Pandangan Ibnu Khaldun mengenai Igauan Para Sufi

1
1465

BincangSyariah.Com – Abu Hayyan at-Tauhidi dalam kitabnya yang terkenal al-Isyarat al-Ilahiyyah mendefinisikan tasawuf sebagai ilmu yang mencakup berbagai macam isyarat (anwaan min al-isyarat) dan yang meliputi berbagai macam ungkapan-ungkapan (ibarat).

Kemudian at-Tauhidi memperjelas definisinya ini dengan mengatakan bahwa tasawuf merupakan ilmu yang berkutat antara isyarat-isyarat ketuhanan (isyarat ilahiyyah) dan ungkapan-ungkapan yang penuh keambiguan (ibarat wahmiyyah).

Ketika ungkapan-ungkapan ambigu tersebut diartikulasikan oleh sang sufi secara jelas dan sadar saat menafsirkan Alquran, maka ungkapan-ungkapan tersebut disebut sebagai takwil.

Sedangkan jika ungkapan-ungkapan yang merefleksikan pengalaman batin sang sufi tersebut diartikulasikan secara tak sadar dan di luar kendali nalarnya, maka ungkapan tersebut dianggap sebagai syatahat (igauan spiritual para sufi).

Melalui penjelasan ini, kita dapat menyimpulkan bahwa tafsir sufi dan takwilnya tidak lain hanyalah semacam proses mentransmisikan ungkapan-ungkapan tertentu dari ranah lahir ke ranah batin melalui cara kerja ilham atau wangsit ilahi.

Dengan kata-kata lain, tafsir sufi ialah tafsir yang menyusupkan makna yang diklaim sebagai batin ke dalam ranah lahir teks keagamaan. Tafsir sufi ini jelas hanya sekedar memasukkan ide dan gagasan dari luar yang dianggap aspek batin bagi kata-kata lahir al-Quran.

Sedangkan syatahat (igauan) ialah kebalikan dari mekanisme kerja tafsir sufi ini. Syatahat ialah proses mentransmisikan isyarat-isyarat ilahi dari ranah bathin ke dalam ranah lahir melalui mekanisme artikulasi kata dan ungkapan yang penuh dengan keambiguan.

At-Tusi dalam kitabnya al-Luma dengan sangat menarik mendefinisikan syatahat sebagai ungkapan-ungkapan lisan yang lahir dari perasaan yang membuncah dari sumbernya dan disertai dengan klaim-klaim (dawa). Dan masih di dalam kitab al-Luma, at-Tusi juga mendefinisikan syathahat sebagai ungkapan-ungkapan aneh yang mengartikulasikan kondisi kejiwaan dan perasaan sufi yang sedang memuncak dengan kuatnya.

Lebih jauh lagi, al-Jurjani dalam kitab at-Tarifat mendefinisikan syatahat (igauan) sebagai ungkapan yang mengandung klaim-klaim yang diartikulasikan seorang sufi secara drastis dan masif akibat dari kondisi kejiwaannya yang labil. Ungkapan ini termasuk ke dalam igauan-igauan spiritual yang terjadi secara tak sadar (zallat).

Baca Juga :  Al-Qahir: Khalifah yang Jadi Pengemis dan Dicongkel Kedua Matanya

Dengan kata-kata lain, syatahat merupakan klaim yang diartikulasikan oleh seorang sufi tanpa izin ilahi. Melalui definisi yang disampaikan oleh at-Tusi dan al-Jurjani ini, jelaslah bahwa ungkapan-ungkapan tak sadar yang keluar dari mulut sang sufi dianggap sebagai syatahat jika disertai dengan klaim-klaim.

Karena itu, syatahat ialah klaim yang diutarakan oleh seorang penganut tasawuf melalui ungkapan-ungkapan aneh dan biasanya saling tumpang tindih. Klaim kesufian yang dimaksud dalam definisi syatahat di atas ialah klaim tentang kesatuannya dengan Allah (ittihad).

Ketika sang sufi mengerahkan jiwa dan pikirannya secara menyeluruh untuk mengingat Allah dan memutus segala ikatannya dengan dunia ini, datanglah dalam diri sang sufi semacam perasaan yang kuat dan emosi spiritual yang tinggi sehingga terbayangkan secara kuat olehnya akan kesatuan dirinya dengan Allah SWT.

Setelah munculnya perasaan yang kuat ini, sang sufi tersebut mengartikulasikan kondisi emosinya dalam bentuk ungkapan-ungkapan tak sadar dan di luar pengawasan nalarnya sehingga kata ganti terkadang bertukar tempat, yakni, misalnya daripada menggunakan damir mukhatab [kata ganti orang kedua] atau damir ghaib [kata ganti orang ketiga] dalam menggambarkan pengalaman spritualnya, sang sufi lebih memilih menggunakan damir mutakallim [kata ganti orang pertama; saya/aku].

Sang sufi berbicara seolah dirinya adalah Allah atau seolah Allah menempati dirinya dan bersatu dengannya. Saat kondisi demikian terjadi, sang sufi dalam keadaan mabuk sehingga ia kehilangan jati diri dan wujud eksistensialnya.

Abu Yazid al-Busthami merupakan contoh terbaik tentang pengalaman sufi yang mengigau akibat mabuk spiritual yang berlebihan ini. Dalam Syatahat as-Sufiyyah karya Abdurrahman Badawi, kita dapat melihat ragam contoh igauan-igauan Abu Yazid al-Busthami ini, misalnya: Maha Suci Aku! Maha Suci Aku, Tuhan Yang Maha Tinggi, Sesungguhnya aku adalah Allah, tidak ada Tuhan kecuali Aku, maka sembahlah Aku, Maha Suci Aku, Maha Suci AKu, alangkah Maha Agungnya keadaanku dan ungkapan-ungkapan lainnya.

Baca Juga :  Meriwayatkan Hadis dari Jin, Mungkinkah ?

Yang menarik dari contoh syatahat ini ialah logika yang melandasi relasi antara sisi batin dan sisi lahir yang dimainkan oleh sufi ketika mengigau secara spritual. Seperti telah dijelaskan di atas bahwa dalam tafsir sufi dan ta’wil bathini ungkapan-ungkapan Alquran dianggap sebagai sisi lahir yang mengandung makna bathinnya. Dan dari sini kemudian tugas penafsir dalam tafsir sufi hanyalah menjadikan ayat Alquran sebagai isyarat atau jembatan bagi makna batin yang sudah siap saji dalam dirinya.

Artinya sang penafsir sufi cukup menempelkan makna bathin yang diterimanya melalui ilham dan wangsit ketuhanan kepada ayat-ayat Alquran yang dianggapnya sebagai sisi lahir makna.

Sedangkan dalam konteks syatahat, prosesnya terbalik; yakni kita dihadapkan kepada sisi batin pengalaman sufi yang diartikulasikan melalui ungkapan-ungkapan lahir yang aneh yang tidak bisa diterima baik oleh akal maupun oleh agama.

Meski demikian sebenarnya para sufi mengakui dan menyadari akan keanehan dalam ungkapan-ungkapan tak sadar mereka. Keanehan ini terejawantahkan misalnya pada ketidaktaatan sufi terhadap prinsip-prinsip akal dan prinsip-prinsip akidah yang diajarkan oleh makna lahir Alquran seperti konsep kesatuan dengan Allah, hulul dan lain-lain.

Meski demikian, para penganut tasawuf dari kalangan Suni dan para fukaha yang bersimpati dengan mereka, menganggap syatahat para sufi ini sebagai hal yang lumrah dan wajar. Bagi mereka, kaum sufi berbuat demikian karena berada dalam keadaan mabuk secara spiritual. Keadaan seperti ini dimaklumi karena igauannya tersebut tidak terkontrol oleh pengawasan nalar dan agama.

Di antara ulama yang memaklumi kondisi demikian ialah Ibnu Khaldun dalam kitabnya yang terkenal, Almuqaddimah. Dalam kitabnya ini Ibnu Khaldun mengatakan:

“Terkait menyikapi ungkapan-ungkapan kaum sufi yang membingungkan yang sering mereka sebut sebagai syatahat dan yang sering dianggap keliru oleh para ulama syariat, maka perlu lah kita bersikap netral karena hal demikian lahir dari kondisi tak sadar. Mereka dalam kondisi seperti ini dikuasai oleh perasaan-perasaan kuat yang mendorong mereka untuk berkata-kata yang tidak mereka maksudkan. Sufi yang tak sadarkan diri tidak terkenai hukum taklif. Artinya, karena dalam kondisi terpaksa dan di luar kemampuan diri untuk membendungnya, para sufi dengan sendirinya termaafkan. Bagi kita yang mengetahui keutamaan dan ketaatan seorang sufi terhadap agama, alangkah baiknya ber-husnu dzhan. Hal demikian karena ungkapan-ungkapan yang lahir dari ketaksadaran sangat susah dikontrol. Ini terjadi misalnya pada Abu Yazid al-Busthami. Namun bagi orang yang tidak terkenal ketaatannya kepada syariat, maka sufi yang mengeluarkan igauan-igauannya patut disalahkan jika memang tidak ada kondisi yang memungkinkan kita untuk mentakwil ucapannya. Adapun sufi yang secara sadar dan tidak dalam kondisi mabuk spiritual mengucapkan ungkapan-ungkapan syatahat, maka tentu ia terkena taklif syariat.”

Baca Juga :  Cara Nabi Membayar Zakat Fitrah dan Hikmah di Baliknya

Pandangan Ibnu Khaldun yang memaklumi igauan para sufi ini sebenarnya berangkat dari asumsi mengenai tauhid. Ini artinya jika para sufi mengklaim telah bersatu dengan Tuhan [ittihad] atau telah ditempati oleh Tuhan [hulul], maka bagi Ibnu Khaldun semua itu harus dikembalikan lagi kepada tauhid, yakni bahwa mereka melakukan demikian sebenarnya karena berpandangan bahwa di alam semesta ini, wujud yang benar-benar hakiki hanyalah Tuhan. Adapun selain Tuhan, maka wujudnya bukan wujud nyata tapi hanya realitas palsu. Inilah makna tauhid dalam dunia sufi.

Allahu Alam.

1 KOMENTAR

  1. Itu ungakapan dari seorang mutashawwifah(mengaku2 shufi) yg keyakinannya ini di anut oleh syi’ah bahwa (menurut mereka) tuhan menyatu dengan makhluk/dirinya. Dalam bahasa aqidahnya disebut wahdatulwujud. Tentu ini merupakan keyakinan yg sesat larna telah menyerupakan/menyekutukan Allâh dengan melemahkan-Nya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here