Penerimaan Karya Ulama Al-Azhar di Kalangan Pesantren

0
824

BincangSyariah.Com – Al-Azhar dikenal sebagai lembaga pendidikan tertua di dunia. Lembaga ini mempunyai peranan penting dalam kemajuan ilmu agama. Banyak ulama yang terlahir dari lembaga tersebut.

Para pelajar yang datang tidak hanya berasal dari satu dua negara bahkan hampir berbagai penjuru dunia datang ke tempat tersebut untuk mendapatkan segudang ilmu dari para ulama. (Baca: Al-Azhar Telah Berumur 1080 Tahun, Ini Peran Al-Azhar dalam Kajian Hadis)

Hinggat saat ini Al-Azhar menjadi bagian penting dalam pembentukan generasi muda muslim yang mempunyai wawasan keagamaan yang luas. Kini usianya telah mencapai 1080 tahun sejak awal berdiri pada tanggal 7 Ramadhan 361 H.

Al-Azhar telah menjadi pusat gerakan Islam moderat. Hal ini menjadi prioritas utama guna memperbaiki citra Islam baik di Mesir ataupun negara lainnya. Salah satunya adalah Indonesia. Ribuan pelajar Al-Azhar telah tersebar di berbagai penjuru nusantara. Mereka bermodal bekal keilmuan yang telah didapatkan dari ulama Al-Azhar.

Indonesia mempunyai ribuan pesantren yang menjadi lembaga tertua dalam perkembangan Islam. Pengaruhnya sangat besar dalam meningkatkan nilai keagamaan bagi masyarakat.

Hal ini juga tak luput dari peran besar tokoh pesantren terdahulu dalam membangun pesantren di Indonesia. Para tokoh ini pastinya telah melakukan perjalanan keilmuanya bertahun tahun. Mereka rela meninggalkan tanah air guna menimba ilmu di berbagai negara.

Para alumni Al-Azhar kini banyak ditemukan di beberapa pesantren khususnya di Indonesia. Bukan menjadi hal yang asing lagi bahwa 2 instansi besar ini mempunyai berpengaruh dalam dunia pendidikan Islam.

Pesantren dan Al-Azhar seperti layaknya saudara kandung. Kedua instansi ini mempunyai kesamaan yaitu sama sama mempunyai andil yang sangat besar dalam dunia pendidikan baik segi tokoh, moral, ilmu agama dan pengembang. Namun disisi lain juga terdapat beberapa perbedaan dari 2 instansi tersebut.

Baca Juga :  Al-Azhar Turut Ucapkan “Selamat Natal” untuk Umat Kristiani Seluruh Dunia

Awal mula hubungan ulama Al-Azhar dengan pesantren berawal dari 3 aspek  diantaranya berkaitan dengan tokoh, keilmuan atau sanad dan kitab-kitab yang dijadikan sebagai kurikulum di pesantren.

Beberapa tokoh ulama Indonesia  mempunyai sanad yang tersambung dengan ulama-ulama Al-Azhar seperti Al-Falimbani, Yusuf Al-Makassari, Sunan Gunung Jati, Syekh Abdul Manan dan generasi setelahnya. Bila melihat beberapa sanad keilmuan yang diijazahkan oleh pengasuh pesantren maka Syekh Yasin Al-Fadani yang menjadi sumber sanadnya.

Selain itu ada beberapa ulama yang mempunyai sanad yang nyambung juga dengan ulama-ulama Al-Azhar yaitu melalui Syekh Nawawi Al-Bantani yang berguru dengan Syekh Ibrahim Bajuri dan guru-guru yang lain.

Penerimaan karya ulama Al-Azhar ini dipengaruhi oleh beberapa faktor. Diantaranya faktor ketersambungan guru dan murid. Hubungan murid dan guru memiliki peranan yang sangat penting dalam penyebaran sebuah karya.

Keterikatan seoranng murid dan guru tidak terbatas di dunia saja untuk melanjutkan ajaran sang guru. Namun hubungan guru murid ini berlanjut hingga cucu dan generasi setelahnya. Selan itu terdapar faktor mutu. Beberapa kitab yang dijadikan sebagai kurikulum pesantren telah mendapatkan seleksi alam yang mana kitab ini telah direkomendasikan dari ulama bidangnya. Adapun faktor lainnya yaitu tersedianya kitab.

Peran percetakan kitab tidak bisa dipandang sebelah mata. Berkat percetakan ini, karya-karya ulama dapat segera diterbitkan. Melihat sebagian kitab yang ada dipesantren merupakan cetakan Mesir dan pengarangnya adalah ulama Mesir maka sangat dimungkinkan penerbitan kitab adalah suatu faktor yang menjadikan karya-karya tersebut dapat berkembang pesat di tanah air.

Penerbitan kitab di pesantren tidak begitu saja sampai ke beberapa pesantren. Ada yang berpendapat bahwa salah satu yang membawa kitab itu adalah Sa’id bin Sa’ad Nabhan. Beliau adalah ulama Yaman yang berkunjung ke Indonesia dengan tujuan berdakwah sekaligus berdagang. Beliau yang memprakarsai hubungan dagang dengan penerbit Musthafa Al-Halabi.

Baca Juga :  Teladan Budaya Mengantre di Kehidupan Pesantren

Setelah adanya perjanjian dengan penerbit Musthafa Al-Babi Al-Halabi, berdirilah penerbitan di Surabaya dengan nama Sa’id bin Sa’ad Nabhan Surabaya. Beberapa deretan penerbit telah menerbitkan karya ulama nusantara seperti penerbit Musthafa Al-Halabi, Isa Faishal Halabi, Al-Jamaliyah, Abdurraziq dan Bulaq. Dua penerbit pertama masih menerbitkan karya ulama tanah air hingga sekarang. Hal ini akan dijumpai beberapa karya ulama tanah air diantaranya Syekh Nawawi Al-Bantani, Syekh Mahfudz, Syekh Atharid Bogor dan lain-lain.

Dari beberapa ulasan diatas membuktikan bahwa tetap terjaga kitab-kitab ulama Al-Azhar di pesantren. Hal ini memberikan tanda bahwa ulama Al-Azhar sangat berpengaruh dalam dinamika keilmuan di pesantren.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here