Peristiwa Pengafiran di Eropa Abad ke-14 dan 15

0
1314

BincangSyariah.Com – Memang benar bahwa kafir merupakan bagian dari bahasa Alquran. Oleh karenanya, kata tersebut identik sebagai bagian dari ajaran Islam. Namun pada tataran konsep, semua agama kurang lebih memiliki istilah masing-masing untuk menyebut orang yang berbeda agama, dan melakukan pengafiran. Kata “kafir” sendiri telah diserap dan menjadi bagian dari bahasa Indonesia dengan arti yang sama persis seperti apa yang didefinisikan Islam. (Sila cek KBBI).

Terlepas dari pemaknaan kata “kafir” dan penggunaannya, agar lebih berimbang, saya ingin menguraikan sedikit tentang peristiwa pengafiran yang terjadi di benua Eropa zaman dulu. Kebetulan, saya punya dua buku dengan pembahasan yang cukup menarik tentang fenomena sejarah Kerajaan. Buku pertama berjudul The Insight of Unbelievers: Nicholas of Lyra and Christian Reading of Jewish Text in The Later Middle Ages ditulis Deena Copeland Klepper (2007), sedangkan buku yang kedua disusun Christine Isom-Verhaaren (2011) dengan tajuk Allies with The Infidel: the Ottoman and French Alliance in Sixteenth Century.

Yang saya maksudkan dengan berimbang adalah wacana pengafiran juga dilakukan oleh kelompok selain Islam. Katakanlah saya berada pada posisi kelompok konservatif yang tidak rela Islam digugat, pokoknya yang di luar Islam itu salah semua, masuk Neraka Jahanam. Oleh karenanya, saya menyatakan bahwa dalam sejarah Kristen juga terjadi peristiwa pengafiran.

Klepper dalam pendahuluan bukunya menceritakan bagaimana Kerajaan Perancis pimpinan Raja Philip III di tahun 1309 mengusir orang-orang Yahudi dan membakar buku-buku meraka. Bagi raja, Kristen merupakan satu-satunya agama yang benar, Yahudi yang kafir (infidel/unbeliever) harus disingkirkan dari bumi Perancis hingga ke akar-akarnya. Bahkan, pengusiran Yahudi dari negeri Kristen Perancis tidak hanya dilakukan oleh Philip III, namun dimulai raja pendahulu sejak awal abad 12 sampai penerusnya di awal Abad 14.

Baca Juga :  Abdullan bin Zubair: Sahabat Nabi yang Menolak Politik Dinasti

Tetapi fokus utama konten buku bukan itu, ada seorang figur yang disoroti bernama Nicholas of Lyra. Jika sebelumnya buku Yahudi (rabbinic texts) dibakar, maka Nicholas of Lyra menjadi orang yang berjasa untuk melestarikannya. Dia membuktikan kepada para pemangku kekuasaan (raja dan para pendeta) bahwa dalam buku-buku Yahudi dapat ditemukan bukti kebenaran Kristus. Berkat upayanya pula sebagian orang Yahudi dengan suka rela mempercayai Yesus.

Satu abad kemudian di wilayah kerajaan yang berbeda, Christine Isoom-Verhaaren menceritakan kisah tentang Karl V, raja Spanyol atau biasa dikenal dengan sebutan Kaisar Romawi Suci. Kenapa dia diberi gelar keistimewaan itu? Dalam amatan Verhaaren, Karl/ Charles V berhasil membangun citra dirinya sebagai raja Kristen yang suci dengan cara merekrut para pelukis dan para sejarawan. Dengan cara itu, ia berhasil menghimpun kekuatan dan mampu mengalahkan aliansi kafir Prancis dan Ottoman. Dengan kata lain, Prancis telah berkhianat karena telah membangun kerjasama dengan golongan kafir.

Akibatnya, hingga Abad ke-19, dalam pandangan Verhaaren, Eropa masih percaya bahwa kerjasama Prancis dan Ottoman yang kafir itu adalah tinta merah bagi sejarah Kristen. Padahal, menurut Verhaaren, aliansi yang dibentuk adalah murni berdasarkan kesepakatan politik. Seharusnya, Ottoman dianggap sebagai bagian dari Eropa yang juga punya kepentingan. Namun polemik doktrin teologis pada masa itu menjadikannya sebagai musuh bersama Kristen.

Sudah dua abad berlalu, setelah sekularisasi berhasil di Eropa dan menyebar ke seluruh dunia, politik berpisah dengan agama. Menurut saya ini sunnatullah! Jangan percaya teori konspirasi!

Pertanyaannya kemudian, apakah kita masih terbelenggu dengan masa lalu?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here