Pendapat Ahli Tentang Kapan Islam Masuk ke Tiongkok

0
91

BincangSyariah.Com – Upaya syiar agama Islam ke berbagai negara di dunia menjadi salah satu konsentrasi umat Islam sejak era Khulafa Ar-Rasyidin. Tidak hanya melulu di kawasan Timur Tengah, Afrika dan Eropa namun perhatian besar mereka juga merambah ke kawasan-kawasan di Asia Timur, termasuk satu diantaranya Tiongkok atau China.

Muslim Tiongkok termasuk minoritas. Sehingga pamornya seakan tertutup oleh gemerlap kawasan bermayoritas Muslim seperti Mesir, Maroko, Tunisia, Iran dan lain sebagainya. Meski begitu, ini tidak lantas membuat para ahli sejarah melupakan begitu saja titik awal Muslim di negeri tirai bambu ini. Adapun soal kapan Islam masuk ke Tiongkok, para ahli berbeda pendapat.

Pendapat pertama meyakini bahwa Islam masuk ke Tiongkok sejak era Rasulullah Saw yaitu pada akhir masa Dinasti Sui dan awal masa Dinasti Tang. Dikutip dari Perkembangan dan Peranan Umat Islam di China karya Fahmi Irfani, teori ini didukung oleh Ibrahim Tien Ying Ma.

Menurutnya, pada saat itu para sahabat tengah berhijrah ke Ethiopia. Karena merasa tidak cocok dengan pola kehidupan disana, Sa’ad ibn Lubaid ikut melancong bersama kafilah dagang menuju Kanton, pusat perdagangan China. Kemudian ia bersama Yusuf seorang pedagang Arab mendirikan Masjid Kwang Tah Se dan Masjid Che Linde. Keduanya merupakan masjid tertua di wilayah tersebut.

Selain Sa’ad ibn Lubaid, ada juga tokoh lain yang diyakini sebagai pembawa awal Islam ke China. Misalnya, Abdul Wahab bin Abi Kashab, konon ia ditugaskan Rasulullah untuk memberikan hadiah serta menyampaikan syiar Islam kepada panguasa China. Pendapat ini diusung oleh Anshari Thayib.

Kanton sebagai pusat perdagangan internasional telah menjadi titik temu antar kafilah dagang dari berbagai wilayah dunia, tidak terkecuali bangsa Arab. Sebelum Islam datang, mereka telah berkenalan lama dengan China melalui ikatan perdagangan tadi. Sehingga, meski jarak antar kedua negara teramat jauh, nama Shin (China) sudah begitu populer di kalangan Arab. Kata Shin sendiri merujuk pada ibukota Dinasti Tang yaitu Shian/Changan.

Pembenaran lainnya, bahwa China telah dikenal Arab sejak abad 7 adalah adanya peningkatan kafilah dagang baik dari Arab atau Persia. Dalam kisahnya, bangsa Arab telah mengirimkan sebanyak 37 kali utusan ke China dari tahun 651 M hingga 798 M (Ibrahim Tien Ying Ma, dikutip oleh Ismail Suardi dalam Minoritas Islam di China). Selain itu, di sekitar abad 5 dan 6 M,  pedagang China pun sering kali berlayar dan singgah di pelabuhan Siraf, yang terletak di sekitaran teluk Arab.

Thariq Fathi Sultan dalam Al-‘Arab wa As-Shin Fi Al-Asr Al-Wustha juga membahas topik di atas. Menurutnya, bangsa Arab telah memiliki ikatan erat dengan China mengingat letak Arab masuk dalam jalur strategis perdagangan internasional. Di sisi lain, wilayah ini kerap menjadi kawasan transisi yang menampung barang dagang dari barat dan timur. Adapun kawasan yang paling getol berinteraksi dengan pedagang asing adalah warga  di sekitar teluk Arab.

Jika dilihat dari kaca mata geografis, untuk sampai ke China hanya ada dua jalur yaitu jalur darat (jalur sutera) atau melalui jalur laut. Beberapa ahli mengungkap bahwa jalur yang ditempuh para Sahabat kala itu adalah jalur darat. Sambil menikmati perjalanan yang cukup jauh, mereka memperkenalkan Islam kepada khalayak.

Teori ini diperkuat dengan fakta di kawasan bagian barat China Islam lebih cepat bersemi dibanding kawasan bagian timur. Terlebih adanya bukti sejarah berupa makam para Sahabat di area barat negara China yang masih bisa dijumpai hingga saat ini (Asmanidar, Potret Tamaddun di Negeri Tirai Bambu).

Pendapat kedua menyatakan bahwa Islam masuk ke China pada masa Khalifah Utsman bin Affan. Tahun 30 H (651 M) sang khalifah mengutus delegasinya, Sa’ad bin Abi Waqqas untuk menemui Kaisar Yong Hui di China. Konon salah satu amanat yang dibawa adalah agar sang kaisar tidak ikut campur dalam perseteruan antara Islam dan Persia.

Menurut catatan Fahmi Irfani pendapat di atas diusung oleh sebagian besar sarjana seperti Kong Yuan Zhi, Sachiko Murata dan Marshall Bramhall. Teori ini diperkuat dengan adanya bukti otentik berupa catatan Dinasti Tang yang secara resmi menyatakan bahwa pada tahun tersebut untuk pertama kalinya, delegasi Utsman dikirim ke Tiongkok dan diterima oleh Kaisar Yong Hu.

Dalam catatan Thariq Fathi dipaparkan selain gemar memperkuat kerja sama dagang internasional, Tiongkok juga rajin memperkuat hubungan luar negerinya dengan saling mengirim dan menyambut hangat duta dari negara lain, termasuk Islam itu sendiri. Sejumlah tawaran menarik sering kali diajukan agar negara lain mau bekerja sama misalnya dengan kebolehan berdagang di negaranya.

Masih soal hubungan diplomatik Islam dan China. Ikhtiar penguatan kerja sama antar keduanya terus digalakkan dari masa ke masa. Contohnya di masa Khulafa Ar-Rasyidin. Thariq Fathi menuturkan bahwa pada era tersebut pernah dikirim dua duta Muslim ke China di sekitar tahun 30 hingga 31 H. Setelah itu, hubungan diplomatik sempat terputus hingga tahun 61 H.

Penyebabnya antara lain pada saat itu umat Islam tengah disibukan dengan konflik internal dari mulai pembunuhan Khalifah Utsman bin Affan, terjadinya sejumlah pertempuran internal di masa Ali bin Abi Thalib hingga munculnya sederet permasalahan di awal era Dinasti Umayyah. Pada dekade selanjutnya, hubungan Arab dengan China mulai mencuat kembali pasca pembebasan Transaxonia.

100%

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here