Pembentukan Karakter Santri Melalui Jadwal yang Padat

1
413

BincangSyariah.Com – Jadwal harian santri di pesantren bisa dikatakan lebih padat daripada jadwal sehari-hari seorang bupati atau gubernur. Bahkan dari seorang presiden. Tidak hanya kegiatan belajar mengajar, di pesantren para santri tersebut diajak untuk mengasah kepribadian dan akhlak mereka. Menurut para guru pesantren, hal ini tidak lain untuk membentuk karakter santri.

Wali santri harus “tega” melihat kondisi anaknya saat baru mondok. Jangan sampai terpengaruh pada bujukan anakanya untuk berhenti mondok. Ketahuilah, padatnya kegiatan pesantren bukan untuk menyiksa santri, akan tetapi untuk membentuk jiwa santri. Mereka hidup di pesantren bukan selamanya, tapi manfaatnya dapat dirasakan hingga ke akhirat.

Coba kita perhtikan dan renungkan aktivitas sehari-hari santri. Pukul 03:00 mereka sudah harus bangun untuk melaksanakan salat malam. Di saat enak-enaknya tidur, santri harus beranjak dari tempat tidur. Bahkan ada yang sengaja berbantal botol air meneral, agar mudah terbangun. Kalau tidak bisa bangun sendiri, ada kiai dan pengurus pondok yang membangunkan mereka.

Santri berada di masjid atau musholla pesantren hingga matahari terbit. Mereka dibimbing untuk salat berjamaah, tadarus, dzikiran, dan ngaji kitab kuning. Selama kurang lebih 2 jam mereka ditempa untuk menjadi pribadi yang lebih kuat, lebih baik, dan lebih sehat. Kuat dalam bidang hafalan dan pemahaman. Baik atau saleh dalam amalan. Sehat dalam segi fisik dan psikis.

Pukul 07:00 lebih mereka harus berangkat ke madrasah. Kegiatan belajar-mengajar di sekolah atau madrasah berlangsung hingga pukul 12:00 siang. Para santri mengaji berbagai bidang keilmuan di madrasah pada guru-guru yang sudah sarat pengalaman “kesantrian”. Sekolah formal tetap dilaksanakan di pesantren, walau terkadang kurikulumnya berkiblat pada pesantren yang menaungi, bukan pada kurikulum nasional.

Baca Juga :  Akhir Cerita Konflik Bani Hud dan Bani Zunnun di Tanah Andalusia

Perlu diketahui, mengajar santri harus memiliki kesabaran yang tinggi. Utamanya guru yang datang dari luar pesantren. Karena santri terkadang tidur di kelas dengan alasan bangun malam atau kecapekan karena padatnya kegiatan pondok. Guru harus telaten dalam membina dan membimbing santri.

Guru madrasah berbeda dengan guru pesantren. Guru madrasah bertemu dengan santri hanya di sekolah. Itupun sekitar 6 jam. Berbeda dengan guru pesantren yang memang sehari-semalam menemani santri. Wajar bila guru pesantren lebih bisa memahami kepribadian santri.

Pukul 14:00 Wib, santri harus berangkat sekolah lagi, ke madrasah diniyah. Mereka diberi waktu istirahat sekitar 2 jam. Tapi kebanyakan santri bukan istirahat, malah bermain atau bercerita di depan teras pondok atau masjid. Kali ini, mereka ngaji kitab-kitab kuning dalam berbagai fan ilmu. Guru yang mengajar di madrasah diniyah rata-rata adalah asatidz pesantren.

Ada juga madrasah diniyah yang masuk setelah salat ashar. Ada juga yang masuk selepas salat isya’. Namun, secara umum madrasah diniyah dapat ditemukan di setiap pesantren. Hanya saja madrasah diniyah kebanyakan dilaksanakan siang atau sore hari. Artinya sebelum dan sesudah salat ashar. Jika jam pertama masuk pukul 14:00-15:00 Wib, maka jam kedua masuk pukul 15:30-16:30 Wib. Hal ini sudah biasa bagi para santri. Artinya, dari pagi sampai sore santri masuk madrasah. Mereka belajar dengan sistem klasikal.

Selepas sekolah diniyah, santri istirahat sebentar hingga menjelang maghrib. Waktu istirahat ini kebanyakan digunakan untuk memasak, mandi, mencuci, dan lain sebagainya. Biasanya 10 menit jelang azan maghrib, santri diwajibkan sudah ada di masjid. Mereka tidak diperkenankan turun hingga selesai salat isya kecuali ingin ke kamar mandi.

Baca Juga :  Imam al-Ghazali: Ideolog Negara Suni sekaligus Ulama Pemerintah

Dilanjutkan dengan kegiatan malam yang diisi dengan kajian kitabiyah. Semua santri wajib ngaji kitab pada pengasuh atau asatidz pondok. Sistemnya sorogan atau bandongan. Ada yang membentuk halaqoh. Ada juga yang menghadap ke kiblat. Tetangga pesantren sudah maklum dengan ramainya suara santri di malam hari.
Selesai ngaji kitab bersama pada pengasuh atau asatidz, maka para santri melanjutkan pada kegiatan “jam belajar”. Jam belajar ini bermacam-macam. Ada sebagian pesantren yang menerapkan sistem jam belajar seperti bahtsul masail. Ada juga yang disesuaikan dengan materi pelajaran keesokan harinya. Intinya, santri harus memiliki jadwal kegiatan jam belajar bersama di malam hari walaupun hanya satu jam.

Mereka baru boleh istirahat, bahkan wajib, setelah pukul 22:00 Wib. Semua lampu kamar harus dimatikan. Ada juga pesantren yang menutup kegiatan malam pada jam 23:00 Wib. Bahkan ada sebagian pesantren yang tidak membebaskan santrinya untuk tidur jam berapapun saja. Intinya subuh harus bangun, guna salat berjamaah di masjid.

Dapat disimpulkan, aktivitas santri di pondok terus berjalan setiap hari, dari bangun tidur hingga tidur kembali. Semua jadwal santri diatur sedemikian rupa untuk melatih kedisiplinan mereka. Fisik dan psikis mereka diforsir setiap hari demi kebaikan mereka sendiri. Maka wajar saja alumni pesantren lebih “kebal” di tengah-tengah masyarakat. Santri tidak mudah terpengaruh emosinya walau dihujat. Santri juga tidak mudah terlena dengan sanjungan yang didapat. Wallahua’lam.

1 KOMENTAR

  1. […] Nawwaitut ta’alluma wat-ta’liima wat tadzakkura wat-tadzkiira wan-naf’a wal intifaa–’a wal istifaadata wal hatstsa ‘alat tamassuki bi kitabillaahi wa sunnati rasuulihii wad du’aa ilal huda wad dalaalata alal khairi ibtighaa-a wajhillahi wa mardhatiihii wa qurbihii wa tsawaabihi. Allohumma nawwir bil kitaabi bashorii wasyroh bihii shodrii wasta’mil bihii badaniia wa athliq bihiia lisaanii wa qowwi bihii janaanii wa asri’ bihii fahmiia wa qowwi bihii azmii bi hawlika wa quwwatika fa innahuu laa hawla walaa quwwata illaa bika yaa arhamar roohimiin. (Baca: Pembentukan Karakter Santri Melalui Jadwal yang Padat) […]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here