BincangSyariah.Com – Secara historis, perbedaan perkembangan Hadis di Nusantara dan Timur Tengah terlihat berbeda. Perbedaan tersebut terjadi bukan hanya terkait dengan latar belakang budaya dan bahasa, namun juga menyangkut dengan aspek kesejarahan munculnya Islam.Tak terelakkan, perkembangan kajian Hadis di daerah Melayu-Nusantara beriringan dengan perkembangan tradisi intelektual dan keilmuan Islam yang berlangsung di wilayah ini.

Pena Sejarah Islam di Nusantara mencatat, kajian Hadis di wilayah Melayu-Nusantara telah dimulai sejak abad XVII dengan dikaranganya kitab Hadis oleh ulama-ulama Nusantara seperti Nur al-Din al-Raniri (w. 1068H/1658 M) yang berjudul Hidayatul Habib fit Targhib wat Tarhib. Dalam edisi cetakannya, kitab ini berjudul al-Fawaidul Bahiyyah fil Ahadits an-Nabawiyyah.

Kajian Hadis di wilayah Melayu-Nusantara telah dimulai sejak abad XVII dengan dikaranganya kitab Hadis oleh ulama-ulama Nusantara seperti Nur al-Din al-Raniri (w. 1068H/1658 M) yang berjudul Hidayatul Habib fit Targhib wat Tarhib.

Karya ini menghimpun sejumlah Hadis yang diterjemahkan dari bahasa arab ke dalam bahasa Melayu dengan tujuan agar penduduk Muslim Melayu-Nusantara dapat memahaminya secara baik dan benar. Untuk menguatkan argumen-argumen yang termuat dalam syarah Hadis karyanya tersebut, al-Raniri  menyisipkannya ayat-ayat Alquran. Karya ini merupakan kitab rintisan dalam bidang kajian Hadis di wilayah Melayu-Nusantara. Hal ini juga mengindikasikan bahwa Hadis sudah dianggap penting oleh ulama saat itu.

Setelah itu, muncul Abd al-Rauf as-Singkili (1105 H/1693 M) yang mengarang dua karya tentang Hadis. Kitabnya yang pertama adalah mensyarahi empat puluh hadis karya al-Imam al-Nawawi (676 H) yang diberjudul Syarhul Lathif ala Arba‘in Nawawi. Uniknya, kitab ini ditulis untuk memenuhi permintaan dari Zakiyyat al-Din yang menjadi penguasa pada saat itu.

Baca Juga :  Penerimaan Ulama dan Umat Islam atas NKRI

Hal ini mengindikasikan bahwa as-Singkili sebagai ulama pada masa itu berdampingan baik dan hidup harmonis dengan penguasa. Sementara itu, kitab karyanya yang kedua berjudul al-Mawaizhul Badi’ah yang memuat Hadis-hadis Kudsi. Kumpulan hadis Kudsi al-Singkili ini mengemukakan ajaran Allah dan hubungan-Nya dengan ciptaan, surga, neraka dan cara-cara yang layak bagi kaum Muslim untuk mendapatkan ridha Tuhan.

As-Singkili secara khusus menekankan perlunya bagi setiap Muslim untuk menemukan keselarasan antara pengetahuan dan perbuatan baik. Pengetahun saja tidak dapat membuat seseorang menjadi Muslim yang lebih baik, dia juga harus melakukan perbuatan-perbuatan yang baik pula.

Karyanya itu hingga saat ini masih menjadi rujukan bagi sebagian muslim di Nusantara. Dari sini as-Singkili memberikan contoh bagi para ulama Melayu-Nusantara di kemudian hari untuk menyusun karya hadis, sebab sejak abad XIX karya-karya semacam ini menjadi sangat populer di Nusantara.

Berbeda dengan abad sebelumnya, sepanjang abad XVIII kajian Hadis mengalamai masa surut. Para ulama Melayu-Nusantara seperti syekh Abd al-Shamad al-Palimbani (w. sesudah 1203 H/1789 M), Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari (1148 H/ 1735 M), Syekh Abdul Wahab Bugis, dan Syekh Abdur Rahman al-Mashri al-Batawi, tampaknya tidak terlalu memberikan sumbangsih buah pemikiran yang mendalam pada kajian Hadis seperti dengan menulisnya dan lain sebagainya.

Memasuki abad XIX muncul Syekh Muhammad Nawawi ibn Umar al-Bantani (w1897 M). beliau telah menulis kitab diberbagai fan keilmuan, seperti fikih, tauhid, tasawuf, tata bahasa arab, akhak dan hadis. Karyanya di bidang Hadis adalah  Tanqihul Qaul. Pada paruh kedua abad XIX muncul seorang ulama Hadis yang mempunyai reputasi internasional yaitu Syeikh Mahfud al-Tirmasi (w. 1338 H/1919 M).

Baca Juga :  Imam Bukhari: Ahli Hadis yang Dirindukan Rasulullah Saw. (W. 256 H.)

Beliau telah menulis banyak karya di bidang hadis, di antaranya Manhaj Dzawin Nazhar bi Syarh Manzumah Ilm al-Atsar, al-Minhah al-Khairiyyah fi Arbain Haditsan min Ahadits Khairil Bariyyah, al-Khal’ah al-Fikriyyah bi Syarh Minhah al-Khairiyyah, Kifayatul Mustafid fima ‘Ala minal Asanid, dan Tsulatsiyyah al-Bukhari.

Pada abad XX kajian hadis di wilayah Melayu-Nusantara mengalami perkembangan yang sangat pesat. Salah seorang ulama hadis yang sangat populer pada masa ini adalah Syaikh K.H. Hasyim al-Asy’ari (1871-1947 M). Beliau pernah mengaji di Mekah dan menjadi murid setia Syaikh Nawawi al-Bantani.

Selain itu, beliau juga berguru kepada Syaikh Mahfudz al-Tirmasi, dan Syaikh Ahmad Khatib Minangkabau. Kitab Risalah Ahlus Sunnah wal jamaah adalah di antara kitab hadis yang pernah beliau tulis. Perlu diketahui, pada abad ini kepekaan ulama terhadap kaian hadis lebih serius dari sebelumnya bukan hanya untuk memperbanyak khazanah ilmu keislaman namun juga untuk menjawab persoalan serius mengenai ‘teror’ dari beberapa peneliti orentalis yang mengahasilkan teori-teori baru yang merobohkan dinding kevalidan hadis  dari segi sanad dan matan.

Setelah K.H. Hasyim al-Asy’ari meninggal muncullah banyak banyak ulama dan penulis dalam kajian hadis, seperti Muhammad Yunus yang menulis Ilm Musthalah al-Hadis, T. M. Hasbi ash Shiddieqy yang menyusum Pokok-Pokok Ilmu Hadis Dirayah Hadis, Sejarah dan Pengantar Ilmu Hadis, sejarah perkembangan hadis.

Selain itu, nama A. Q. Hassan juga tercatat sebagai ilmuwan yang pernah menulis karya yang berkaitan dengan Ilmu Hadis, yaitu Ilmu Musthalah Hadis. M. Syuhudi Ismail juga menulis Pengantar Ilmu Hadis, Kaedah  keshahihan sanad hadis, Cara Praktis Meneliti Hadis.

Ali Mustafa Yaqub dengan buku-bukunya yang sangat fenomenal dalam kajian hadis seperti, Imam Bukhari dan Metodologi Kritik dalam Ilmu Hadis, Kritik Hadis, Peran Ilmu Hadis dalam Pembinaan Hukum Islam, Hadis-hadis Bermasalahm dan Hadis-hadis Palsu seputar Ramadhan, M. Thalib, yang menyusun Butir-Butir Pendidikan dalam Hadis.  

Demikian sekilas sejarah singkat mengenai pasang surut kajian hadis di Melayu-Nusantara, dari tulisan ini dapat kita ambil kesimpulan bahwa para ulama Melayu-Nusantara telah memberikan perhatianya terhadap hadis meskipun tidak seintens perhatian yang mereka tuangkan dalam bidang keilmuan lainnya sebagaimana telah disebutkan di atas.

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here