Penentuan Umur Manusia Terjadi pada Bulan Sya’ban

1
2533

BincangSyariah.Com – Dalam kitab Ma Dza Fi Sya’ban, Sayyid Muhammad bin Abbas al-Maliki menyebutkan banyak riwayat yang menjadi dasar utama kemuliaan bulan Sya’ban, termasuk peristiwa-peristiwa agung yang terjadi di dalamnya. Dalam pandangan beliau, bulan Sya’ban menjadi mulia karena peristiwa-peristiwa agung yang terjadi di dalamnya.

Salah satu peristiwa penting yang terjadi dalam bulan Sya’ban adalah penentuan umur manusia. Sayyid Muhammad bin Abbas membahasakan dengan istilah fi syahri sya’ban tuqaddaru al-A’mar, pada bulan Sya’ban umur manusia ditentukan oleh Allah.

Artinya Allah menampakkan umur manusia, apakah pada tahun itu dia masih tetap hidup atau akan mati, usianya ditambah atau dikurangi. Takdir kehidupan dan kematian semuanya berada dalam kekuasaan Allah, tidak satu pun manusia yang mampu mengatur kehidupan dan kematiannya sendiri, menambah atau mengurangi umurnya sendiri. Dalam Alquran surat al-Fathir ayat 11, Allah berfirman:

وَمَا يُعَمَّرُ مِنْ مُعَمَّرٍ وَلَا يُنْقَصُ مِنْ عُمُرِهِ اِلاَّ فِيْ كِتَابٍ مُبِيْنٍ اِنَّ ذَلِكَ عَلَى اللهِ يَسِيْر (الفاطر: 11)

Artinya; “tidak ada yang dipanjangkan umur seseorang dan tidak pula dikurangi kecuali sudah ditentukan dalam kitab (Lauh Mahfudz). Sungguh, yang demikian itu mudah bagi Allah”.

Dari sinilah umat Islam, khususnya di Nusantara, berusaha memuliakan bulan Sya’ban dengan mengadakan sedekah dan silaturahim. Mereka saling mengirim makanan kepada tetangga, sebagai bentuk persaudaraan dan mempererat silaturahmi. Bahkan kegiatan ini sudah menjadi tradisi di kalangan umat Islam Nusantara ketika menyambut datangnya bulan Sya’ban.

Selain itu, kegiatan sedekah dan silaturahmi yang sudah menjadi tradisi ini ada pembenarannya dalam Islam, dan bila direnungi lebih dalam erat kaitannya dengan bulan Sya’ban. Sya’ban adalah bulan di mana umur manusia ditentukan oleh Allah, sedangkan sedekah dan silaturahmi dapat memperpanjang umur seseorang. Hal ini sebagaimana sabda Nabi Sw yang diriwayatkan al-Imam Bukhari, dari Anas bin Malik, dia berkata:

Baca Juga :  Prof. Dr. M. Mahfud MD: Santri Yang Jadi Pakar Hukum Indonesia

سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: ” مَنْ سَرَّهُ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ، أَوْ يُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ، فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ “

Saya mendengar Nabi Saw bersabda; Barangsiapa yang suka diluaskan rizkinya dan ditangguhkan kematiannya, hendaklah ia menyambung silaturahmi”.

Sedangkan dalil tentang penentuan umur manusia di bulan Sya’ban adalah berdasar hadis riwayat Abu Ya’la dalam Musnad Abi Ya’la dengan sanad Hasan, dari Sayyidah ‘Aisyah;

قُلْتُ: يَا رَسُوْلَ الله! اَحَبُّ الشُّهُورِ اِلَيْكَ اَنْ تَصُوْمَهُ شَعْبَان ! قَالَ : اِنَّ اللهَ يَكْتُبُ فِيْهِ عَلَى كُلِّ نَفْسٍ مَيِّتَةٍ تِلْك َالسَّنَةَ فَأَحَبُّ اَنْ يَأْتِيَنِيْ أَجَلِيْ وَاَنَا صَائِم

Saya bertanya kepada Nabi Saw; wahai Rasullah! Bulan yang paling engkau sukai untuk berpuasa adalah bulan Sya’ban! (kenapa?). Nabi Saw menjawab; Sesungguhnya pada bulan ini Allah menulis setiap orang yang akan meninggal pada tahun itu. Maka aku suka jika ajalku datang dalam keadaan aku sedang berpuasa” .

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here