Pendidikan Wanita dalam Pandangan Qasim Amin

0
45

BincangSyariah.Com – Qasim Amin lahir pada tanggal 1 Desember 1863 di kota Iskandaria Mesir. Keluarganya memilki nasab cukup terpandang dimana ayahnya berasal dari keturunan Turki, sementara ibunya asli Mesir yang masih memiliki hubungan darah dengan tokoh pembaharu Mesir, Muhammad Ali Pasha.

Riwayat Pendidikan

Qasim Amin menempuh pendidikan dasar di madrasah Raksu Al Tyan, Alexandria. Lalu melanjutkan studi tingkat SMP di Kairo. Sementara pendidikan tingginya dia tamatkan di sekolah akademi Khedival. Tahun 1881 dia berhasil menyandang gelar sarjana di bidang Hukum dan Administrasi.

Berkat kecerdasannya, pemerintahan menunjuknya sebagai duta ilmuan dan mengirimnya ke Prancis. Di negara barunya itu , dia mendalami lagi ilmu hukum selama empat tahun.

Selain mendapatkan ilmu pengetahuan, disana ia juga bersentuhan dengan budaya yang tidak ia temui di negaranya. Dia melihat kalangan wanita bisa ikut andil dalam pembangunan negeri entah sebagai dokter, hakim, dosen, guru besar atau menteri sekalipun. Sementara di negaranya peran perempuan masih dipandang sebelah mata.

Juwairiyah Dahlan dalam bukunya, Qasim Amin dan Reformis mendefinisikan figur Qasim Amin sebagai sastrawan dan seniman. Artinya, dia mencintai kebenaran, keindahan dan kebebasan. Sehingga tatkala dia mencium aroma penindasan dan diskriminasi, jiwa patriotnya muncul. Dia tak sabar ingin melakukan perubahan dan perbaikan terhadap negerinya.

Tatanan kehidupan warga Prancis yang berubah dratis pasca mencuatnya prinsip kebebasan, persamaan dan persaudaraan mengilhami Qasim Amin untuk belajar soal demokrasi dan perlunya sikap open minded untuk menghalau wabah keterbelakangan.

Lalu Qasim Amin mengaitkannya dengan sudut pandang Islam. Dan dia menemukan bahwa tidak benar jika dikatakan Islam mendiskreditkan kaum hawa.  Baginya kedua tipe manusia, laki – laki dan perempuan punya hak sama untuk mendapatkan keadilan sosial dan humanisme.

Baca Juga :  Perjalanan ke Tanah Suci: Dari Tempo Dulu sampai Kisah Presiden Masuk Kakbah

Keadaan Perempuan Mesir di Masa Qasim Amin

Mengutip Pendidikan Wanita Dalam Perspektif Qasim Amin karya Mudawinun Nisa, kehidupan wanita Mesir di masa itu cukup terbelenggu. Mereka tidak hidup babas untuk dirinya sendiri dan terus bergantung pada kaum pria. Mereka harus meredam keinginannya dan bertingkah laku sesuai keinginan pria.

Tuhuh istri seakan – akan menjadi hak milik absolute suami. Menurutnya, pandangan ini telah menghilangkan kualitas kemanusiaan seorang istri, dan membatasinya pada satu fungsi yaitu memuaskannya dengan tubuhnya.

Kaum pria memaksa mereka hidup terbatas di dalam rumah. Melarang mereka keluar. Jika ada keperluan genting, barulah boleh keluar dengan syarat ditemani pendampingnya.

Pendidikan Wanita

Secara umum tokoh pembaharu dan feminis generasi awal ini memberikan perhatian khusus terhadap lima poin yang bersangkutan dengan kewanitaan. Lima poin tersebut adalah pendidikan wanita, hijab, perkawinan, poligami dan perceraian.

Soal pendidikan wanita, menurutnya stereotip masyarakat bahwa kecerdasan perempuan berada di bawah laki – laki tidak bisa dibenarkan. Hal tersebut timbul karena dalam sejarah wanita amat terkungkung sehingga tidak mendapat hak yang sama seperti laki – laki untuk mengembangkan daya pikirnya. Karena tidak dilatih maka daya pikir mereka menurun, sama seperti otot yang tidak dilatih akan terlihat loyo dan lemah.

Bahkan dalam bukunya Tahrir Mar’ah, ia menyinggung masih ada masyarakat yang mempertanyakan apakah wanita secara hukum syariat dibolehkan atau diharamakan untuk membaca dan menulis.

Dia pernah bertemu dengan ayah seorang anak perempuan berumur sembilan tahun. Anak tersebut begitu cerdas dan potensial. “Apakah anda ingin menempatkannya bekerja di pemerintahan ?”, tanya Qasim. “Saya mengerti dia, dan semua kewajibannya adalah mengelola rumah, tidak ada yang lain”.

Baca Juga :  Kepemimpinan Perempuan dalam Fikih Islam

Si ayah tadi membatasi bahkan mewajibkan kreasi anaknya hanya untuk pekerjaan rumahan seperti menyiapkan makanan, mencuci dan menjahit. Qasim tidak menampik bahwa pekerjaan tadi bermanfaat, namun dia menilai bahwa kaum hawa pun bisa menempati posisi lainnya selagi mereka memiliki kapabilitas yang mumpuni.

Menurutnya, untuk mengelola rumah dengan baik pun perlu ilmu pengetahuan. Maka mereka wajib mengikuti pendidikan layaknya laki – laki minimal tamat sekolah dasar, agar mereka bisa mempunyai pilihan terhadap kehidupan masa depan yang mereka inginkan.

Khurafat dan takhayul yang sering dialamatkan kepada wanita, juga tidak terlepas dari ketidakhadiran peran pendidikan. Jika saja mereka diajari untuk membaca dan menulis mereka akan mempunyai kesempatan untuk memahami situasi negara, sejarah, filsafat, sastra, ilmu alam serta ilmu – ilmu Islam seperti akidah, fikih atau tafsir.

Tatkala mereka mempelajari itu semua, maka mereka akan mampu berfikir secara logis dan rasional sehingga mengetahui kebenaran yang sebenarnya. Alhasil, perlahan mereka akan meninggalkan hal – hal khayali.

Di akhir pemaparannya tentang pendidikan wanita, Qasim Amin menyebutkan bahwa hal penting yang harus dimiliki kaum wanita khususnya Mesir adalah budi pekerti yang baik. Karena dengan modal itulah, mereka akan mampu berkontribusi dengan baik, entah itu di lingkungan domestik maupun publik.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here