Para Pahlawan Indonesia yang Beragama Kristen

0
143

BincangSyariah.Com – Ramai-ramai tentang logo HUT RI ke-75 yang dianggap salib padahal bermakna nilai-nilai Pancasila, mari sejenak kita segarkan ingatan dengan perjuangan tiga pahlawan dari banyak pahlawan Indonesia yang beragama Kristen. Bangsa yang sebentar lagi genap berusia 75 tahun ini dibangun atas semangat kebersamaan dan keberagaman. Oleh karena itu, daripada meributkan simbol-simbol agama, alangkah lebih baiknya kita mengingat jasa para pahlawan kita. (Baca: Ratu Kalinyamat; Ratu Jepara Pemimpin Armada Laut Terbesar di Zamannya)

Pertama, Agustinus Adisoetjipto.

Agustinus Adisoetjipto dilahirkan di Salatiga, Jawa Tengah, pada 3 Juli 1916 dan meninggal di Bantul, Yogyakarta, pada 29 Juli 1947. Ia adalag seorang pahlawan nasional dan seorang komodor udara Indonesia.

Bapak Penerbang Indonesia ini mengenyam pendidikan di GHS (Geneeskundige Hoge School) atau Sekolah Tinggi Kedokteran dan merupakan lulusan Sekolah Penerbang Militaire Luchtvaart di Kalijati.

Adisoetjipto menerbangkan pesawat jenis Nishikoren. Pesawat tersebut dicat merah putih dari Tasikmalaya ke Maguwo, Yogyakarta. Ia berhasil menerbangkan pesawat Cureng berbendera merah putih di sekitar Yogya pada 27 Oktober 1945.

Ia menerbangkan pesawat bercat merah putih dengan maksud untuk membakar semangat rakyat Indonesia melawan penjajahan yang pada waktu itu masih terjadi di beberapa wilayah. Penerbangannya adalah penerbangan berbendera merah putih pertama di tanah air. Peristiwa tersebut adalah bukti semangat cinta tanah air yang begitu besar dengan keberanian dan segenap kemampuan yang dimilikinya.

Adisoetjipto mendirikan Sekolah Penerbang di Yogyakarta, tepatnya di Lapangan Udara Maguwo. Saat ini, lapangan udara tersebut sudah berganti nama menjadi Bandara Adisutjipto. Perubahan nama tersebut bertujuan untuk mengenang jasanya sebagai pahlawan nasional.

Kedua, Pierre Tendean.

Kapten Czi. (Anumerta) Pierre Andries Tendean lahir pada 21 Februari 1939 dan meninggal pada 1 Oktober 1965. Ia adalah seorang perwira militer Indonesia yang menjadi salah satu korban pada peristiwa Gerakan 30 September tahun 1965.

Baca Juga :  Tujuh Hal yang Dapat Menjerumuskanmu ke Dalam Neraka

Ia mengawali karir militer sebagai intelijen. Ia lalu ditunjuk sebagai Ajudan Jenderal Besar TNI Abdul Haris Nasution, menggantikan Kapten Kav Adolf Gustaf Manullang yang telah gugur dalam misi perdamaian di Kongo Afrika pada tahun 1963.

Kemudian, ia dipromosikan menjadi Kapten Anumerta setelah kematiannya. Ia dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata bersama enam perwira korban Gerakan 30 September lainnya. Penetapannya sebagai Pahlawan Revolusi Indonesia terjadi pada tanggal 5 Oktober 1965.

Sedari kecil, Kapten Pierre Tendean sangat ingin menjadi tentara dan masuk Akademi Militer. Sayangnya, orang tuanya justru ingin agar ia menjadi dokter seperti ayahnya atau seorang insinyur. Berbekal tekad yang kuat, ia berhasil bergabung dengan Akademi Teknik Angkatan Darat (ATEKAD) di Bandung pada tahun 1958.

Untuk menghargai jasa-jasanya, Tendean dianugerahi gelar Pahlawan Revolusi Indonesia pada tanggal 5 Oktober 1965. Setelah kematiannya, ia dipromosikan menjadi kapten secara anumerta. Beberapa jalan besar juga dinamai dengan namanya, termasuk salah satu jalan di Manado, Balikpapan, dan Jakarta.

Ketiga, Maria Walanda Maramis.

Maria adalah perempuan yang sangat istimewa. Bagaimana tidak, setiap tanggal 1 Desember, masyarakat Minahasa selalu memperingati Hari Ibu Maria Walanda Maramis. Ia adalah sosok yang dianggap sebagai pendobrak adat, pejuang kemajuan dan emansipasi perempuan di ranah politik dan pendidikan.

Dalam Nederlandsche Zendeling Genootschap (1981) karya Nicholas Graafland, Maria ditahbiskan sebagai salah satu perempuan teladan di Minahasa. Ia dituliskan memiliki bakat yang istimewa dalam pengembangan daya pikirnya. Ia cepat menyerap pengetahuan sehingga menjadi lebih maju ketimbang kaum lelaki pada masa itu.

Patung Walanda Maramis yang terletak di Kelurahan Komo Luar, Kecamatan Wenang, sengaja dibangun untuk mengenang jasanya. Para pengunjung bisa mengenal sejarah perjuangan perempuan asal Bumi Nyiur Melambai ini.

Baca Juga :  Perkembangan Penerjemahan Al-Qur'an di Indonesia

Maria menulis opini di surat kabar setempat yang bernama Tjahaja Siang. Dalam artikel-artikelnya, ia menunjukkan pentingnya peranan ibu dalam keluarga. Ia menuliskan bahwa kewajiban ibu adalah untuk mengasuh dan menjaga kesehatan anggota-anggota keluarganya. Seorang ibu juga berkewajiban untuk memberi pendidikan awal kepada anak-anaknya.

Sadar bahwa perempuan-perempuan muda pada saat itu perlu dilengkapi dengan bekal untuk menjalani perana sebagai pengasuh keluarga, Maria melakukan sebuah gebrakan. Ia bersama beberapa orang lain pun mendirikan Percintaan Ibu Kepada Anak Temurunannya (PIKAT) pada tanggal 8 Juli 1917. Tujuan organisasi ini dibentuk adalah untuk mendidik kaum perempuan yang tamat sekolah dasar.

Untuk menghargai peranannya yang sangat besar dalam pemberdayaan perempuan di Indonesia, Maria Walanda Maramis mendapat gelar Pahlawan Pergerakan Nasional dari pemerintah Indonesia pada 20 Mei 1969.

Para pahlawan kemerdekaan bukan hanya Soekarno-Hatta saja. Ada banyak pahlawan yang berasal dari berbagai macam keyakinan. Dalam momen perayaan kemerdekaan Indonesia ini, mari hentikan perseteruan berlandaskan agama. Rayakan HUT RI ke-75 ini dengan mengenang jasa para pahlawan dan merefleksikan apa yang telah kita lakukan untuk Indonesia.[]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here