Pengajian Ihya Gus Ulil: Empat Benteng Melawan Rintangan dalam Bersuluk

1
301

BincangSyariah.Com – Ada empat hal yang menjadi benteng pertahanan melawan hawa nafsu demi mencapai suluk (jalan) menuju Allah. Empat hal yang merupakan riyadhoh yang cukup berat hanyalah bisa ditempuh bagi seorang hamba yang benar-benar memilih menempuh jalan tasawuf.

Namun empat hal ini sangat aplikatif juga ditempuh oleh orang-orang awam sesuai proporsinya. Seperti yang selalu disampaikan Gus Ulil pada kajiannya, bahwa kitab Ihya bisa sangat aplikatif bagi setiap orang. Bagi yang memahami kitab Ihya secara proporsional maka ia akan memahami bahwa ajaran Ihya merupakan sumber kekuatan seorang hamba.

Gus Ulil selalu menangkal anggapan orang-orang yang berasumsi bahwa kitab Ihya mengajarkan umat untuk bermalas-malasan. Empat hal yang menjadi benteng diri ialah:

Pertama, lapar. Melatih diri untuk mengurangi makan dan menahan lapar bermanfaat untuk mengurangi pasokan darah ke dalam hati dan mengurangi lemak. Bersihnya hati dari lemak akan membuat hati memancarkan cahaya. Hati yang bercahaya dan memiliki ruang-ruang akan sensitif terhadap rangsangan ruhani. Dan hal itulah yang menyebabkan tersingkapnya hijab yang telah dibahas pada tulisan sebelumnya tenang empat hal yang menjadi penghalang hamba dengan Tuhan. Banyak makan juga menyebabkan banyaknya produksi darah. Dan berpuasa bermanfaat untuk mengurangi suplai darah. Seperti yang pernah disabdakan Rasul bahwa setan mengalir bersama aliran darah, maka jika suplai darah berkurang itu berarti menjauhkan diri dari setan.

Ajaran menahan lapar seperti ini atau yang disebut tirakat menurut Gus Ulil seringkali diamalkan oleh orang tua demi menjaga kesehatan dan menciptakan tindak laku yang baik. Namun sering berpuasa tidak disarankan bagi anak-anak hingga usia 25 tahun, sebab saat usia tersebut otak butuh suplai gizi yang cukup.

Baca Juga :  Kisah Berhijab di Negeri Tiongkok dan Kisah Keramahan Penjual Lamian

Kedua, mengurangi tidur. Tidur yang berlebihan akan menyebaban gelapnya hati. Maka mengurangi tidur mampu memberi penerangan pada hati. Ada relasi antara mengurangi makan dengan tidur. saat kondisi tubuh lapar maka potensi mengantuk lebih sedikit. Orang-orang yang menempuh suluk mengurangi tidur dan mengisinya dengan berzikir kepada Allah. Hati yang bersinar mampu membuat hamba menyaksikan Allah yang Maha Benar. Hamba yang mampu menjadikan kedua benteng ini sebagai pola hidup maka ia akan menyaksikan dan meyakini akhirat sebagai tempat abadi nan indah dan akan menganggap dunia remeh dan hina.

Konsep yang dipegang orang-orang yang menempuh suluk adalah mereka tidak akan makan dan tidur kecuali darurat atau sekadarnya saja. Konon katanya bahwa wali abdal makannya adalah kefakiran, tidak makan banyak, tidur dan berbicara pun dilakukan karena terpaksa.

Dalam ilmu tasawuf ada keyakinan bahwa bumi ini dijaga oleh para wali. Disebut wali abdal (pengganti) karena setiap wali yang wafat maka akan ada penggantinya. Tugas merekalah yang menjaga bumi ini dengan terus berzikir dan uzlah (mengasingkan diri) dari keramaian.

Gus Ulil menjelaskan bahwa setiap orang diciptakan sudah sesuai maqamya (tempat) masing-masing. Ada yang ditugasi sebagai makhluk sosial yang bekerja, mencari nafkah, mengurus umat dan sebagainya. Ada yang ditugasi sebagai penjaga bumi ini yaitu para wali. Maka masing-masing hamba harus berjalan sesuai maqamnya. Tidak bisa bertukar posisi.

Ketiga, diam. Seorang hamba yang menempuh suluk hanya akan berbicara jika dalam keadaan darurat. Hal ini akan memudahkan ia untuk melakukan uzlah. Meskipun begitu, sang hamba tersebut pasti memiliki seseorang yang senantiasa memberi makan dan minum. Ia pun takkan berbicara kecuali terpaksa. Sifat buruk yang merupakan alamiah yang dimiliki oleh manusia adalah dominan ingin berbicara daripada mendengarkan. Keinginan terus berbicara menyebabkan hati yang sibuk. Maka diam menjadi solusi untuk merenung dan berzikir.

Baca Juga :  Syair Munajat, Abu Nawas, dan Sanubari Masyarakat Banten

Keempat, khalwat. Khalwat berarti menyepi, mengasingkan diri, berzikir kepada Allah. Khalwat adalah upaya untuk menangkal diri dari distruksi. Ia juga melindungi pendengaran dan penglihatan yang menjadi beranda hati. Maka khalwat menjadi upaya untuk menyaring segala informasi yang masuk. Imam Ghazali menganalogikan hati seperti telaga yang dialiri air dari segala sumber. Jika dibiarkan saja tanpa ada upaya untuk menyaring maka telaga tersebut akan kotor. Maka khalwat adalah upaya menguras kotoran-kotoran yang ada di hati.

Keempat hal tersebut merupakan benteng diri untuk menangkal ujian-ujian yang akan dihadapi oleh orang-orang yang menempuh suluk. Mulailah dari hal yang paling mudah dan seterusnya.



BincangSyariah.Com dikelola oleh jaringan penulis dan tim redaksi yang butuh dukungan untuk bisa menulis secara rutin. Jika kamu merasa kehadiran Bincangsyariah bermanfaat, dukung kami dengan cara download aplikasi Sahabat Berkah. Klik di sini untuk download aplikasinya. Semoga berkah.

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here