Pemikiran Muhammad bin Tumart yang Menyimpang

0
198

BincangSyariah.Com – Ali bin Yusuf bin Tasyfin, sang Amir sudah mendengar nama Muhammad bin Tumart dan tindakan-tindakannya selama di Maroko. Ia kemudian merencanakan pertemuan dengan Muhammad bin Tumart untuk membuka forum debat. Ia berpikir, sebagai pemimpin Murabithun, ia bisa mengalahkan Muhammad bin Tumart sehingga bisa menjebloskannya ke penjara. Dengan begitu, ia bisa kembali leluasa menjalankan pemerintahannya.

Muhammad bin Tumart beserta enam muridnya bertolak ke Marrakesh memenuhi panggilan sang Amir. Saat forum debat berlangsung, tak disangka dan sangat di luar ekspetasi, Muhammad bin Tumart mampu mengalahkan Ali bin Yusuf beserta para ulama Murabithun. Mereka sungguh kalah telak.

Kemampuan yang dimiliki oleh Muhammad bin Tumart ini lahir dari proses belajarnya yang panjang di beberapa negara dan beberapa ulama. Ia belajar kepada ulama di Mekkah, Mesir, Baghdad dan beberapa negara Islam lainnya. Ia juga menguasai teknik-teknik debat dan belajar dari ulama yang bermacam-macam alirannya. Ulama pemerintah Murabithun tahu bahwa Muhammad bin Tumart akan sering melakukan provokasi terhadap rakyat Murabithun jika terus dibiarkan. Tapi pada akhirnya pun, Muhammad bin Tumart beserta keenam muridnya dibebaskan.

Selepas memenangkan perdebatan dengan pimpinan Murabithun, ia beserta keenam muridnya bertolak menuju sebuah desa bernama Thenmala di sebuah negara yang bersebelahan dengan Maroko. Di sanalah ia mulai berdakwah. Dakwahnya diterima oleh kalangan setempat, bahkan beberapa orang justru mendatanginya untuk belajar karena namanya yang telah dikenal sebagai ulama yang alim. Dari situlah ia berhasil merekrut beberapa muridnya untuk bergabung mewujudkan misinya dalam menyingkirkan pemerintahan Murabithun. Setelah mengumpulkan beberapa muridnya ia lalu menamainya dengan “jamah al-Muwahhidun” yang berarti “kumpulan orang-orang yang mengesakan Allah”.

Baca Juga :  Muhammad bin Tumart: Penggagas Dinasti Muwahhidun

Semakin kuat kedudukannya semakin menyimpang pula tindakan dan pemikirannya. Ada beberapa penyimpangan yang dirangkum oleh Dr. Raghib as-Sirjani dalam karyanya ini, Qisshoh al-Andalus min al-Fath ila as-Suquth. Berikut beberapa pemikirannya yang kontroversial dan menyimpang:

Pertama, mengaku berpredikat makshum. Para ulama dari kalangan Ahli Sunnah wal Jama’ah berpendapat bahwa hanyalah Nabi yang berhak mendapat predikat makshum. Bahkan keluarga dan sahabatnya sekalipun tidaklah demikian. Pengakuannya ini mengarah pada pemikiran kelompok Syi’ah yang meyakini Imam itsna asyaro (12) adalah makshum, alias terjaga dari dosa. Dengan demikian, menurut Syiah, kedudukan imam-imam mereka sama seperti Nabi. Secara tidak langsung, Muhammad bin Tumart mengklaim dirinya setara dengan Nabi yang bersifat makshum.

Kedua, menuduh orang-orang Murabithun sebagai kaum mujassimin. Dalam hal lain, Muhammad bin Tumart berpikiran seperti Mu’tazilah. Ia tak menafikan sifat-sifat Allah yang ditetapkan oleh Asy’ariyah dan Murabithun menganut akidah yang demikian. Sehingga ia menyatakan bahwa orang-orang Murabithun adalah kaum Mujassimin. Hal ini mengundang perdebatan yang cukup panjang. Atas tuduhan tersebut ia menganggap bahwa pemerintah Murabithun mulai dari Ali bin Yusuf bin Tasyfin beserta jajarannya dianggap sebagai kafir. Tentu, tuduhan ini sangat berbahaya. Padahal ia sendiri tinggal d wilayah kepemimpinan Dinasti Murabithun.

Ketiga, menganggap halal darah orang-orang Murabithun. Penetapan kafir terhadap pemerintahan Murabithun mengantarkan pernyataannya atas kehalalan akan darah para pejabat di Dinasti Murabithun. Sehingga ia memerintahkan anggota jamaahnya untuk membunuh siapa saja yang akidahnya bertentangan dengannya. Gerakan seperti ini sama seperti gerakan kaum Khawarij yang menentang pemerintah. Sejarawan muslim, al-Wahid al-Marrakasyi dalam kitabnya, al-Mu’jab menuturkan bahwa Muhammad bin Tumart melakukan at-Tamyiz. Itu merupakan istilah yang gunakan untuk menyeleksi siapa saja yang akidahnya benar-benar murni, siapa yang munafik. Jika ketahuan ia adalah seorang munafik dan berpaham seperti pemerintah Dinasti Murabithun maka ia akan dibunuh.

Baca Juga :  Nashiruddin At-Thusi dan Kontribusinya di Teori Trigonometri

Meski tindakannya ekstrim, provokatif, dan menyimpang dari ajaran Alquran, dengan membawa ayat dan kecerdasannya memainkan hadis, masih saja ada yang mau menjadi murid dan pengikutnya. Bahkan pengikutnya pun semakin bertambah.

Padahal jelaslah, apa yang dilakukan olehnya justru menyimpang dari ajaran Islam yang sebenarnya. Islam mempunyai konsep untuk menjaga jiwa sendiri atau sesama muslim. Ajaran tersebut tercantum dalam Alquran surat an-Nisa’ [4]: 93,

وَمَن يَقۡتُلۡ مُؤۡمِنٗا مُّتَعَمِّدٗا فَجَزَآؤُهُۥ جَهَنَّمُ خَٰلِدٗا فِيهَا وَغَضِبَ ٱللَّهُ عَلَيۡهِ وَلَعَنَهُۥ وَأَعَدَّ لَهُۥ عَذَابًا عَظِيمٗا

Artinya: Dan barangsiapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja maka balasannya ialah Jahannam, kekal ia di dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan mengutukinya serta menyediakan azab yang besar baginya

*dikelola dari kitab Qisshoh al-Andalus min al-Fath ila as-Suquth karya Dr. Raghib as-Sirjani

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here