Pandangan Ulama tentang Pencari Harta Karun

0
28

BincangSyariah.Com – Dari judulnya, ulama yang kami maksud dalam tulisan ini adalah Ibn Khaldun, ulama yang masyhur dengan salah satu karyanya yang terkenal al-Muqaddimah. Kitab yang sebenarnya merupakan pengantar yang ia sebut sebagai ‘ilm al-‘umraan (ilmu peradaban) dari kitab sejarah yang ia tulis bernama al-‘Ibar fi Dīwāni al-Mubtada’ wa al-Khabar fī Ayyām al-‘Arab wa al-‘Ajam wa al-Barbar wa Man ‘Āṣorohum min Dzawi as-Sulṭōn al-Akbar. Namun, pengantarnya tersebut sangat holistik dan membuat nama Ibn Khaldun masyhur sampai saat ini.

Salah satu yang menarik untuk dibahas misalnya pandangannya tentang orang-orang yang mencari penghasilan dengan menjadi pencari harta karun. Ini Ibn Khaldun dalam sebuah sub pembahasan berjudul « anna Ibtighā’a al-amwāl min ad-dafāin wa al-kunūz laysa bi ma’āsyin ṭobī’iyyin » (bahwa mencari harta dari makam dan harta karun itu bukanlah sumber penghasilan yang wajar). Ibn Khaldun menyampaikan bab ini setelah sebelumnya menyebutkan kalau menjadi pegawai, dalam hal ini yang disebut Ibn Khaldun adalah, pegawai di lingkungan kekuasaan seperti tentara, petugas keamanan (as-syurthiyyu), sampai petugas administratif (al-kātib) juga pekerjaan yang dlakukan orang pada umumnya.

Lalu, bagaimana tentang pekerjaan menjadi pencari harta karun atau penyamun makam ? Menurut Ibn Khaldun (lihat: Muqaddimah Ibn Khaldun, Beirut : Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 2006, h. 303-304), sejak masanya sudah ada orang-orang yang kegiatannya mencari harta karun bangsa-bangsa terdahulu yang terpendam di dalam tanah. Menurut mereka, untuk mendapatkannya mereka harus bisa mengatasi jimat-jimat sihir (tholaasim sihriyyah) yang melindungi harta-harta itu. (h. 303) Sebelum berlanjut, sekadar catatan, penggambaran seperti ini membuat saya teringat film-film barat seperti sekuel The Mummy yang mengangkat cerita utamanya menggali piramid.

Dan, masih menurut Ibn Khaldun, cerita-cerita tentang harta karun itu biasanya memang menjadi cerita yang populer di masyarakat namun ia diyakini sebagai dongeng belaka. Tapi, ada juga orang ueng benar-benar meyakini lalu sampai benar-benar melakukan pencarian. Namun, yang mereka anggap disanalah harta karun hanyalah tempat yang kosong, atau malah dipenuhi sarang laba-laba. Tapi, mereka masih meyakini kalau itu disebabkan mereka tidak memahami sihir untuk mendapatkan harta itu (h. 303).

Baca: Pandangan Ibn Khaldun Soal Sihir

Banyak juga diantara mereka, yang caranya dengan menawarkan kepada orang-orang yang punya harta atau mereka yang punya ambisi untuk kaya raya, kertas-kertas tua dengan tulisan yang tidak dikenal dan menyebutnya sebagai mantra milik mereka yang dimakamkan dan jika dipecahkan bisa menemukan isyarat dimana harta mereka (yang dimakamkan itu) disimpan.

Ibn Khaldun kemudian menggambarkan, bahwa pada dasarnya, kegiatan-kegiatan mencari harta karun itu merebak di lingkungan orang-orang yang tinggal di perkotaan. Biasanya, mereka sebenarnya sudah memiliki harta yang cukup, namun terdorong ambisinya untuk mendapatkan harta yang melimpah ruah dalam sekejap.

Padahal, pekerjaan yang wajar, menurut Ibn Khaldun, di masanya ada di tiga sektor saja, yaitu pertanian, pengrajin/industri (as-shinaa’ah), dan perdagangan. Namun, mereka biasanya sudah enggan untuk bekerja di tiga bidang itu karena sudah tidak mau (atau tidak mampu) lagi bekerja secara normal mencari rezeki.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here