Pendidikan Seks Untuk Anak dan Remaja Muslim

0
20

BincangSyariah.Com – Fase remaja adalah fase penting dalam hidup seorang manusia. Untuk itu, pendidikan seks harus diajarkan dengan cara penyampaian yang tepat. Dalam Islam, berbeda dengan pendidikan seks untuk anak, pendidikan seks untuk remaja memiliki ketentuan tersendiri.

Kesadaran Tentang Pendidikan Seks

Pendidikan seks dalam islam adalah bagian integral dari pendidikan akidah, akhlak dan ibadah. Pembahasannya tak bisa lepas dari ketiga unsur tersebut. Jika pendidikan seks terlepas dari akidah, akhlak dan ibadah, maka akan muncul ketidakjelasan arah dari pendidikan seksual yang diberikan.

Jika tak berbarengan dengan dua hal di atas, pendidikan seks mungkin akan menimbulkan kesesatan dan penyimpangan dari tujuan asal. Sebab, pendidikan seksual yang lepas dari unsur ibadah dan akhlak hanyalah akan berdasarkan hawa nafsu manusia semata.

Bagaimana kaitan antara pendidikan akidah; akhlak dan ibadah dengan pendidikan seks?

Keduanya berfungsi untuk memberikan kesadaran pada remaja bahwa Tuhan memberikan bimbingan tentang kehidupan seks dan mengawasi dengan sangat teliti jika ada pelanggaran. Tuhan juga akan memberikan hukuman setimpal dan adil.

Kesadaran yang ditanamkan akan memengaruhi perilaku seorang remaja. Mengapa demikian? Sebab, semakin kuat kesadaran akan keberadaan Tuhan dalam diri seseorang, maka akan semakin sedikit pula keinginan untuk melakukan tindakan yang terlarang.

Pendidikan seks yang diberikan tidak akan mengurangi kejahatan seks jika tidak dibarengi dengan materi pendidikan akidah. Islam telah menyiapkan rambu-rambu pendidikan seks untuk remaja yang tertulis dalam buku Pendidikan Seks Bagi Remaja (1997) karya Akhmad Azhar Abu Miqdad:

Pertama, mengenalkan mahrâm.

Mahrâm adalah orang yang haram dinikahi. Laki-laki diharamkan menikahi perempuan dari mahrâmnya. Perempuan diharamkan menikah dengan laki-laki dari mahrâmnya. Jika remaja sudah memahami kedudukan perempuan atau laki-laki yang menjadi mahrâmnya, maka diharapkan para remaja bisa menjaga pergaulan sehari-hari dengan selain mahrâmnya.

Kedua, mendidik agar selalu menjaga pandangan.

Pandangan mata dengan lawan jenis secara psikologis bisa memunculkan dorongan seksual. Dorongan tersebut akan menuntut untuk terus dipenuhi. Karenanya, perlu ditanamkan pengertian tentang manfaat menjaga dan bahaya mengumbar pandangan mata, khususnya untuk para remaja Muslim.

Meski begitu, Islam tetap memberi toleransi-toleransi pada tataran tertentu yang bersifat kemaslahatan secara umum (maslahah al-mursalah). Sebagai misal, jika mengharuskan ada interaksi antara perempuan dan laki-laki dalam proses belajar mengajar, forum diskusi, dunia medis, dan lain sebagainya.

Ketiga, mendidik agar tidak melakukan khalwat.

Khalwat artinya berdua-dua di tempat sepi dengan lawan jenisnya. Khalwat dalam Islam jelas dilarang. Khalwat bisa menimbulkan perzinahan, fitnah dan lain sebagainya.

Keempat, mendidik agar berpakaian sopan dan menjaga auratnya.

Saat ini, dalam pergaulan yang serba terbuka, semua orang harus menjaga diri agar terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan. Salah satu caranya adalah dengan menjaga penampilan agar tidak mengundang niat jahat orang lain.

Para remaja Muslim harus selalu ditanamkan sejak dini bahwa mengikuti mode diperbolehkan asalkan tidak melanggar norma dan hukum-hukum syari’at. Lebih utama, tidak mengundang niat buruk orang lain. Orang tua dan para guru harus menanamkan pada diri remaja bahwa semua itu dilakukan demi kepentingan dan keselamatannya sendiri.

Pendidikan Seks Untuk Remaja Muslim

Saat memasuki masa remaja, anak-anak yang beranjak remaja harus mulai dibebani oleh hukum-hukum syari’at atau taklîf. Remaja mesti diajarkan tentang penjabaran hukum dan penerapannya baik yang halal, haram, mubah, dan makruh.

Dalam buku Pendidikan Seks bagi Remaja Menurut Hukum Islam (2000), Akhmad Azhar Abu Miqdad menuliskan bahwa hukum-hukum syari’at yang berkaitan dengan hubungan antara laki-laki dan perempuan mesti disampaikan orang tua dengan menggunakan bahasa yang bisa dipahami oleh remaja. Penjelasan yang disampaikan mesti disertai dengan penjelasan-penjelasan ilmiah agar bisa diterima oleh remaja.

Biasanya, anak-anak yang baru saja memasuki usia remaja cenderung kritis dan tidak mau menelan mentah-mentah saran-saran dan petunjuk dari orang tua yang kadang sulit diterima oleh akal pikiran mereka. Pada fase tersebut, ada beberapa hal yang harus diberitahukan oleh para orang tua yakni sebagai berikut:

Pertama, memberikan informasi tentang khitân.

Khitân bagi laki-laki adalah memotong praeputium yang menutupi kepala dzakar. Praeputium adalah kulit penutup alat kelamin yang di bawahnya terdapat zat smekma yang berbau dan menjadi sarang virus kanker.

Khitân disyari’atkan bagi anak yang sudah âqil bâligh atau anak usia remaja. Hukum khitân bagi remaja berkaitan erat dengan kehidupan seksual. Maka dari itu, saat orang tua yang akan mengkhitân anaknya sebaiknya menjelaskan alasannya disertai dengan penjelasan-penjelasan medis sebagai bentuk pendidikan seks bagi anak. Sebab, khitân adalah suatu langkah persiapan untuk remaja yang akan menempuh kehidupan seksual dalam rumah tangga kelak.

Orang tua harus menginformasikan pada anaknya bahwa di balik proses khitân ada hikmah yang sangat besar. Hikmah tersebut bisa dilihat dari sudut pandang medis dan seksual. Dari sudut pandang medis, khitan adalah tindakan yang hygenis. Sebab, dengan dibuangnya kulit dzakar, maka bisa terjaga kebersihannya dan terhindar dari berbagai macam penyakit.

Kedua, memberikan informasi tentang pola pergaulan laki-laki dan perempuan.

Pada saat anak memasuki fase remaja, mereka biasanya sudah merasa tertarik dengan lawan jenisnya. Hal tersebut adalah akibat dari hormon-hormon yang telah matang. Maka dari itu, orang tua dan para pendidik seperti guru mesti menanamkan rambu-rambu yang mengatur pergaulan antara laki-laki dan perempuan agar mereka tidak terjebak pada pergaulan bebas.

Ketiga, memberikan informasi tentang penyimpangan-penyimpangan seksual.

Setelah remaja memahami rambu-rambu dalam pergaulan, langkah selanjutnya bagi para orang tua adalah menyampaikan informasi tentang bentuk-bentuk penyimpangan seksual. Penjelasan mesti disertai dengan ketentuan hukum untuk para pelaku.

Segala bentuk penyimpangan seksual perlu disampaikan kepada remaja sebagai materi pendidikan seks bagi mereka. Penjelasan mesti berisi informasi yang sejelas-jelasnya dan dilengkapi dengan kaidah hukum dan sanksi-sanksi bagi para pelakukanya. Hal ini dilakukan agar remaja terhindar dari perilaku penyimpangan tersebut.

Perlu dicatat, orang tua harus mampu memberikan wadah bagi para remaja untuk menyalurkan energi kepada hal-hal yang positif. Hal ini bertujuan agar mereka tidak terjebak pada perbuatan yang didorong oleh nafsu saja.

Cara Mempersiapkan Pendidikan Seks

Untuk mempertahankan nilai manusia sebagai makhluk yang berkedudukan mulia, ajaran Islam memberikan pedoman-pedoman tentang kehidupan seksual. Meski pedoman yang ada belum mencapai detail seperti yang ada dalam dunia seksologi sekarang, pedoman-pedoman tersebut menjadi materi pendidikan seks dalam Islam.

Buku Islam dan Pendidikan Seks Anak (1991) karya Ayip Syafruddin menerangkan bahwa pendidikan seks tidak bisa berdiri sendiri, tapi berkaitan erat dengan pendidikan-pendidikan yang lain. Pendidikan yang lainnya adalah pendidikan akidah, akhlak dan ibadah.

Dalam Islam, pendidikan seks adalah bagian dari pendidikan akhlak, dan perilaku seksual yang sehat adalah buah dari kemuliaan akhlak. Maka, pendidikan seks yang diajarkan pun harus berpedoman pada tuntutan Allah Swt. dan berpedoman kepada sunnah Nabi Muhammad Saw.

Hubungan pendidikan ibadah dengan pendidikan seks adalah untuk memberikan pedoman bagi perilaku-perilaku yang dibolehkan dan dilarang. Pada prinsipnya, ibadah adalah manifestasi ketaatan manusia kepada Allah Swt. dengan menjalankan syari’at untuk mencapai keridhoan-Nya.

Maka dari itu, pendidikan seks tanpa dibekali pendidikan ibadah akan menjadi pincang. Sebab, pendidikan ibadah akan diketahui hak-hak Allah Swt., Rasulullah Saw. dan sesama manusia.

Lantas, bagaimana fase persiapan pendidikan seks untuk anak? Persiapan sudah harus dimulai sejak anak-anak belum baligh. Berikut beberapa cara mempersiapkan Pendidikan seks untuk anak sesuai dengan ketentuan Islam:

Pertama, pemisahan tempat tidur anak.

Pemisahan tempat tidur adalah pendidikan seks yang tidak langsung bagi anak, tapi sangat berpengaruh pada keberhasilan pendidikan seks yang sebenarnya. Pemisahan tempat tidur anak dari orang tuanya ini dilakukan agar anak terjauh dari tempat yang di dalamnya dilakukan aktivitas seksual.

Pemisahan tempat tidur anak laki-laki dengan anak perempuan juga bisa menghindari anak dari sentuhan-sentuhan badan yang dapat menimbulkan rangsangan seksual yang berbahaya.

Anak juga wajib diberi pengetahuan tentang kesadaran bahwa antara laki-laki dengan perempuan secara biologis memang berbeda. Masing-masing anak harus dilatih untuk menghindari hal-hal negatif akibat perbedaan yang ada.

Kedua, isti’dzân atau meminta izin.

Syariat Islam saat menekankan isti’dzân atau meminta ijin sejak usia kanak-kanak. Izin adalah pendahuluan bagi kaidah kesopanan. Anjuran isti’dzân dilakukan dalam bentuk permintaan izin bagi anak-anak yang belum baligh.

Hal ini bisa berbentuk pemberian toleransi untuk memasuki kamar kedua orang tuanya kecuali pada tiga waktu yakni sebelum shalat subuh, pada saat tengah hari, dan setelah isya.

Pengaturan ini bertujuan agar anak mengetahui hukum-hukum tentang aurat, hubungan seksual dan keadaan orang lain. Pada fase ini, penekanannya meminta izin ada pada tiga waktu. Saat anak sudah memasuki usia baligh, isti’dzân akan berlaku untuk semua waktu.

Hukum isti’dzân ini memiliki hikmah yang luar biasa sebab pemandangan saat orang tua sedang berhubungan badan, jika terlihat oleh anak-anak yang memasuki usia baligh akan sangat membekas dalam pikiran anak, dan akan sangat mempengaruhi perkembangan psikologisnya.

Ketiga, thahârah atau bersuci.

Anak yang sudah mendapatkan pengetahuan tentang menstruasi dan mimpi basah tidak akan panik jika tiba saatnya mengalami sendiri. Mereka akan menghadapinya dengan tenang. Selain itu, mereka pun menjadi tahu dan paham bagaimana cara mensucikan diri dan apa saja ibadah-ibadah yang diharamkan pada saat sebelum bersuci.

Islam tidak melarang orang tua untuk mengawasi perubahan psikologi dan seksual yang terjadi pada anak-anaknya. Para orang tua bisa membantu mendidik mereka dengan tenang dan alami. Cara mendidik bisa disesuaikan dengan situasi dan kondisi masing-masing.

Jika suara anak laki-laki mulai berubah menjadi serak parau, dan suara anak perempuan berubah menjadi merdu, maka orang tua seharusnya sudah mengetahui bahwa anak-anak mereka telah meninggalkan masa kanak-kanaknya dan memasuki masa baligh.

Pada saat itulah orang tua mestinya mulai membisikkan di telinga anak-anaknya baik laki-laki dan perempuan, kalimat-kalimat yang matang dan membimbing mereka ke arah yang benar.

Seiring dengan tumbuhnya pemahaman dan kematangan akal pada anak-anak, maka secara berangsur-angsur mereka akan mempelajari hukum-hukum baru yang sesuai dengan tingkat kematangan mereka.

Tiga cara tersebut Insya Allah efektif dalam mempersiapkan pendidikan seks untuk anak yang sesuai dengan ajaran Islam dan sebagai bekal anak saat menginjak usia baligh.[]

(Baca: Dalil Menuntut Ilmu dalam Al-Quran dan Hadis)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here