Para Tokoh Bangsa dan Pengalaman Pindah Agama

2
2001

BincangSyariah.Com – Fenomena pergulatan iman, apalagi sampai berujung pada keputusan pindah agama, barangkali memang bukan kejadian umum yang bisa disaksikan orang saban hari. Tapi hal ini bisa terjadi pada siapa saja, termasuk para tokoh bangsa dan keluarganya.

Ambil contoh pengalaman keluarga ulama terkenal Haji Abdul Malik Karim Amrullah, atau dikenal sebagai Hamka. Hamka adalah pemuka agama Islam yang malang-melintang dalam dunia dakwah dan digemari berbagai kalangan. Sebelum K.H. Zainuddin MZ. merajai media massa dan kondang sebagai “Dai sejuta umat”, Hamka sudah lebih dulu ngetop di media televisi dan berbagai majalah.

Rasanya tidak terhitung orang yang mendapat pencerahan agama dari ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) pertama ini. Tapi tak urung adik kandungnya sendiri, Willy Amrul, mengonversi keyakinanannya dari Islam menjadi Kristen. Amrul bahkan memutuskan menjadi pendakwah aktif agama Kristen hingga akhir hayat.

Sebagai tokoh bangsa, Hamka tidak sendiri dalam mengalami peristiwa perpindahan keyakinan anggota keluarganya. Sebelum Hamka, tokoh pergerakan nasional dan pemuka Islam Agus Salim lebih dulu mengalaminya. Perpindahan keyakinan dari Islam menuju Kristen dilakukan Chalid Salim, adik Agus Salim.

Sebelum memutuskan untuk berpindah keyakinan, Chalid Salim ditangkap dan dibuang ke Boven Digul lantaran memberontak kepada pemerintahan kolonial Belanda, pada dekade 1920-an. Dari sinilah ia berteman dengan orang buangan lain yang beragama Kristen, hingga tertarik untuk mengimani dan mempelajarinya.

Mengetahui adiknya penjadi penganut Katolik, Agus Salim menanggapi dengan selera humor yang khas.

“Alhamdulillah, ia sekarang lebih dekat dengan saya.” Ia menambahkan, “dulu ia tak percaya Tuhan. Sekarang dia percaya”.

Tokoh pergerakan nasional lainnya, Amir Sjarifuddin bahkan menjadi pelaku konversi iman. Amir yang lahir dan tumbuh sebagai penganut Islam, pada masa studinya memutuskan untuk menjadi penganut Kristen. Keputusan ini dilakukan setelah mempelajari ayat-ayat Alkitab yang dianggapnya mengajarkan pembebasan. Hal tersebut dianggapnya sejalan dengan perjuangannya membebaskan Indonesia dari cengkraman penjajahan.

Baca Juga :  Hirarki Kosmos dan Negara Para Wali Allah

Sementara sastrawan WS. Rendra menempuh jalan sebaliknya dibanding Amir. Ia penganut Kristen sejak lahir, yang kemudian berpindah haluan menjadi seorang muslim. Pria berjuluk “Si Burung Merak” ini terlebih dulu mempelajari berbagai agama yang berkembang di wilayah Asia. Pada akhirnya ia kepincut ajaran Islam dan memutuskan untuk mengimaninya.

Amir Sjarifuddin merasa menemukan kebenaran setelah membaca kitab suci agama Kristen lantaran sejalan dengan perjuangan kebangsaan yang dicita-citakannya. WS. Rendra menempuh rute berlawanan dengan pergulatan keimanan Amir, salah satunya karena mengagumi Barzanji, kitab salawat dan doa untuk Nabi Muhammad.

Pada akhirnya para tokoh bangsa diingat atas apa yang pernah dikerjakan buat orang banyak. Nama Hamka abadi karena pengaruh dakwahnya yang luas. Agus Salim dan Amir Sjarifuddin dikenang atas partisipasi dalam perjuangan kebangsaaan, WS. Rendra menjadi legenda karena karya-karyanya yang mewarnai khazanah kebudayaan Indonesia secara khas. Perkara keimanan dan pengalaman hidup mereka dan keluarganya adalah urusan pribadi masing-masing.

Kita bisa saja mendakwahi orang sepanjang waktu, menyetel keras-keras pembacaan ayat suci yang kita yakini, dengan harapan orang lain tergugah seperti kita ketika mendengarnya. Tapi pergulatan keimanan terjadi jauh lebih kompleks dari itu. Kita tidak mungkin mendaulat diri menjadi Tuhan dan mengadili pengalaman personal masing-masing orang yang membuatnya memilih keyakinan tertentu. Keimanan adalah perkara personal. Seperti selera, ia bisa berubah, dibentuk, dipengaruhi, diperkuat, tapi tidak seorang pun bisa mengontrol sepenuhnya apa yang dipercayai orang lain dalam lubuk hatinya.

Kisah Nabi Muhammad dan pamannya, Abu Thalib, memberi pelajaran penting tentang keimanan. Nabi diketahui sangat mencintai Abu Thalib selaku paman yang selalu melindungi dan mendukungnya. Tetapi diriwayatkan bahwa hingga akhir hayat Abu Thalib, Nabi tidak berhasil membujuknya mengucapkan syahadat. Tentang hal ini ditegaskan dalam Alquran surat Alqashash ayat 56, bahwa memberi petunjuk hidayah adalah urusan Allah.

Baca Juga :  Bicara Islam Nusantara, Habib Luthfi Ceritakan Bagaimana Sunan Kudus Berdakwah

Toh pada akhirnya nama Abu Thalib tetap dikenang dengan hangat karena sepanjang hidupnya menjadi penjaga paling setia, yang menjamin keselamatan Nabi dalam mendakwahkan ajaran Islam.

2 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here