Panduan Memberi Nama Anak dalam Islam

1
2423

BincangSyariah.Com – Nama adalah identitas yang dengannya kita akan dikenal. Nama anak dalam Islam juga merupakan salah satu hak anak yang mesti diperhatikan, dan akan berpengaruh pada kepribadian anak. Hal itu karena banyak terkandung doa dalam sebuah nama. Dalam Alquran menyebutkan:

يَا زَكَرِيَّا إِنَّا نُبَشِّرُكَ بِغُلَامٍ اسْمُهُ يَحْيَىٰ لَمْ نَجْعَلْ لَهُ مِنْ قَبْلُ سَمِيًّا

“Hai Zakaria, Sesungguhnya Kami memberi kabar gembira kepadamu akan (beroleh) seorang anak yang namanya Yahya, yang sebelumnya Kami belum pernah menciptakan orang yang serupa dengan Dia”

Ayat tersebut menceritakan atas pemberian nama Yahya (putra Nabi Zakaria) oleh Allah secara langsung. Hal tersebut menunjukkan perlunya sebuah nama atas kelahiran seorang anak. Bahkan penyataan Imam Abnu Hazm dalam kitab Maraatibul Ijma ialah para ulama sepakat bahwasanya memberi nama anak dalam Islam, baik kepada kepada laki-laki dan perempuan, adalah wajib.

Hingga kelak di hari kiamat, manusia akan dipanggil dengan nama yang mereka dipanggil dengannya semasa di dunia. Karena itulah dianjurkan untuk memperbagus nama-nama anak yang terlahirkan di muka bumi ini. Diceritakan dari Abu Darda’ bahwa Rasulullah bersabda:

إنكم تُدعون يوم القيامة بأسمائكم وأسماء آبائكم فأحسنوا أسماءكم

“Sesungguhnya kalian akan dipanggil pada hari kiamat dengan nama kalian dan nama bapak-bapak kalian. Maka baguskanlah nama-nama kalian” (HR. Abu Dawud)

Waktu untuk memberikan nama bisa pada waktu kelahirannya, boleh juga ditunda pada hari ketiga, atau pada hari aqiqahnya. Hal tersebut berdasarkan keterangan hadis yang diriwayatkan dari Ibnu Majah bahwa setiap anak tergadai dengan aqiqahnya yang disembelih pada hari ketujuh dari kelahirannya, dicukur, dan diberi nama. Adapun pemberian nama anak di hari kelahirannya adalah seperti yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari:

Baca Juga :  Hadis-hadis tentang Larangan Meratapi Orang Mati

عَنْ أَبِيْ مُوْسَى رَضِىَ اللهُ تَعَالَى عَنْهُ قَالَ وُلِدَ لِيْ غُلامٌ فَأَتَيْتُ بِهِ النَّبِيَّ صَلى الله عليه وسلم فَسَمَّاهُ إِبْرَاهِيْمَ فَحَنَّكَهُ بِتَمْرَةٍ وَدَعَا لَهُ بِاْلبَرَكَةِ وَدَفَعَهُ إِلَيَّ

Dari Abi Musa radliyallaahu ta’ala ’anhu ia berkata : ”Telah lahir seorang anakku. Maka aku membawanya ke hadapan Nabi shallallaahu ’alaihi wa sallam dan beliau menamainya Ibrahim. Maka kemudian beliau men-tahnik-nya dengan kurma dan mendoakan barakah untuknya. Kemudian beliau menyerahkannya padaku”

Adapun pemilihan nama anak dalam Islam seyogianya memilih istilah yang disunahkan atau sebuah nama yang bermakna bagus, nama yang menunjukan penghambaan diri terhadap salah satu nama Allah, atau memberinya nama orang-orang saleh di kalangan muslim. Boleh juga memilih nama yang mengandung sifat yang sesuai dengan orangnya. Adapun nama Abdullah atau Abdurrahman adalah nama terbaik sepanjang masa. Diriwayatkan olah Imam Muslim dalam kitan Shahihnya dari Ibnu Umar Radhiyallahu’anhu, Nabi Muhammad bersabda:

إِنَّ أَحَبَّ أَسمَائِكُمْ إِلَى اللَّهِ عَبدُاللَّهِ وَ عَبدُ الرَّحْمَنِ

“Sesungguhnya nama yang paling dicintai Allah adalah Abdullah dan Abdurrahman.” (HR. Muslim)

Selain itu dianjurkan pula agar nama sang ayah dicantumkan di belakang nama anak. Sebab aturan nasab anak selalu mengikuti nama ayahnya, tidak berlaku untuk nasab yang disandingkan dengan nama ibunya. Misalnya Fulan bin Fulan, bukan Fulan bin Fulannah. Begitulah hak nama anak yang bernasab kepada ayahnya. Dalam Alquran tersuratkan:

ادْعُوهُمْ لِآبَائِهِمْ

“ Panggilah mereka dengan (memakai) nama bapak-bapak mereka”

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here