Pembelaan Tajuddin as-Subki terhadap al-Kilabi dari Kritik Muktazilah

0
646

BincangSyariah.Com – Syiah dan Muktazilah seperti yang dikemukakan oleh Ali Syami an-Nasyar dalam Nasy’at al-Fikr al-Islami merupakan sekte Islam yang pertama kali menisbahkan lawan polemisnya kepada pandangan-pandangan Kristen, Yahudi, Filsafat dan lain-lain. Saat itu, untuk menyebut Ahlu Sunnah wal Jamaah, muncul ungkapan Ahlul Kanisah wal Jama’aah yang memiliki makna peyoratif. Ungkapan ini muncul dari Syiah dan Muktazilah karena bagi mereka sikap Ahlu Sunnah terhadap Alquran sama seperti sikap orang Kristen terhadap Yesus, yakni menganggap bahwa kedua-duanya ialah firman Allah yang tak tercipta. Tuduhan seperti ini menurut Ali Syami an-Nasyar berimbas juga kepada Ahlu Sunnah.

Karena ber-kalam di masa itu berarti berpolemik maka ketika berpolemik, disyaratkan dua pihak yang bertarung dalam kancah ide-ide: minna atau minhum. Telah disebut bahwa Ibnu an-Nadim menyitir riwayat dari al-Baghawi yang mengatakan bahwa al-Kilabi dalam pandangannya tentang Alquran mirip seperti pandangan orang Kristen tentang Yesus. Pandangan Ibnu an-Nadim ini dibantah oleh Tajuddin as-Subki dalam Tabaqat as-Syafi’iyyah. As-Subki dalam kitabnya tersebut mengatakan:

“Muhammad bin Ishak bin an-Nadim sepanjang pengetahuian saya termasuk orang Muktazilah. Ibnu an-Nadim sendiri memiliki beberapa karya tentang ilmu kalam.”

Menurut as-Subki, Ibnu an-Nadim bukanlah seorang yang pakar dalam ilmu kalam. As-Subki bahkan menilainya sebagai Muktazilah yang awam meski pengetahuannya tentang berbagai macam karya-karya intelektual sangatlah mengagumkan. Dalam pandangannya tentang al-Kilabi atau Ibnu Kilab, Ibnu an-Nadim banyak mengutip dari Abbad bin Sulaiman sedangkan Abbad sendiri ialah seorang Muktazilah. Jadi kata as-Subki, pandangan yang ia terima dari Abbad adalah pandangan penuh benci terhadap Ibnu Kilab. Jadi menurut as-Subki tentu ini penilaian ini tidaklah objektif.

Al-Malathi (wafat 377 H) dalam kitab at-Tanbih wa ar-Radd ala Ahlil Ahwa wal Bida’ menyebutkan bahwa Abbad bin Sulaiman adalah salah seorang yang pakar dalam ilmu kalam. Karya-karya polemisnya banyak sekali. Namun sayangnya ia cenderung ke arah kufur dan zindiq karena pandangan-pandangannya yang kontroversial menurut Ahlu Sunnah. Riwayat Abbad bin Sulaiman tentang Ibnu Kilab atau al-Kilabi tentunya tidaklah objektif apalagi al-Kilabi pernah mengalahkannya dalam berdebat di hadapan Khalifah al-Ma’mun. Kemudian as-Subki menegaskan:

“Ibnu Kilab tentunya termasuk ke dalam golongan Ahlu Sunnah. Beliau dan ulama lainnya yang seide dengannya tidak pernah mengatakan bahwa kalam Allah itu ialah Allah itu sendiri. Ibnu Kilab berpandangan sama dengan Ahlu Sunnah tentang sifat-sifat yang melekat dalam zat. Sifat-sifat dalam zat itu bukan zat itu sendiri dan bukan pula selain sifat.

Kendati demikian, as-Subki juga mengatakan bahwa Ibnu Kilab dan Abul Abbas al-Qalansi berbeda dengan Ahlu Sunnah dalam satu persoalan. Yakni, soal pandangan kedua ulama ini yang mengatakan bahwa kalam Allah itu tidak tersifati dengan perintah, larangan dan kabar sejak zaman azali. Alasan mereka berpandangan seperti ini karena perintah, larangan dan kabar itu bersifat baru, sedangkan yang qadim bagi mereka hanyalah kalam nafsi.

Jadi kata as-Subki, bagi Ibnu Kilab dan al-Qalansi, kalam Allah itu terbagi dua: pertama ada kalam nafsi yang bersifat qadim dan ada kalam yang berupa perintah, larangan dan kabar yang bersifat baru. Bagi kebanyakan pemikir Ahlu Sunnah, pandangan ini jelas keliru karena jika kalam Allah qadim maka dengan sendirinya tidak ada bagian kalamnya yang baru, artinya semuanya qadim. Karena itu menurut Ahlu Sunnah kebanyakan, kalam Allah itu, baik yang nafsi maupun yang berkenaan dengan perintah, larangan, kabar dan lain-lainnya, bersifat qadim.

Berangkat dari sini kemudian as-Subki menilai bahwa kemungkinan dari pembedaan kalam Allah menjadi kalam nafsi yang qadim dan kalam perintah, larangan dan kabar yang baru inilah yang membuat Abbad tidak memahami maksud al-Kilabi. Abbad bagi as-Subki mungkin memahami dari Ibnu Kilab bahwa kalam nafsi itu qadim. Abbad memutarbalikan pandangan bahwa kalam Allah yang qadim itu berarti Allah sendiri yang Maha Qadim lalu ia nisbahkan kepada Ibnu Kilab yang oleh Ibnu an-Nadim kemudian dianggap mengadopsi pandangan orang Kristen.

Ibnu Kilab merupakan wakil Ahlu Sunnah yang mendebat Muktazilah secara rasional dan bahkan menurut banyak riwayat ia dapat mengalahkan dan mematahkan argumen lawannya berkali-kali. Wajar kemudian dari kalangan Muktazilah banyak yang membencinya. Para pemikir Muktazilah sampai-sampai mengkhususkan bab tersendiri hanya untuk menyerang al-Kilabi dan para pengikutnya dan bahkan sampai mengaitkannya dengan gagasan oknum dalam Kristen. Terlebih jika kita membaca karya Abdul Jabbar yang berjudul al-Muhit bit Taklif dan karya-karyanya yang lain, akan ditemukan bahwa bantahan Muktazilah terhadap al-Kilabi lebih keras ketimbang kepada Abu Hasan al-Asy’ariy.

As-Subki juga masih dalam kitab Tabaqat as-Syafi’iyyah menyebutkan bahwa Abu Ashim al-Abbadi menyamakan kedudukan Ibnu Kilab dengan Abu Bakar as-Sayrafi. Abu Bakar as-Sayrafi adalah salah seorang ulama besar bermazhab as-Syafi’i. Abu Bakar as-Sayrafi merupakan salah satu pensyarah kitab ar-Risalah karya as-Syafi’i. Beliau wafat tahun 330 Hijriyyah. Dalam Tarikh Baghdad, Ibnu an-Najjar pernah mengatakan bahwa Ibnu Kilab pernah berdebat lama dengan Junaid, syaikhnya para sufi (wafat 297 atau 298).

Kendati demikian, ad-Dzahabi menolak informasi yang mengatakan tingginya ilmu Ibnu Kilab. Beliau bahkan dalam Lisan al-Mizan pernah menyebutkan satu riwayat bahwa Ahmad bin Hanbal sangatlah memusuhi sosok ini. Sikap Ahmad bin Hanbal terhadap Ibnu Kilab menurut ad-Dzahabi sama dengan sikapnya terhadap al-Muhasibi yang sama-sama ulama kalam. Kendati di mata ad-Dzahabi, sosok Ibnu Kilab memiliki stigma negatif namun pandangan ini dikritik oleh ulama salaf lainnya, Ibnu Taymiyyah. Ibnu Taymiyyah bahkan menaruh hormat terhadap sosok ini.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here