Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari; Ulama Kalimantan Selatan yang Mempertemukan Syariat, Tarekat, dan Hakikat

0
24

BincangSyariah.Com – Sejarah dan perkembangan masyarakat Islam tidak dapat dipisahkan dari peranan ulamanya. Ulama dalam masyarakat Islam merupakan salah satu kelompok elit yang mempunyai kedudukan terhormat di antara kelompok elit lainnya. Di antara ulama tersebut adalah Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari.

Di Kalimantan Selatan, Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari tercatat seorang ulama besar yang dipandang sebagai tokoh dan aktor sejarah yang sangat berjasa terhadap perkembangan masyarakat Islam di daerah tersebut. Beliau dikenal dengan Datu Kelampayan.

Dalam buku Ulama Banjar dalam Perspektif Sejarah dijelaskan bahwa Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari adalah seorang ulama yang lahir pada abad ke-18 di Martapura Kalimantan Selatan.

Saghir Abdullah, seorang peneliti Kalimantan menjulukinya sebagai Matahari Islam Nusantara. Ini karena Syekh Arsyad tidak hanya dikenal di daerah Kaliamantan Selatan dan Indonesia saja, melainkan juga negeri-negeri jiran seperti Kamboja, Thailand, Malaysia, Singapura, dan Brunei Darussalam.

Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari merupakan salah satu ulama yang mencoba memadukan antara syariat, tarekat, dan hakikat di tengah-tengah masyarakat Kalimantan Selatan. Hal ini bermula dari banyaknya masyarakat Kalimantan Selatan yang berfaham wujudiyah. Di Kalimantan Selatan, aliran ini diajarkan oleh seorang sufi bernama Abd Hamid Ambulung.

Namun, pada saat itu banyak orang yang belajar tasawuf aliran wujudiyah ini kurang mendalami syariat. Akibatnya, ibadah seperti shalat, zakat, puasa, dan haji tidak diminati banyak orang.

Meskipun kitab al-Sirat al-Mustaqim karya Nuruddin al-Raniri mengenai fiqih syariat telah tersebar di daerah ini sejak lama, dan Syaikh Abd Samad Siraj al-Hudi telah mengajarkan tasawuf sunni yang dikenal sangat kuat berpegang pada syariat, namun ajaran tasawuf wujudiyah tetap diminati masyarakat luas saat itu.

Baca Juga :  Tafsir Surah Al-Muzzammil Ayat 2-3: Shalat Malam bagi Nabi dan Umatnya

Ada asumsi bahwa seorang yang belajar ilmu tasawuf berarti ia telah memiliki ilmu tingkat tinggi dan tidak perlu bersusah payah menjalani amalan syariat. Perselisihan antara pengamal syariat dengan pengamal tasawuf ini terjadi selama puluhan tahun tanpa ada penyelesaian, bahkan merusak persatuan umat. Saat itulah di Kalimantan Selatan memerlukan seorang Syaikh Muhammad Arsyad al-Banjari sebagai tokoh ulama fiqih syariat yang menguasai masalah tasawuf untuk menengahi perselisihan tersebut.

Pada dasarnya, perbincangan hubungan syariat, tarekat, dan hakikat muncul di dalam pemikiran Islam dan menjadikan masalah khususnya di kalangan ahli tasawuf. Pengertian syariat bagi para sufi berbeda dengan pandangan secara umum. Namun, menurut Syekh Muhammad Arsyad pengertian syariat itu sama dengan pandangan ulama sufi lainnya. (Baca: Dasar Zikir Huu Huu Huu dalam Ajaran Tasawuf)

Dalam Risalah Fath al-Rahman (halaman 9-11), pengertian syariat menurut Syaikh Arsyad adalah penghambaan diri kepada Allah dengan mengerjakan ibadah zahir yang bersumber dari Allah yakni Alquran dan Hadits. Para ulama menyebut pengamalan ini dengan mu’amalah atau fiqih.

Tarekat adalah perjalanan menuju kedekatan kepada Allah. Menurut Syaikh Arsyad, tarekat merupakan perbuatan zahir dan batin yang diamalkan pada waktu bersamaan. Seorang hamba Allah yang sempurna, ia harus mengenal dirinya terlebih dahulu sesuai ungkapan ini:

من عرف نفسه فقد عرف ربّه

Man ‘arafa nafsahu faqad ‘arafa rabbahu. (Barangsiapa yang mengenal dirinya, sungguh ia telah mengenal Tuhannya).

Dengan demikian, ia harus melakukannya dalam bentuk zikir lisan yang diikuti zikir batin, serta jasmani dan ruhani yang diamalkan dengan riyadhah.

Adapun hakikat adalah persoalan yang berhubungan dengan masalah batin seperti ikhlas, khusyuk, dan sabar. Menurut Syaikh Arsyad, hakikat adalah tidak terhingga. Maksudnya ialah ingatan seorang hamba kepada Allah itu terus menerus, tidak bermasa, tidak bertempat, tidak berjumlah, dan selamanya. Syaikh Arsyad membagi tingkatan pencapaian hakikat kebenaran (al-haqq) menjadi tiga tingkatan yaitu ‘ilm al-yaqin, ‘ayn al-yaqin, dan haqq al-yaqin.

Dalam ilmu tasawuf, hubungan antara syariat, tarekat, dan hakikat itu sangat erat dan tidak dapat dipisahkan baik dalam pemahamannya maupun pengamalannya. Menurut Syekh Muhammad Arsyad, setiap yang zahir itu pasti ada batinnya. Syariat merupakan ibadah zahir, tarekat adalah ibadah zahir batin, dan hakikat adalah ibadah batin.

Baca Juga :  Singgasana Allah Berguncang Saat Sahabat Nabi Muhammad Ini Wafat

Ketiganya merupakan ibadah zahir dan batin yang harus diamalkan secara bersama-sama. Adapun yang dimaksud ibadah zahir adalah amal ibadah yang nampak. Sedangkan ibadah batin adalah amal ibadah hati yang tidak nampak.

Mengenai hubungan antara syariat, tarekat, dan hakikat, Syaikh Arsyad menjelaskan bahwa amal syariat itu terbatas. Sedangkan hakikat tidak terbatas. Syariat adalah perintah mengikuti kehendak Allah yang diamalkan dengan tulus, artinya mengerjakan sesuatu ikhlas karena Allah. Adapun hakikat adalah kesaksian kepada yang disembah, sebagaimana firman Allah Q.S. al-Fatihah [1]: 5.

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ

Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan.”

Ketika mengucapkan kalimat ini harus disertai dengan usaha mencari karunia Allah. Karunia Allah diberikan kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya. Sebagaimana firman Allah Q.S. al-Maidah [5]: 54.

…ذَلِكَ فَضْلُ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

“….Itulah karunia Allah yang diberikan-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya), Maha Mengetahui.”

Syariat adalah ibadah zahir dan batin yang harus diamalkan dengan tarekat. Karena tanpa tarekat, ibadah itu tidak akan mencapai hakikat sesuatu. Menurut Syaikh Arsyad, mengerjakan syariat tanpa hakikat adalah hampa. Demikian juga hakikat tanpa syariat adalah sia-sia.

Syekh Arsyad mengumpamakan ketiganya (syariat, tarekat, dan hakikat) dengan buah kelapa. Syariat adalah kulitnya, tarekat adalah isi yang tersembunyi di dalam kulit, dan hakikat adalah minyak yang tersembunyi di dalam isi. Hal ini dapat diartikan bahwa seseorang tidak akan sampai kepada isinya kecuali ia memecah kulitnya terlebih dahulu. Dan tidaklah seseorang itu akan mendapati minyaknya kecuali dengan memukul dan memarut kemudian memeras isinya.

Baca Juga :  Empat Tipe Istri yang Mudah Terjerumus ke Neraka

Pandangan Syaikh Arsyad ini selaras dengan pandangan Muhammad Nafis al-Banjari dalam kitab Durr al-Nafis (halaman 38-39) bahwa syariat dan hakikat itu berlazim-laziman. Maknanya adalah tidak ada zahir syariat kalau tidak ada hakikat. Karena hakikat adalah batin dari syariat. Siapa saja yang menghimpun keduanya (ilmu fiqih dan tasawuf) sesungguhnya ia adalah tahqiq yang sebenarnya. Wallahu a’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here