Pengajian Tafsir Quraish Shihab: Dua Surga Untuk Orang yang Takut Pada Allah (ar-Rahman 36-46)

0
140

BincangSyariah.Com – Di pembahasan sebelumnya, Prof. Quraish Shihab mengulas kata al-Tsaqalan ditujukan kepada jin dan manusia. Dikatakan al-Tsaqalan karena mereka akan menerima pertanggungjawaban berupa dosa yang telah dilakukan. Lantas, bagaimana bentuk pertanggung jawaban jin dan manusia di hari tersebut

يُرْسَلُ عَلَيْكُمَا شُوَاظٌ مِنْ نَارٍ وَنُحَاسٌ فَلَا تَنْتَصِرَانِ (35) فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ – 36

“ Kepada (jin dan manusia) akan dikirimkan nyala api/tembaga api yang panas sehingga kamu tak mampu menyelamatkan diri” , “Maka nikmat  Tuhan kamu manakah yang kamu dustakan?”

Secara penafsiran, Quraish Shihab tidak menguraikan secara detail. Shihab mengulas kembali salah satu makna dari ayat fa bi ayyi aalaa’i rabbikumaa tukaddzibaan. Salah satu makna mengapa ayat itu disebut sebut sebanyak 31 kali karena didalamnya terdapat ancaman neraka. Disisi lain, menurut Shihab, alasan mengapa ayat tersebut banyak diulang karena dakwah itu sifatnya mengajak. Sedangkan perihal mengajak, membutuhkan usaha yang maksimal agar manusia tidak lalai untuk memohon ampunan kepadaNya.

فَإِذَا انْشَقَّتِ السَّمَاءُ فَكَانَتْ وَرْدَةً كَالدِّهَانِ (37) فَيَوْمَئِذٍ لَا يُسْأَلُ عَنْ ذَنْبِهِ إِنْسٌ وَلَا جَانٌّ – 39

“Maka apabila langit telah terbelah dan menjadi merah mawar seperti (kilauan) minyak. Maka pada hari itu manusia dan jin tidak ditanya tentang dosanya”

Shihab mengungkapkan bahwa langit saat itu berwarna merah dan ia memiliki duri yang diserupakan dengan bunga mawar. Sehingga, ketika langit sudah hancur, ia tidak hanya gelap dengan warna merahnya, ia pun berduri. Dalam Al-Qur’an, kata insyaqqa juga terdapat dalam sejumlah ayat di tiga surah, yaitu al-Insyiqaq: 1-2; al-Haqqah: 6, dan surat al-Furqan: 25. Empat ayat dalam tiga surat tadi sama-sama menjelaskan langit yang terbelah pada hari kiamat.

Baca Juga :  Pengajian Tafsir Quraish Shihab: Menyelami Surah Ar-Rahman ayat 1-3

Di ayat kedua, menjelaskan bahwa jin dan manusia tidak akan ditanya pertanggungjawabannya, mengapa? Quraish Shihab menjelaskan bahwa Allah Maha Mengetahui apa yang dikerjakan oleh kedua makhluk-Nya. Bahkan, Allah menyebut ada tanda yang jelas pada masing-masing makhluknya saat berbuat kedurkahakaan. Seperti apakah tanda orang yang durhaka?

Tanda-Tanda Orang Durhaka dan “Dua Surga”

 يُعْرَفُ الْمُجْرِمُونَ بِسِيمَاهُمْ فَيُؤْخَذُ بِالنَّوَاصِي وَالْأَقْدَامِ (41) هَذِهِ جَهَنَّمُ الَّتِي يُكَذِّبُ بِهَا الْمُجْرِمُونَ (43) يَطُوفُونَ بَيْنَهَا وَبَيْنَ حَمِيمٍ آنٍ – 44

 “Orang-orang yang berdosa itu diketahui dengan tanda-tandanya lalu direnggut ubun-ubun dan kakinya.” ,“Inilah neraka Jahannam yang didustakan oleh orang-orang yang berdosa.” “Mereka berkeliling disana dan diantara air yang mendidih.”

Kata al-Mujrimun diatas diartikan orang yang telah mendarah daging dosanya memiliki tanda wajah yang hitam mengkilat. Menurut satu riwayat hadis, manusia saat itu terbagi dua golongan. Ada satu kelompok yang berseri-seri wajahnya dan ia memiliki paras yang indah terlihat putih berkilau. Sedangkan kelompok lainnya ia golongan orang-orang yang durhaka atas Tuhan-Nya yang disebut sebagai Mujrimun.

وَلِمَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ جَنَّتَانِ – 46

“Dan bagi siapa yang takut akan kedudukan Tuhan-Nya ia akan mendapatkan dua surga”

Membahas kata Maqam dalam ayat diatas memiliki banyak definisi yang diambil dari beberapa fann ilmu. Merujuk pada Ilmu Tasawuf, Maqam selalu disandingkan dengan Ahwal. Maqam ialah sesuatu yang telah diraih oleh seorang hamba melalui jalan atau Suluk yang memiliki banyak tingkatan. Sedangkan Ahwal, ia telah diberikan kemampuan untuk melihat Allah tanpa menjalankann proses terlebih dahulu. Sederhananya, menurut Shihab, definisi Maqam yaitu Makan al-Qiyam Robbuhu atau tempat berdirinya Tuhan.

Selanjutnya kata Khaafa yang memiliki mashdar Khawf, diartikan sebagai takut. Lantas bagaimana karakteristik takut yang telah ditetapkan dalam ayat diatas?

Baca Juga :  Biografi Imam Al-Thabari; Ahli Tafsir yang Jomblo Seumur Hidup

Menurut Quraish Shihab, yang pertama, ada sekelompok orang yang takut ketika menghadap Tuhan karena ia sadar dengan dosanya. Kedua, ia takut dengan Tuhan karena tak ada satupun yang layak dihormati kecuali Allah. Hamba yang kedua disini ia selalu berjaga jarak dengan Tuhan karena merasa dirinya tak wajar. Dengan itu, menurut Shihab, takut merupakan salah satu interaksi yang tepat untuk mengenal Tuhan.

Tentang kata Jannataan, beberapa ulama tafsir memiliki pandangan yang berbeda tentang Jannataan. Pertama, orang yang takut pada Allah, ia akan diberikan dua tempat surga yang berada di sebelah kanan dan kirinya. Ia tak punya jalan lain kecuali dengan pemberian dua surga tersebut. Kedua, surga yang diberikan khusus untuk dirinya dan bagi keturunannya. Terakhir, kedua surga yang didapat berupa surga material dan spiritual. Namun, Prof. Quraish Shihab tidak menjelaskan banyak contoh yang ketiga ini. Wallahu A’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here