi adalah Rasulullah saw. sendiri. Dalam hal ini, beliau mengagungkan hari lahirnya dan bahkan bersyukur di hari lahirnya, yaitu dengan berpuasa di hari Senin.

Sebab, segala sesuatu yang ada bisa beruntung karena lahirnya Rasulullah saw. ke muka bumi. Ketika ditanya tentang puasa hari Senin, maka Rasulullah saw. menjawab: “pada hari itu (Senin) aku dilahirkan dan pada hari itu (Senin) al-Qur’an diturunkan kepadaku.” Hadis ini adalah sahih karena diriwayatkan oleh Imam Muslim (Hawl al-Ihtifal bi Dzikr al-Maulid an-Nabawiyy asy-Syarif, 2010: 17, 13 & 24).

Baca Juga :  Efek Beragun Aset dalam Tinjauan Hukum Islam

Dengan demikian, hadis tersebut menunjukkan bahwa Rasulullah saw. mengagungkan hari lahirnya dengan berpuasa di hari Senin. Sehingga puasa hari Senin termasuk salah satu bentuk merayakan Maulid Nabi yang pernah dilakukan oleh Rasulullah saw.

Artinya, merayakan Maulid Nabi tidak hanya terbatas kepada berpuasa hari Senin, tetapi masih terdapat bentuk lain, baik berpuasa di hari Senin, bersedekah, memberikan makan orang-orang yang kelaparan, mengadakan acara untuk berzikir atau bersalawat secara bersama-sama, maupun mendengarkan sifat-sifat dan suri teladan Rasulullah saw. yang memang sangat agung (hlm. 24).

Oleh karena itu, hampir semua masyarakat Muslim Ahlussunnah wal Jama‘ah bermaulid Nabi selama-lamanya, baik di setiap waktu, setiap acara tertentu, maupun waktu luang dalam rangka berbahagia atas lahirnya Rasulullah saw. Perayaan Maulid Nabi ini semakin ditingkatkan ketika memasuki bulan Rabi‘ul Awal dan hari Senin yang merupakan bulan dan hari lahirnya Rasulullah saw. (hlm. 13).

Sayyid Muhammad ‘Alawi al-Maliki menegaskan bahwa tidak patut bagi seorang Muslim yang berakal bertanya: mengapa kalian bermaulid Nabi? Sebab, pertanyaan ini sama saja dengan bertanya: mengapa kalian berbahagia atas lahirnya Rasulullah saw.? Tentu pertanyaan semacam ini adalah pertanyaan bodoh yang tidak perlu dijawab. Namun, apabila terpaksa harus dijawab, maka jawab saja dengan: “aku bermaulid karena aku riang gembira dengan lahirnya Rasulullah saw. Aku mencintainya dan aku adalah orang yang beriman (hlm. 13).”

Di Indonesia sendiri sebagian besar masyarakat Muslim merayakan Maulid Nabi ketika bulan Rabi‘ul Awal tiba, terutama sekali ketika tanggal 12, baik dilaksanakan di masjid maupun di rumah masing-masing secara bergantian selama bulan Rabi‘ul Awal.

Beberapa kitab Maulid yang biasa dibaca dalam perayaan Maulid Nabi adalah Maulid ad-Diba‘i, Maulid al-Barzanji, dan Maulid Syarafu al-Anam. Ketiga kitab Maulid tersebut berisi sejarah, keagungan, keistimewaan, sifat-sifat, akhlak Rasulullah saw. dan salawat-salam. Beberapa percetakan Indonesia mengumpulkan ketiganya menjadi satu buku berjudul Majmu‘ah al-Mawalid.

Dalam praktiknya, pembacaan ketiga kitab Maulid tersebut biasanya dipimpin oleh seorang kiai atau ustaz. Maulid ad-Diba‘i biasanya dibaca pertama kali dalam keadaan duduk dan kemudian dilanjutkan dengan membaca salawat dalam Maulid al-Barzanji dalam keadaan berdiri.

Baca Juga :  Hakikat Mimpi dalam Psikologi Islam

Salawat itu adalah “ya nabi salam ‘alaika # ya rasul salam ‘alaika. Ya habib salam ‘alaika # shalawatullah ‘alaika.” Para jemaah biasanya mengikuti bacaan salawat dan salam yang dipimpin oleh kiai atau ustaz tersebut. Sementara ketika sang kiai atau ustaz membaca sejarah dan sifat-sifat Rasulullah saw., maka para jemaah hanya mendengarkan saja.

Menurut Habib ‘Ali bin Muhammad al-Habsyi (pengarang Maulid Simtud Durar), acara Maulid Nabi adalah acara yang disaksikan, karena Rasulullah saw. hadir pada waktu itu. Orang-orang yang sudah makrifat dan mukasyafah pasti melihat kehadiran Rasulullah di acara maulid tersebut dengan mata telanjang. Salah satu tanda hadirnya Rasulullah saw. adalah turunnya ketenangan, kekhidmatan, kewibawaan, dan keagungan yang dirasakan oleh orang-orang yang menghadiri acara Maulid Nabi tersebut (al-Fawa’id al-Mukhtarah, hlm. 222).

Pendapat serupa juga dikemumakan oleh sebagian ulama salaf. Menurut mereka, Rasulullah saw. sengaja meminta izin kepada Allah untuk menghadiri acara Maulid Nabi. Dalam hal ini, Rasulullah saw. tidak hadir sendirian ke acara Maulid Nabi. Sebab, arwah para nabi dan wali juga ikut hadir mengiringi Rasulullah saw. Oleh karena itu, Allah kemudian menaburkan rahmat-Nya di acara Maulid Nabi yang sudah dihadiri Rasulullah saw. dan para nabi dan wali tersebut (hlm. 222).

Di sisi lain, Habib Shalih bin ‘Abdillah al-‘Aththas juga memperkuat beberapa pendapat tentang kehadiran Rasulullah di acara Maulid Nabi. Menurutnya, apabila para jemaah Maulid Nabi membaca Maulid al-Barzanji, Maulid Syarafu al-Anam, dan sejenisnya, maka Rasulullah saw. akan hadir ketika memasuki tahap mahallu al-qiyam (berdiri). Namun, apabila mereka membaca Maulid ad-Dîba‘î, maka Rasulullah saw. akan hadir dari awal pembacaan sampai selesai (hlm. 222). (Baca: Soal Ruh Rasulullah Hadir pada Majelis Maulid)

Baca Juga :  Doa Setelah Menghadiri Acara Maulid

Oleh karena itu, para ulama menganjurkan berdiri ketika merayakan hari lahir (Maulid) Rasulullah saw. yang mulia (Maulid al-Barzanji, hlm. 46). Hal ini dilakukan dalam rangka menghormati Rasulullah saw. yang memang agung dan istimewa. Makanya, tidak heran apabila rata-rata masyarakat Muslim Nusantara mengawali acara Maulid Nabi dengan membaca Maulid ad-Diba‘i dalam keadaan duduk dan kemudian membaca Maulid al-Barzanji dalam keadaan berdiri.

Salah satu bukti hadirnya Rasulullah saw. ke acara Maulid Nabi disebutkan dalam Maulid Syarafu al-Anam. Dalam hal ini, seorang perempuan Yahudi di Mesir pernah bermimpi melihat Rasulullah saw. dan para sahabatnya mengunjungi acara Maulid Nabi yang diadakan oleh tetangganya―yang merupakan seorang Muslim (hlm. 143-144).

Sementara hadis sahih menyebutkan bahwa setan tidak bisa menyerupai Rasulullah saw. (Hasan Muhammad Syaddad, Magnathis al-Qabul fi al-Wushul ila Ru’yah Sayyidina ar-Rasul Muhammad saw., hlm. 8). Artinya, ketika seseorang bermimpi Rasulullah saw., maka hal itu benar adanya dan bukan tipu-daya setan. Wa Allah wa A‘lam wa A‘la wa Ahkam…

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here