Pencapaian Dinasti Bani Abbad dan Keruntuhannya

0
78

BincangSyariah.Com – Pasca wafatnya al-Mu’tadhih, kekuasaan wilayah Dinasti Bani Abbad diserahkan kepada putranya, Abi al-Qasim Muhammad bin Abbad yang dijuluki dengan ad-Dhzofir, Haulillah, al-Muayyad Billah, al-Mu’tamid ‘alallah. Namun julukan yang paling terkenal adalah al-Mu’tamid. Ia menjabat sebagai Pemimpin dinasti ini saat usianya 30 tahun. Ia lahir pada 1040 M/1041 M sebab ada beberapa perbedaan pendapat terkait tahun kelahirannya. Al-Mu’tamid dikenal berkarakter pemberani, suka berperang, ahli dalam bidang sastra karena melahirkan syiir dan natsr. Ia juga dikenal dengan karakter cerdas dan dermawan.

Berambisi Menguasai Wilayah Granada

Dalam hal perpolitikan, ia berambisi untuk mengusai wilayah sekitarnya termasuk wilayah Granada. Penguasa Granada pun dijadikan rivalnya. Al-Mu’tamid mengerahkan upayanya untuk menguasai Granada sampai akhirnya bisa menguasai wilayah Jayyan yang menjadi bagian dari Granada pada tahun 1074. Sebelumnya ia juga berhasil mengambil wilayah kekuasaan Bani Dzun Nun yaitu, Cuenca, Murcia dan Valencia. Meski telah mengambil wilayah Jayyan milik Granada, ia tetap tidak puas. Hingga pada akhirnya ia dan konflik dengan penguasa Granada, Abdullah bin Bulaqqin.

Dalam konflik ini ia meminta tolong kepada kaum Nasrani melalui perantara saudaranya yang muslim. Selain mengalami konflik dengan penguasa Granada, ia juga memiliki konflik dengan penguasa Toledo. Konflik akhirnya usai karena Toledo lebih dahulu dikalahkan oleh Penguasa Kerajaan Kristen, Alfonso VI.

Pada masa kepemimpinannya memegang Dinasti Bani Abbad kekuasaannya hampir menguasai separuh wilayah Semenanjung Siberia. Jika dilihat dari wilayah barat ia menguasai wilayah Tudmir sampai ke Samudera Atlantik, dari sisi selatan ia menguasa perbatasan Sungai Guadiana sampai Frontera. Ketenarannya tidak hanya dalam hal perpolitikan, tetapi juga kemampuannya dalam membuat syair, seperti yang pernah ia buat untuk anaknya agar mau meneruskan kepemimpinannya. Tetapi, anaknya itu wafat terjadi pada tahun 1095 M.

Pencapaian Dinasti Bani Abbad

Meski hanya melewati tiga masa kepemimpinan yaitu sejak 1022 sampai wafatnya al-Mu’tamid, Dinasti Bani Abbad yang mulanya hanya menguasai Sevilla akhirnya bisa menguasa wilayah-wilayah yang dikuasai Dinasti Juhur di Cordoba dan dinasti lainnya. Pencapaian Dinasti Bani ABbad tidak hanya di bidang politik dan militer, masa-masa kepemimpinannya juga sangat peduli dengan ilmu sastra. Terlebih pemimpin-pemimpinnya adalah seorang sastrawan ulung. Begitu juga dalam pengembangan ilmu fikih, para ulama diberi jaminan khusus agar terus mengembangkan keilmuannya dengan mengajar. Bukti daripada prioritasnya kepada para penyair dan sastrawan ialah dengan menjadikan mereka sebagai pejabat pemerintahan baik di kementrian atau lainnya.

Penyair yang terkenal pada masa pemerintahan Banu Abbad adalah Ibnu Zaidun yang  bernama lengkap Abu al-Walid Ahmad bin Zaidun al-Makhzumi. Ia terkenal sebagai penyair beraliran neo-klasik yang lahir pada tahun 1003 M dan wafat 1071 M. Syair yang dibuat olehnya banyak terinspirasi dari pengalaman pribadinya dan kisah cintanya dengan Wallada bint al-Mustakfi, putri Khalifah Umayyah II, Muhammad bin Abdurrahman bin Ubaidillah.

PSelain Ibnu Zaidun, terdapat juga Ibnu al-Labanah yang bernama lengkap Muhammad bin Isa bin al-Labanah (w. 1113 M). Ia terkenal sebagai penyair yang isinya bertujuan untuk memuji para penguasa termasuk kepada al-Mu’tamid bin Abbad. Sehingga ia begitu dekat dan dicintai oleh al-Mu’tamid bin Abbad. Selain itu juga terdapat penyair dan politikus yaitu, Ibnu Ammar yang bernama lengkap Abu Bakar bin Ammar. Ia menjadi menteri sekaligus duta besar pada masa kepemimpinan al-Mu’tamid bin Abbad. Nama-nama penyair tersebut menjadi bukti bahwa Dinasti Bani Abbad yang berpusat di Sevilla sangat memperhatikan para penyair dan keilmuan di bidang sastra juga Fiqih.

*diolah dari:

“Qisshoh al-Andalus min al-Fath ila as-Suquth” karya Raghib as-Sirjani;

“Islamic Desk Reference” karya Emeri van Dozel yang dikutip oleh Wikipedia berbahasa Indonesia;

“Sayr a’lam an-Nubala” karya ad-Dzahabi yang juga dikutip oleh Wikipedia berbahasa Arab.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here