Pandangan Ulama Tafsir Indonesia Soal Sayyidina dalam Shalawat Nabi

0
1365

BincangSyariah.Com – Di antara isu yang sering menjadi perdebatan di kalangan umat Islam Indonesia adalah tentang boleh tidaknya menambahkan kata sayyidina dalam shalawat Nabi saw. Kata sayyidina yang berarti tuan atau baginda oleh kelompok yang menolaknya didasari alasan bahwa Rasulullah saw tidak menyebutkan kata itu ketika mengajarkan shalawat kepada para sahabat. Beliau hanya bersabda,

قُولُوا اللهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ

“Ucapkanlah Allâhumma shalli ‘alâ Muhammad.”

Sementara dalil yang sering diajukan oleh kelompok yang membolehkannya adalah hadis shahih riwayat Muslim yang berbunyi:

أَنَا سَيِّدُ وَلَدِ آدَمَ وَلَا فَخْرَ

“Saya adalah tuan atau penghulu anak Adam (manusia) dan bukan sombong.”

Mengomentari masalah ini, Kiai Sya’roni Ahmadi, Kudus tidak mengajukan dalil sebagaimana di atas, namun menjelaskan bahwa hal tersebut berkaitan dengan kesopanan dalam memanggil Nabi saw yang diamanatkan oleh Q.S. Al-Hujurat [49]: 2,

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَرْفَعُوْٓا اَصْوَاتَكُمْ فَوْقَ صَوْتِ النَّبِيِّ وَلَا تَجْهَرُوْا لَهٗ بِالْقَوْلِ كَجَهْرِ بَعْضِكُمْ لِبَعْضٍ اَنْ تَحْبَطَ اَعْمَالُكُمْ وَاَنْتُمْ لَا تَشْعُرُوْنَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu meninggikan suaramu melebihi suara Nabi, dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara keras sebagaimana kerasnya (suara) sebagian kamu terhadap yang lain, nanti (pahala) segala amalmu bisa terhapus sedangkan kamu tidak menyadari.”

Menafsiri ayat di atas, Kiai Sya’roni dalam pengajian tafsirnya menyimpulkan bahwa substansi ayat tersebut berkaitan dengan pentingnya menjaga kesopanan, sebagaimana Nabi pun sopan dan tawadhu’ sampai-sampai tidak menambahkan kata “sayyidina” ketika ditanya para sahabat perihal tata cara shalawat. Kiai Sya’roni menjelaskan bahwa di antara bagian dari “tidak berkata keras” kepada beliau adalah memanggilnya dengan panggilan yang disertai penghormatan dan pengaguman sebagai bentuk kesopanan. Kiai Sya’roni berkata:

Baca Juga :  Menyalakan Api Revolusi dari Peristiwa Karbala

“Kanjeng Nabi niku banget isinan lan tawadhu’e nemen. Mulane naliko sahabat podo takon, ‘ya Rasulallah, kaifa nushalli ‘alaikum fi shalatina?; kulo nek salawat dateng panjenengan niku aturane kados pundi kanjeng Nabi?’ Lha kanjeng Nabi niku wong sopan. ‘Quuluu Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa ali Muhammad; kuwe nek moco salawat ‘ala Muhammad wa ali Muhammad’. Lha kadang-kadang sing mboten ngerti niku nek moco salawat, ‘Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa ali Muhammad’. Tapi nek sing ngerti, jaga kesopanan. Allahumma shalli ‘ala sayyidina Muhammad wa ‘ala ali sayyidina Muhammad. Niki panggonan sing podo sami kekeliruane lan marai geger. Niki podo karo umpamane ono kyai, Mbah Arwani mulang. ‘Asmane panjenengan sinten?’. ‘Jenengku Arwani’. Lha sing gak ngerti ngomong, ‘Hei Arwani arep neng endi?’. Lha sing ngerti nganggo ‘Mbah Arwani’.”

Terjemahan:

“Kanjeng Nabi itu sangat pemalu dan rendah hati. Karenanya, ketika para sahabat bertanya, ‘ya Rasulallah, kaifa nushalli ‘alaikum fi shalatina?/ kami kalau bersalawat kepada engkau itu aturannya bagaimana kanjeng Nabi?’. Kanjeng Nabi orangnya sopan. ‘Quuluu Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa ali Muhammad/ kalian kalau membaca salawat, bacalah Allahumma salli ‘ala Muhammad wa ali Muhammad’. Lha kadang-kadang orang yang tidak tahu, lalu membaca, ‘Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa ali Muhammad’. Tapi orang yang tahu, ia menjaga kesopanan. Allahumma shalli ‘ala sayyidina Muhammad wa ‘ala ali sayyidina Muhammad. Ini adalah masalah yang seringkali masyarakat keliru lalu mereka ribut. Ini sama halnya misalnya ada seorang kiai, Mbah Arwani misalnya sedang berangkat mengajar. Lalu ada yang bertanya di jalan, ‘Nama engkau siapa?’. Mbah Arwani menjawab, ‘Namaku Arwani’. Lha yang tidak tahu lalu memanggil, ‘Hei Arwani mau kemana?’. Bagi orang yang tahu (sopan) lalu memanggilnya dengan sebutan ‘Mbah Arwani’.”

Pada poin ini, Kiai Sya’roni melakukan apa yang disebut oleh Quthb al-Raysuni sebagai tanzil al-ayat ‘ala al-waqi’, yaitu upaya seorang mufassir untuk mengkontekstualisasikan ayat-ayat al-Qur’an dengan realitas-realitas yang terjadi di masanya. Upaya seperti ini dapat disebut sebagai tafsir bi al-ra’y dengan prinsip pola kerja kias. Dalam hal ini, Kiai Sya’roni mengkontekstualisasikan perintah kesopanan yang dijalani oleh para sahabat terhadap Nabi saw dengan realitas sosial yang terjadi di masyarakat Indonesia.

Baca Juga :  Menurut Kiai Sholeh Darat, Amar Ma‘ruf  Nahi Munkar yang Dibenarkan Harus Penuhi Syarat Ini

Kiai Sya’roni menyontohkan bagaimana umumnya masyarakat Indonesia, khususnya Kudus, menjaga kesopanan dalam hal memanggil seorang ulama. Dalam hal ini adalah Kiai Arwani Amin yang seringkali dipanggil dengan sebutan ‘Mbah Arwani’. Dalam tradisi Jawa, khususnya msayarakat Kudus, panggilan ‘Mbah’ memiliki dua konotasi: yaitu orang yang telah tua umurnya dan atau ulama yang dianggap memiliki keluasan ilmu agama Islam.

Dari sini, maka dapat disimpulkan bahwa Q.S. Al-Hujurat [49]: 2 berisi tentang perintah menjaga kesopanan bagi para sahabat terhadap Nabi saw. Di antara kesopanan tersebut adalah dalam hal cara memanggilnya yang dalam tradisi masyarakat Islam Jawa terimplementasi pada cara mereka memanggil ulama dengan sebutan ‘Mbah’.

Di sisi lain, Kiai Sya’roni juga berupaya mengaitkan substansi ayat di atas dengan perselisihan yang selama ini terjadi di masyarakat terkait hukum menambahkan kata ‘sayyidina’ di depan nama Nabi saw dalam hal shalawat. Sebagian kelompok tidak memperbolehkan penambahan kata tersebut, namun kelompok lain, seperti pengikut NU, memperbolehkannya. Maka dalam hal ini Kiai Sya’roni berupaya menguraikannya bahwa kelompok yang melarang hal tersebut didasarkan pada hadis di atas yang tidak menyebut kata ‘sayyidina’. Sementara kelompok yang memperbolehkan, mereka mendasarkannya pada perintah kesopanan pada Q.S. Al-Hujurat [49]: 2.

Pada akhirnya, Kiai Sya’roni berusaha mendudukkan perkara secara logis terkait masalah di atas dengan membebaskan para jama’ah untuk mengikuti apa yang dicocokinya. Beliau berharap, setidaknya masyarakat dapat memahami perbedaan pendapat di antara mereka dan menjalin kerukunan.

Shalawat dan salam semoga senantiasa terlimpahcurahkan ke pangkuan baginda Nabi saw yang diperingati hari lahirnya pada bulan ini.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here