Pengajian Ihya’ Gus Ulil: Kisah-Kisah Orang yang Memiliki Kesabaran Tinggi

0
390

BincangSyariah.Com – Pada kajian kitab Ihya Ulumudin di hari kedua, Gus Ulil Abshar Abdalla melanjutkan pembahasan i tentang kriteria seseorang mencapai taraf minimal akhlak mulia. Beberapa ulama seperti Sahl At-Tusturi menyatakan bahwa taraf minimal seseorang bisa dikatakan memiliki akhlak yang mulia adalah bersabar menerima perlakuan buruk dari orang lain terhadap dirinya, seperti yang dikemukakan oleh Yusuf bin Asbath pada 10 kriteria akhlak mulia.

Kemudian Imam al-Ghazali menuliskan beberapa kisah tentang sikap sabar dari beberapa tokoh besar dalam menahan perlakuan buruk orang lain. Di antaranya ada Ahnaf bin Qais. Ia merupakan tokoh yang memiliki status sosial yang tinggi. Ia sempat mengalami masa yang sezaman dengan Rasulullah namun tidak sempat bertemu. Ia juga tokoh yang menyaksikan penaklukan tanah Persia pada zaman Khalifah Umar bin Khattab. Suatu hari ia ditanya oleh seseorang tentang dari mana ia belajar sabar. Lalu ia menjawab, “dari Qais bin Ashim.” Lalu ditanya kembali, “sejauh apa ia bersabar hingga kau terinspirasi darinya?”. Lantas Ahnaf bin Qais bercerita bahwa suatu hari saat Qais bin Ashim sedang duduk dan memanggil budaknya yang kala itu sedang membawa sate dan sate beserta tusuknya tiba-tiba terjatuh dan menimpa anaknya hingga menyebabkan anaknya meninggal. Sang budak yang kala itu melakukannya tanpa sengaja dan merasa bersalah langsung ditanggapi oleh Qais bin Ashim dengan berkata, “kamu tidak bersalah. Sejak hari ini kamu merdeka.”

Tidak ada riwayat atau penjelasan yang gamblang tentang seperti apa hakikat yang diartikan tusuk sate tersebut (maksudnya memiliki bobot seberapa atau bentuk yang bagaimana). Yang terpenting, dari kisah itu kita bisa menyaksikan betapa Qais bin Ashim sangat sabar dan ridho terhadap perilaku budak perempuannya meski perbuatannya menyebabkan anaknya meninggal.

Baca Juga :  Pengajian Ihya Gus Ulil: Mujahadah untuk Berzikir kepada Allah

Kemudian kisah yang berasal dari Ahnaf bin Qais sendiri yang pernah dicaci oleh seorang lelaki saat sedang berjalan di gurun pasir, lalu Ahnaf justru mengikuti lelaki tersebut. Saat ia telah mendekatinya Ahnaf berkata kepada lelaki tersebut, “jika dalam dirimu masih teradapat kejanggalan hati dan ingin mencaciku, maka cacilah aku sekarang agar tidak ada yang mendengar engkau mencaciku dan justru mereka akan menyakitimu nanti.”

Terdapat lagi kisah dari Uwais Al-Qarni yang sangat masyhur ceritanya karena baktinya yang luar biasa kepada ibunya. Dikatakan suatu ketika jika Uwais Al-Qarni mendapati anak-anak melemparinya dengan batu maka ia berkata, “jika kalian ingin melempari aku dengan batu maka lemparilah aku dengan batu yang kecil saja, agar tubuhku tidak sampai berdarah. Sebab hal itu bisa menghalangi aku ketika salat akibat darah yang keluar dari tubuhku.”

Beberapa kisah dari tokoh-tokoh tersebut adalah mereka yang jiwanya telah dilatih dan mampu menaklukan hawa nafsunya. Hingga tak ada rasa dengki dan benci. Dan puncak dari akhlak yang mulia menurut Imam Al-Ghazali adalah ridha terhadap ketetapan Allah. Maka sebaliknya, jika masih belum ridha terhadap ketatapan Allah ia dianggap memiliki akhlak yang paling buruk. Mereka yang telah mencapai taraf akhlak mulia akan selalu terpancar kebaikan dari jasad-jasadnya. Jika belum menemukan tanda-tanda ini pada jiwa kita maka jangan sampai kita tertipu bahwa kita telah memiliki akhlak yang baik. Maka teruslah berusaha untuk mencapai akhlak yang baik meski taraf akhlak terbaik hanya bisa dicapai oleh orang-orang yang dekat dengan Allah.



BincangSyariah.Com dikelola oleh jaringan penulis dan tim redaksi yang butuh dukungan untuk bisa menulis secara rutin. Jika kamu merasa kehadiran Bincangsyariah bermanfaat, dukung kami dengan cara download aplikasi Sahabat Berkah. Klik di sini untuk download aplikasinya. Semoga berkah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here