Patung Sukarno dan Peran Besarnya dalam Kemerdekaan Aljazair

1
150

BincangSyariah.Com – Aljazair terletak di Afrika Utara sementara Indonesia di Asia Tenggara. Jelas, jarak keduanya terpaut begitu jauh. Meski secara geografis tampak berjauhan, namun ini tidak lantas menjadi penghalang bagi keduanya untuk tetap menjalin tali persahabatan. Bahkan kedekatan antar keduanya telah berumur  lebih dari tujuh puluh terhitung sejak era presiden pertama Indonesia, Sukarno hingga sekarang.

Untuk memperkuat solidaritas Asia dan Afrika khususnya di Aljazair, sebuah monumen patung Sukarno  tengah dalam proses pembangunan di kota Alger, Aljazair. Peletakan batu pertama telah diselenggarakan pada bulan Februari lalu, sebagaimana dilansir dari Kemlu.go.id 

Nah, poin yang kemudian menjadi bahan paling renyah untuk dibahas adalah apa sih hubungan Sukarno dengan Aljazair. Tentu pembangunan proyek sekelas monumen patung nasional tidak dilandasi dengan hal remeh temeh. Pasti ada sejumlah peristiwa besar yang telah dilakukan Sukarno sehingga rakyat Aljazair terasa begitu familiar dengan sosok presiden pertama Indonesia itu.

Kaitan Sukarno dan Aljazair dibahas oleh seorang sarjana alumnus Universitas Masila Aljazair,  Lu’basyi Wardah dalam Ast-Tsaurah Al-Jazairiyyah wa Al-Kutlah Al-Afrawasiyawiyyah fi Al-Mahafil Ad-Dauliyyah. Dalam karyanya, ia mengabadikan nama Jamal Abdul Nasir dan Sukarno sebagai contoh tokoh pejuang hak asasi manusia sekaligus tokoh berpengaruh dalam kemerdekaan Aljazair tanpa maksud meniadakan sosok berpengaruh lainnya.

Jika melihat kebelakang, pasca berakhirnya perang dunia II, sejumlah negara bekas jajahan Barat berhasil melepaskan diri dan menyatakan kemerdekaannya. Namun tidak sedikit pula negara yang masih dikekang kolonialisme khususnya bangsa – bangsa di Asia dan Afrika. Aljazair termasuk didalamnya, sebagaimana di tahun delapan puluh hingga sembilan puluh-an Prancis masih setia bercokol menguasai negara penghasil pria tampan itu.

Baca Juga :  Tafsir Surah Al-Muzzammil Ayat 20: Alternatif Jika Tidak Melaksanakan Shalat Malam

Ini yang kemudian mendorong sejumlah pahlawan di berbagai negara, berinisiatif untuk berjejaring dan bekerjasama dalam misi penghapusan sistem kolonialisme dan imperialisme dari muka bumi. Nah, salah satu tokoh yang aktif dalam pergerakan ini tidak lain adalah tokoh pahlawan nasional Indonesia, Sukarno. Dari titik ini, kisah kedekatan Sukarno dengan Aljazair mulai bersemi.

Lu’basyi Wardah telah merangkum langkah – langkah krusial yang pernah dijajaki Sukarno dalam misi pembebasan Aljazair. Misalnya, menyuarakan isu kemerdekaan Aljazair di berbagai forum internasional. Dalam hal ini pemerintah Indonesia bersama negara lainnya mengajak  negara – negara dunia untuk segera mencari solusi atas permasalahan yang sedang didera Aljazair dan negara konflik lainnya.

Diantara forum internasional yang dibentuk adalah Konferensi Asia Afrika (KAA). Yadi Kusmayadi dalam Pengaruh Konferensi Asia Afrika Terhadap Kemerdekaan Negara – Negara di Afrika mencatat setidaknya forum ini diprakarsai oleh lima negara yaitu Burma (Myanmar), Indonesia, India, Pakistan, dan Srilanka sebagai tindak lanjut dari keputusan pertemuan Bogor pada Desember 1954. Adapun pengusul KAA adalah Perdana Menteri Indonesia, Ali Sastroamidjojo.

Selanjutnya Yadi menuturkan bahwa pimpinan kelima negara perintis yang baru merdeka itu sadar betul akan nasib negara Asia dan Afrika yang belum merdeka. Untuk menangani permasalahan global ini tentu tidak bisa dilakukan sendirian, perlu adanya jalinan kerjasama dari berbagai negara dunia. Oleh karena itu, dikehendakilah pelakasanaan KAA yang berlangsung di Bandung itu.

Karena isu yang diangkat di KAA adalah soal negara – negara terjajah, maka Aljazair tidak luput dari pembahasan. Pasca pertemuan KAA tahun 1955, pemerintah Indonesia memfasilitasi sebuah kantor di Jakarta untuk dijadikan markas pertama para pejuang kemerdekaan Aljazair yang tergabung dalam Front Pembebasan Nasional. Pendirian kantor ini menurut Lu’basyi tidak terlepas dari sumbangsih para intelektual Indonesia termasuk para pelajar yang mendukung penuh kemerdekaan Aljazair.

Baca Juga :  Pengakuan Dusta Seorang Hamba yang Berakal Sehat

Tidak hanya bantuan moril, Indonesia  juga memberikan bantuan materil yang disalurkan kepada para emigran asal Aljazair. Selain itu, Lu’basyi mengungkap bahwa Indonesia adalah salah satu negara pertama yang mengakui eksistensi pemerintahan sementara Aljazair pada 27 Desember 1958. Sekaligus menjadi salah satu negara pertama yang mengakui kemerdekaan Aljazair pada 5 Juli 1962.

Selama masa perjuangan menuju kemerdekaan, pemerintah Indonesia yang dikepalai Sukarno berpartisipasi aktif dalam membantu pelebaran jejaring pemerintahan sementara Aljazair. Hebatnya, ini dilakukan tanpa mengintervensi kebijakan internal Front Pembebasan Aljazair yang berkantor di Jakarta itu.

Bahkan dalam beberapa kesempatan, Sukarno mengungkapkan secara mutlak dukungannya terhadap Aljazair. Berikut pernyataan Sukarno diterjemahkan dari kutipan Lu’basyi Wardah. “Jelas, rakyat Aljazair menginginkan kemerdekaan. Tidak ada keraguan sama sekali. Oleh karena itu, perlu diadakannya referendum Aljazair dibawah pengawasan PBB. Topik bahasannya adalah kemerdekaan sebab ini telah di perjuangankan dengan darah. Dan yang pasti, negara Aljazair yang merdeka akan segera terealisasi”.

Enam tahun setelah konferensi Asia Afrika, tepatnya di tahun 1961, Sukarno kembali mendeklarasikan hal serupa di konferensi Beogard Yugoslavia. “Menurut saya, konflik sektarian bukanlah permasalahan sebenarnya di masa sekarang. Namun permasalahan nyata yang tengah dihadapi sebagian besar umat manusia adalah kolonialisme.

Semua orang seharusnya memiliki kebebasan dalam memilih jalan hidupnya. Maka konferensi ini harus menyoal tentang kedudukan perang kolonial yang tengah meletus di Aljazair. Kita harus segera menyerukankannya dengan tegas supaya tidak lebih dari dua tahun, beragam bentuk penjajahan dan pelanggaran terhadap negara sudah dapat dilenyapkan

Ketegasan Sukarno soal referendum Aljazair membuat Prancis kalang kabut. Apalagi isu ini mendapat sokongan penuh dari rakyat Aljazair yang telah lama mengidam- idamkan nikmatnya kemerdekaan. Setelah perjuangan yang begitu panjang, akhirnya masyarakat Aljazair dapat mengusir penjajah dari tanah airnya. Tanggal 5 Juli 1962 menjadi hari paling bersejarah dan diperingati sebagai hari kemerdekaan Aljazair.

Baca Juga :  Ngaji Gus Baha: Kitab Kuning Sebagai Inspirasi Ulama Ketika Melawan Penjajah

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here