Mengenal Enam Pencari Akhirat Menurut Syekh Muhammad Amin al-Kurdi

0
1658

BincangSyariah.Com – Agama (Islam) memiliki tiga dasar yang saling melengkapi dan tidak boleh dipisahkan satu sama lain, yaitu Islam, iman, dan ihsan. Menurut laporan The World’s 500 Most Influential Muslims, 2020, ketiga hal ini merupakan esensi dan substansi dari agama Islam itu sendiri (2019: 24). Apabila dipersempit, maka iman identik dengan tauhid; Islam identik dengan fikih; dan ihsan identik denga akhlak atau tasawuf.

Dalam hal ini, Syekh Muhammad Amin al-Kurdi, seorang ulama terkemuka bermazhab asy-Syafi‘i dan sufi ternama beraliran tarekat Naqsyabandiyah, menulis sebuah kitab berjudul Tanwir al-Qulub fi Mu‘amalah ‘Allam al-Guyub. Menurut pemahaman penulis, beliau menulis kitab tersebut mengikuti skema esensi agama (Islam), yaitu: iman, Islam, dan ihsan.

Sebab, beliau membahas masalah tauhid dan perkara-perkara yang terkait dengannya pada bagian pertama kitab tersebut; pada bagian kedua membahas masalah fikih dalam mazhab asy-Syafi‘i; dan pada bagian ketiga (terakhir) membahas masalah tasawuf dan beberapa ajaran tarekat Naqsyabandiyah.

Dalam kesempatan ini, penulis hanya mengulas enam jenis para pencari akhirat yang disebutkan oleh Syekh Muhammad Amin al-Kurdi ketika mengawali pembahasan tawasuf (hlm. 401-403).

Hal ini dilakukan karena sebagian orang masih sering salah paham tentang tasawuf dan jalan akhirat. Sehingga tasawuf dan jalan akhirat seakan-akan hanyalah khusus kepada para ulama, ustaz, atau para ahli ibadah yang senantiasa menghabiskan waktunya untuk beribadah, baik salat, zikir, salawat, maupun membaca al-Qur’an.

Padahal, menurut Habib Zain bin Smith, jalan menuju Allah adalah sebanyak nafas makhluk-makhluk-Nya. Oleh karena itu, seseorang bisa sampai kepada Allah melalui jalan zuhud, atau sedekah, atau memperbanyak salawat kepada Rasulullah saw. (al-Fawa’id al-Mukhtarah, 2008: 128).

Sementara Syekh Muhammad Amin al-Kurdi menyebutkan bahwa terdapat enam jenis para pencari akhirat agar mendapatkan kebahagiaan hidup kelak di akhirat, yaitu: hamba (‘abid), alim (‘alim), pelajar (muta‘allim), pejabat (walin), pekerja (muhtarif), dan orang yang menyatukan diri dengan Zat Yang Maha Esa (muwahhidun).

Pertama, hamba (‘abid) adalah orang yang senantiasa beribadah kepada Allah di sepanjang hari dan malamnya. Artinya, dia tidak mengerjakan perkara lain selain beribadah kepada Allah. Sebab, kalau dia berhenti beribadah, maka dia akan menganggur. Oleh karena itu, dia harus menghabiskan waktunya dengan beribadah dan menghadiri majelis zikir.

Kedua, alim (alim) adalah orang yang memberikan manfaat kepada orang lain dengan ilmu pengetahuannya, baik berupa fatwa, mengajar secara langsung, maupun menulis karya. Oleh karena itu, beberapa kegiatan ilmiah ini merupakan perkara yang paling utama bagi alim setelah salat wajib dan sunah rawatib.

Namun demikian, dia harus mengajarkan ilmu yang membawa seseorang cinta kepada kehidupan akhirat dan zuhud dalam persoalaan keduniaan; atau mengajar ilmu yang bisa membantu seseorang meniti jalan akhirat. Dengan demikian, dia tidak boleh mengajarkan ilmu yang hanya membuat seseorang cinta kepada dunia, pangkat, dan ingin terkenal dalam kehidupan dunia.

Ketiga, pelajar (muta‘allim) adalah orang yang sedang mencari ilmu semata-mata karena mengharap rida Allah. Oleh karena itu, dia lebih utama menyibukkan diri dengan belajar daripada zikir dan melaksanakan ibadah sunah mutlak. Namun demikian, dia sepatutnya tidak boleh meninggalkan zikir dalam setiap harinya.

Sebab, hal itu akan membantunya untuk mendapatkan ilmu pengetahuan. Berbeda apabila pelajar tersebut masih termasuk kalangan awam, maka dia lebih utama menghadiri majelis dakwah dan ilmu pengetahuan daripada menyibukkan diri dengan zikir.

Dalam konteks Indonesia, menurut penulis, sebaiknya mencari majelis dakwah dan ilmu yang membuat hati semakin tenteram dan akal semakin terbuka.

Namun, apabila menemukan majelis dakwah dan ilmu yang hanya membuat hidup semakin susah, hati dan pikiran semakin gelisah, suka mencaci-maki dan mengafirkan Muslim lain yang tidak sepaham, suka menggunakan kekerasan untuk melawan pihak-pihak tertentu yang dianggap musuh agama, maka sebaiknya tinggalkan saja.

Sebab, di bumi Nusantara ini masih banyak majelis dakwah dan ilmu yang menyegarkan hati dan mencerahkan pikiran, seperti yang berkembang dalam tradisi Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama (NU), dan sejenisnya.

Adapun beberapa aspek spiritual yang sangat membantu para pelajar dalam memperkuat hapalan dan ingatan adalah: bersungguh-sungguh, istikamah, menyedikitkan makan, salat malam, membaca al-Qur’an dengan melihat, membaca doa “bismillah wa subhanallah wal hamdulillah wa la ilaha illallah wallahu akbar wa la hawla wa la quwwata illa billahil ‘aliyyil ‘azhim al-‘azizil ‘alim ‘adada kulli harfin kutiba wa yuktabu abadal abidin wa dahrad dahirîn” ketika hendak belajar dan membaca buku, membaca doa “amantu billahil wahidil ahadi wahdahu la syarika lahu wa kafartu bima siwahu” setiap habis salat fardu, dan memperbanyak salawat kepada Rasulullah saw. (Syekh az-Zarnuji, Ta‘lim al-Muta‘allim Thariq at-Ta‘allum, hlm. 41).

Keempat, pekerja (muhtarif) adalah orang yang harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Oleh karena itu, dia tidak boleh menyiakan-nyiakan keluarganya dengan hanya menghabiskan waktunya untuk beribadah. Sehingga apabila waktu bekerja sudah tiba, maka dia harus segera melaksanakan wiridnya, yaitu mendatangi tempat kerja dan menyibukkan diri dengan bekerja.

Namun demikian, sepatutnya dia tidak boleh meninggalkan zikir kepada Allah ketika sedang bekerja. Dia bisa berzikir melalui hatinya, baik istikamah membaca tasbih, zikir-zikir lain, dan membaca al-Qur’an. Sebab, perbuatan ini (zikir dalam hati) memungkinkan dilakukan meskipun sambil bekerja dan tidak menyebabkan pekerjaan tersebut terhenti. Adapun apabila sudah selesai bekerja, maka dia harus fokus untuk melaksanakan ibadah.

Kelima, pejabat (al-wali) adalah orang yang dipasrahkan untuk mengurusi kemaslahatan umat, seperti pemerintah dan hakim. Oleh karena itu, dia harus melaksanakan tugas dalam rangka memenuhi kebutuhan masyarakat yang sejalan dengan syariat Islam dan dilakukan secara ikhlas. Perbuatan ini bagi seorang pejabat adalah lebih utama daripada menyibukkan diri dengan zikir. (Baca: Nabi Khidir Sebut Imam asy-Syafi‘i Sebagai Wali Abdal)

Dengan demikian, dia harus menyibukkan waktu siangnya untuk memenuhi kepentingan rakyat dan tidak boleh berlama-lama ketika melaksanakan salat wajib dan sunah rawatib. Adapun ketika malam tiba, maka dia bisa melaksanakan ibadah zikir dan sejenisnya.

Keenam, al-muwahhid adalah orang yang menyatukan diri dengan Zat Yang Maha Esa. Oleh karena itu, kehendaknya hanyalah satu, yaitu Allah Yang Maha Esa. Dia tidak mencintai siapapun kecuali Allah. Dia tidak takut kepada siapapun kecuali kepada Allah. Dia tidak mengharapkan rezeki dari siapapun kecuali dari Allah.

Muslim yang sudah diangkat derajatnya oleh Allah kepada maqam (kedudukan) ini, maka dia tidak membutuhkan wirid-wirid lagi. Sebab, wiridnya setelah melaksanakan salat wajib dan sunah rawatib hanyalah satu, yaitu hatinya senantiasa bersama Allah dalam setiap keadaan. Tidak terbesit satu perkarapun dalam hatinya kecuali Allah. Pendengarannya tidak terganggu oleh cacian dan hinaan siapapun. Matanya tidak tergoda untuk melihat sesuatu kecuali apabila sesuatu itu mengandung pelajaran, pemikiran, dan hikmah.

Maqam ini merupakan derajat ash-shiddiqin (orang-orang yang benar, jujur, dan lurus). Seorang Muslim tidak akan bisa sampai kepada maqam ini kecuali telah mengamalkan, istikamah, dan berpegang teguh kepada wirid-wirid tertentu. Oleh karena itu, para pecinta akhirat tidak boleh tertipu dan mengklaim dirinya telah sampai kepada maqam ini.

Sehingga kemudian mengendorkan atau bermalas-malasan dalam beribadah. Sebab, tanda bahwa seorang Muslim telah mencapai maqam ini adalah tidak terlintas godaan-godaan setan dalam hatinya, tidak terbesit sedikitpun dalam hati dan pikirannya perkara-perkara maksiat, dan tidak pula cemas oleh huru-hara kesusahan dan teror.

Barangkali al-muwahhid ini termasuk wali Allah, sebagaimana disebutkan dalam Yunus (10): 62-63, yaitu: “ingatlah wali-wali Allah itu, tidak ada rasa takut pada mereka, dan mereka tidak bersedih hati. (Yaitu) orang-orang yang beriman dan senantiasa bertakwa.” Wa Allah A‘lam Wa A‘la wa Ahkam…

100%

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here