Pendidikan Kebangsaan di Pesantren

0
18

BincangSyariah.Com – Pendidikan kebangsaan kerap ditemukan di pesantren-pesantren. Dalam pendidikan kebangsaan, masyarakat Muslim dibentuk agar tidak bepikiran sempit dan mau berpikir jauh ke depan dalam berbangsa.

Pada awal abad ke-20 dikotomi pendidikan Islam dan kebangsaan di Indonesia nampak semakin kabur di kalangan pribumi. Zamakhsyari Dhofier dalam buku Tradisi Pesantren: Studi Tentang Pandangan Hidup Kiai (1985) mencatat beberapa poin sebagai berikut:

Pada saat pemerintah kolonial Belanda menerapkan kebijaksanaan pendidikan sekuler yang diskriminatif pada lembaga pendidikan Islam atau biasa disebut pesantren memutuskan untuk memisahkan diri dengan lembaga sistem pendidikan pemerintah kolonial Belanda atau sekolah umum.

Karena itulah, pada masa penjajahan Belanda, pendidikan di Indonesia terpecah menjadi dua. Pertama, pendidikan di sekolah-sekolah Belanda yang sekuler yakni yang tak mengenal ajaran agama. Kedua, pendidikan di pesantren yang hanya mengenal ajaran-ajaran agama saja.

Pemisahan pendidikan pada zaman tersebut semakin meruncing dan menimbulkan jurang pemisah dalam kehidupan berbangsa. Hal tersebut terlihat jelas dalam berbagai aktivitas sosial dan intelektual.

Sebagai misal, perbedaan cara kedua golongan itu bergaul, berpakaian, berbicara, berfikir dan lain sebagainya. Dalam keadaan tersebut, muncullah gagasan untuk menyatukan agama dan kebangsaan dalam pendidikan.

Gagasan tersebut melatarbelakangi kelahiran beberapa organisasi Islam di Indonesia. Ada Nahdlatul Ulama yang dipimpin oleh K.H. Hasyim Asy’ari (1871-1947), Sarekat Islam yang dipimpin oleh Cokroaminoto (1882-1947), Muhammadiyah dengan K.H. Ahmad Dahlan (1868-1923) dan organisasi lainnya.

Tujuan pembentukan organisasi-organisasi Islam tersebut adalah untuk melawan politik kolonial Belanda. Tujuan lainnya adalah untuk meningkatkan kondisi ekonomi dan pendidikan di masyarakat yang luas.

Kemunculan berbagai organisasi Islam kebangsaan di Indonesia pada masa itu juga dipengaruhi oleh para tokoh pembaharu Islam yang berasal dari Timur Tengah. Para tokoh tersebut antara lain Jamaluddin al-Afghani yang bergerak dalam politik Islam dan Muhammad Abduh, Rasyid Rida, dan tokoh-tokoh lainnya.

Sejak mula berdirinya, pesantren-pesantren di Indonesia sejatinya telah menyelaraskan pendidikan kebangsaan dan pendidikan agama. Di pesantren, kita tidak hanya diajarkan tentang ilmu agama tapi juga diajarkan bagaimana merajut tali kebangsaan agar tetap kuat.[]

(Baca: Perjuangan Para Pahlawan Nasional dari Kalangan Pesantren)

Artikel ini terbit atas kerjasama dengan Biro Humas, Data, dan Informasi Kementerian Agama RI

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here