Pemuda Tersesat dari Tabi’ut-Tabiin yang Doyan Mabuk

0
32

BincangSyariah.Com- Seorang muda, seorang pria berandal. Ia manusia tak kenal agama. Seorang pemuda tersesat dari kalangan generasi kedua setelah tabi’in. Tak tahukah ia akan Tuhan? Entahlah. Yang saya tahu, ia sorang alkoholik tulen. Khamar adalah kawan setianya. Tak ada hari yang dilalui tanpa seteguk minuman keras. Moto hidupnya; No miras, No happy !.

Pemuda tersesat itu Abdullah bin Maslamah bin Qa’nab Al Qa’nabi Al Haritsiy, Abu ‘Abdur Rahman. Abdullah Al-Qa’nabi termasuk dari kalangan, Tabi’ut Tabi’in. Ia lahir sekitar tahun 130 Hijrah.

Pada masa lalu, Abdullah Al-Qa’nabi jauh dari hidup lurus. Ia pemuda tersesat yang tinggal di kota Basrah. Kehidupannya sembrono. Jauh dari ajaran Islam. Saban hari yang ia kenal hanya minuman keras. Pemuda gaul, begitu populernya.

Kitab Durus Li as Syaikh Salman al Au’dah  memotret kelakuan kelam Abdullah Al- Qa’nabi;

كان هذا شاباً مراهقاً طائشاً لا هم له إلا مجالسة أمثاله من السفهاء ومعاقرة الخمر وإيذاء الناس في الشوارع وغير ذلك من الأعمال التي يقوم بها أمثاله من السفهاء، وكان يلبس ثياباً تليق بأمثاله من الشباب المراهقين في ذلك العصر

Artinya; Ia adalah seorang pemuda yang sembrono. Dalam kehidupan sehari-hari, ia tidak melakukan apa-apa selain duduk dan bergaul dengan teman-temannya yang idiot. Mereka menyalahgunakan alkohol, menyakiti orang-orang di jalanan, dan perbuatan lain yang dilakukan bejat lain yang dilakukan para pemuda bodoh seperti mereka. Pakaian pun kusut, menyesuaikan dirinya dengan para remaja laki-laki era itu.

Demikian sekilas gambaran hidup Abdullah Al-Qa’nabi, sang pemuda tersesat. Pemabuk. Brandal. Tak punya moral. Jauh dari masa depan cerah. Ia adalah semboyan pemuda yang jauh dari tuntunan Islam.

Sang pemuda tersesat taubat

 

Kilas balik hidup Abdullah Al-Qa’nabi, tatkala ia bertemu dengan seorang lelaki alim. Seorang yang ahli dalam  bidang hadis. Pun seorang ulama yang disegani dan hormati. Lekaki itu bernama, Syu’bah bin Hujjah.

Alkisah, kala itu Abdullah Al-Qa’nabi  tengah menunggu para rekan tongkrongannya. Ia pun duduk di pintu rumahnya. Sambil duduk, ia memegang pisau di tangan kanannya. Dan juga khamar di tangan sebelah kiri.

Di tengah penantiannya, tiba-tiba dari depan rumahnya lewat seorang laki-laki. Pria ini datang dengan menunggang kedelai.  Memakai serban. Dan jubah kebanggaannya. Ia lihat dari belakang pria ini, panjang nian barisan orang yang mengikutinya.

Al-Qa’nabi pun merasa heran. “Siapa pria yang lewat tadi?,” tanya Al-Qa’nabi pada para rombongan itu. “Anda tak kenal,” jawab mereka. “Tidak kenal sama-sekali” tukasnya. Sembari geleng-geleng kepala mereka menerangkan, “Itu adalah Syu’bah bin Hajjaj,” jelas mereka.

Sebagai seorang klan pemuda tersesat, tentu Abdullah Al-Qa’nabi asing dengan nama tersebut. Sebagai berandal, yang ia tahu hanya dunia hitam. Khamar. Belati. Dan pedang. Ia tak akrab dengan yang berbau keagamaan.

“Siapa Syu’bah?” tanyanya kemudian. “Anda tak tahu Syu’bah? Ia adalah seorang alim dan ahli hadis,”. Mendengar jawaban itu, muncul rasa penasaran si pemuda tersesat.

Sebagai berandal, tak ada yang ia takutkan. Ia mendaku diri sebagai jawara. Semua orang segan akan dia.  Siapa berani memberontak, nyawa taruhannya. Abdullah Al-Qa’nabi pun berlari menuju si Alim dan Ahli Hadis itu.

Peristiwa dramatis itu dinukil oleh Syekh Salman bin Fahad bin Abdullah Al-Auda’. Berikut kejadiannya;

وقال له: حدثني، اقرأ علي حديثاً حتى أرويه عنك، فقال: لستَ من أهل الحديث، أنت سفيه لا تستودع العلم والحديث، وغضب هذا الغلام ورفع السكين، وقال له: حدثني وإلا ضربتك بهذا السكين! فلما رأى شعبة هذا الموقف؛ حدثه حديثاً يناسب المقام، فقال: حدثني منصور عن ربعي عن أبي مسعود أن النبي صلى الله عليه وسلم قال: {إذا لم تستح فأصنع ما شئت} وهذا الحديث مناسب لحال هذا الغلام الذي لم يستح، فأقدم على تهديد هذا العالم الجليل بأن يحدثه وإلا جرحه بالسكين التي كانت في يده، فقرأ عليه قول النبي صلى الله عليه وسلم: {إذا لم تستح فاصنع ما شئت

Artinya; Al-Qa’nabi bertanya pada Syu’bah, “Katakan padaku, baca sebuah hadits sehingga aku dapat meriwayatkannya, yang berasal dari Anda,”. Mendengar perintah itu, Syu’bah kaget. Lantas ia berkata, “Engkau bukan ahli hadis. Kamu hanyalah seorang bodoh. Tak akan mampu menerima ilmu dan hadis.

Sontak saja mendengar hinaan tersebut, Al-Qa’nabi naik pitam. Matanya merah. Ubun-ubunnya pun mendidih. Dengan segera ia hadapkan pisau yang ditangannya ke arah Syu’bah. “Katakan kepada ku, bila tidak, maka pisau ini akan melayang ke arah mu,” ancam si pemuda tersesat.

Sadar berada dalam posisi terjepit, Syu’bah pun mencari jalan keluar.  Ia membuat strategi. Ia akan menyampaikan hadis yang menggambarkan kebejatan pemuda tersebut. Mulai ia membaca hadis dari Baginda Nabi.

( حدثني منصور عن ربعي عن أبي مسعود أن النبي صلى الله عليه وسلم قال: {إذا لم تستح فأصنع ما شئت

Artinya: Menceritakan akan daku Mansur bin Rabii dari Abi Mas’ud bahwa nabi bersabda; Apa bila tak memiliki rasa malu pada diri mu, maka perbuatlah apa yang engaku inginkan.

Bak disambar petir di siang bolong. Bergetar hatinya mendengar hadis ini. Sabda baginda Nabi ini menembus ruhnya, menusuk ke hati paling dalam. Si pemuda tersesat, seketika bak mendapatkan secercah cahaya hidayah. Ia yang berandal, dan penuh dengan dunia hitam, takluk dengan sebuah hadis tentang “rasa malu”.

Usai mendengar hadis itu, ia pun bergegas pulang. Hati sanubarinya berkecamuk. Ada yang mengganjal dalam dirinya. Tanpa di sadari jatuh air matanya. Tampak, hidayah Tuhan memilih si pemabuk itu. Tuhan menunjuki si berandal ini jalan kebaikan.

Sesampainya di rumah. Ia langsung menghancurkan pelbagai koleksi minuman keras yang biasa ia komsumsi. Botol demi botol ia hancurkan. Miras itu berserakan di lantai rumah. Hingga tak tersisa sedikit pun.

“Ibu, bila nanti teman-teman ku datang, beri makan mereka. Jamu mereka dengan hidangan yang mewah. Setelah makan, ceritakan kepada mereka, apa yang aku lakukan kepada koleksi minuman keras ku,” pinta Al-Qa’nabi pada ibunya.

Berguru kepada Imam Malik

 

Pertemuan singkat dengan Syu’bah membekas di hati Al-Qa’nabi. Ia pun memutuskan meninggalkan rumah. Ia pergi berkelana. Belajar akan ilmu agama, itu tujuannya selanjutnya. Sadar akan kebodohan dan kesia-sia hidup selama ini.

Al-Qa’nabi pun mendengar kabar dari orang yang ia temui, tentang kemasyhuran satu tokoh—pakar dalam bidang fiqih dan hadis. Tokoh itu tinggal di Madinah. Ia bergegas ke sana. Dalam tekadnya ingin menuntut ilmu pada ahlinya.

Di Madinah ia pun bersua dengan Imam Malik bin Anas. Ulama yang masyhur namanya yang ia dengar dari orang yang ia temui. Dari Imam Malik ia belajar hadis. Siang dan malam ini menghafal  dan mendalami kitab al Muwatta’ Imam Malik.

Menurut Salman Au’da’ Al-Qa’nabi merupakan murid terpandai Imam Malik. Ia menguasai kitab Muwatta’. Dan juga menjadi murid kesayangan Imam Malik. Si pemuda tersesat, seketika berganti status menjadi pemuda tercerahkan.

Setelah cukup lama belajar dengan Imam Malik di Madinah, Al-Qa’nabi pun memutuskan untuk kembali ke Basrah. Ia ingin sekali mengabdikan diri di tempat asalnya. Segera ia pulang kembali ke negeri asal-usulnya. Tempat yang dulu ia pernah menjadi pemabuk dan berandal.

Dalam perjalanan, yang ia niatkan adalah menimba ilmu dari orang yang menunjukkan hidayah, Syu’bah bin Hajjaj. Ia telah bulat tekad, untuk menjadi murid Syu’bah.

Nahas, sesampai di Basrah, kabar buruk menimpanya, “Si alim dan ahli hadis”, Syu’bah bin Hajjah telah meninggal,” begitu kata orang. Berurai air matanya. Jatuh membasahi pipi. Niat hati ini menimba ilmu. Ulama besar itu telah kembali ke tempat asal.

Tak ada yang bisa ia lakukan. Lama ia tertegun. Penyesalan mungkin ada, tapi rasa syukur akan hidayah mengobati itu semua. Sebagai kenang-kenangan dari Syu’bah, ia memperoleh hadis Nabi, sekaligus yang membawa pertaubatan pemuda tersesat ini.

Hadis itu adalah;

إذا لم تستح فأصنع ما شئت

artinya; apabila rasa malu telah hilang, maka perbuatlah apa yang kamu inginkan.

Demikian kisah hidup pemuda tersesat dari  tabi’ut-tabiin yang doyan mabuk

(Baca: Fudhail bin Iyadh; Pemuda Tersesat yang Jadi Ulama Besar)

Celengan Pemuda Tersesat
Celengan Pemuda Tersesat

 

100%

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here