Kiai Chudori Tegalrejo: Pendekatan Dakwah Islam Nusantara

0
386

BincangSyariah.com – Terjadi perdebatan antara kaum santri dan kaum seniman mengenai sisa dana desa. Menurut kaum santri, dana desa harus digunakan untuk membangun mesjid dan pengembangan pesantren. Sementara itu, kaum seniman menginginkan agar dana desa digunakan untuk membeli gamelan, untuk mengembangkan kesenian desa. Lalu mereka mengadu dan meminta keputusan kepada Kiai Chudori. Tidak disangka, ternyata Kiai Chudori memutuskan bahwa dana desa digunakan untuk membeli gamelan.

Kaum santri yang awalnya menduga bahwa  sang kiai akan berpihak kepada mereka, terpaksa menelan kekecewaan. Bagaimana mungkin seorang kiai, pemimpin agama, lebih memilih kesenian ketimbang membela pesantren, kaum santri dan memperjuangkan agama. Memang dalilnya sudah jelas, Nabi mengatakan,

مَنْ بَنَى مَسْجِدًا بَنَى اللَّهُ لَهُ مِثْلَهُ فِي الْجَنَّةِ

“Barangsiapa yang membangun masjid, maka Allah akan bangunkan baginya semisalnya di surga.” (H.R. Bukhari)

Apakah kiai tidak mengamalkan hadis ini. Apakah beliau melanggar sabda Nabi. Ini dalam logikanya kaum santri dan juga logikanya kita.

Namun beda dengan logikanya Kiai Chudori, pendekatannya adalah dakwah Islam Nusantara seperti dakwahnya Wali Songo. Dakwah yang menekankan pendekatan kepada masyarakat. Masyarakat itu dirangkul, didekati seraya didakwahi secara perlahan. Bukan dipukul dan dijauhi. Jika mereka butuh pertolongan dan kekurangan, berikan bantuan. Dengarkan cerita dan keluh kesah mereka dan hadir dalam kehidupan mereka. Dengan pendekatan seperti ini, masyarakat akan merasa dekat dengan ulamanya. Sehingga tumbuh cinta dan rasa segan. Ketika telah tumbuh cinta, otomatis mereka akan mendengarkan dan mengikuti. Di sinilah Islam bisa masuk.

Hal ini yang dilakukan oleh Kiai Chudori. Ketika kaum seniman butuh gamelan untuk mengembangkan kesenian, kiai memberi bantuan dan pertolongan. Berjalannya waktu, kesenian gamelan tersebut mengalami kemajuan dan membuahkan hasil. Mereka yang dulunya hidup susah, lama kelamaan mulai membaik berkat rezeki yang diperoleh dari kesenian gamelan. Akhirnya ekonomi mereka meningkat. Dengan capaian itu, mereka akan ingat jasa kiai lalu berterima kasih kepada kiai. Karena berkat kiai mereka bisa hidup sejahtera. Mereka yg dulunya jarang salat, lalu mulai salat, mereka yang dulunya jarang sedekah, lalu rajin sedekah. Ketika melihat masjid yang mulai usang dan roboh, mereka lalu merenovasi dan mendirikan mesjid. Masjid baru berdiri setelah komunitas masyarakatnya terbangun, solid, dan sejahtera secara ekonomi.

Baca Juga :  Anjuran Adzan dan Iqamat pada Telinga Bayi yang Baru Lahir

Kiai Chudori sebenarnya sangat paham bahwa “siapa yg membangun mesjid di dunia, maka Allah akan membangun istana baginya di surga”. Jika diamalkam secara tekstual, memang seperti itu. Tapi ilmunya kiai Chudori sudah sampai pada fiqh dakwah, bukan di level ilmu dakwah seperti halnya kaum santri dan kita.

Karena seandainya Kiai Chudori membela kaum santri dan dana desa digunakan untuk membangun masjid, tentu kaum seniman akan benci dan menjauhi kiai yang ujungnya akan menjauhi Islam. Apakah seperti ini dakwah yang diajarkan oleh Nabi.

Kita berdakwah kepada manusia bukan kepada batu. Masjid terdiri atas kumpulan batu-batu yang tidak punya perasaan dan tak bisa berterimakasih. Sedangkan jika fokus dakwahnya membangun manusia; setelah manusia terbangun, ekonomi tercukupi, kehidupan solid, maka dakwah Islam akan berjalan lancar.

Dalam pendekatan dakwahnya Kiai Chudori, biarkan mereka menikmati hidup yang maslahat. Beri mereka fasilitas. Lama kelamaan mereka akan sadar sendiri, lalu berterima kasih kepada kiai dan dengan sendirinya mesjid dan pesantren akan dibangun dan dirawat.

Demikianlah cara dakwah yang diterapkan oleh para ulama kita sejak dulu. Berdakwah dengan merangkul, bukan memukul, mendidik bukan menghardik dan mendekati bukan menjauhi. Berdakwah dengan pendekatan, keramahan, dan teladan adalah ciri dakwah ulama Nusantara.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here