Pandangan Ibnu Arabi terhadap Doktrin Trinitas yang Kudus (Bagian II)

0
524

BincangSyariah.Com – Dalam artikel sebelumnya telah dijelaskan bahwa Ibnu Arabi mengkategorikan doktrin trinitas dalam agama Kristen ke dalam kategori ajaran tauhid, dan karenanya para penganut agama Kristen juga dapat dinilai sebagai orang-orang yang bertauhid. (Baca selengakpnya di sini)

Tauhid yang mereka yakini ini kemudian pada tahap selanjutnya disebut Ibnu Arabi sebagai tauhid tarkib, jenis lain dari tauhid mutlak yang diyakini oleh umat Islam. Pertanyaan yang muncul kemudian ialah apa sebenarnya makna tauhid tarkib yang dimaksud oleh Ibnu Arabi dalam kitab al-Futuhat al-Makkiyyah?

Dalam kitab al-Futuhat al-Makkiyyah, memang tidak kita temukan ulasan atau definisi tauhid tarkib secara jelas dan tersurat. Kendati demikian, melalui pembacaan secara intertekstual terhadap karya-karya Ibnu Arabi yang lain terutama yang mengulas doktrin agama Kristen bisa dipastikan bahwa tauhid tarkib ialah tauhid yang terkandung dalam ajaran trinitas ini.

Dalam bahasa Indonesia, memang tidak kita temukan padanan yang tepat untuk terma tauhid tarkib namun dalam bahasa Inggris, tauhid tarkib  diterjemahkan sebagai oneness of composition (Keesaan dalam komposisi) yang secara semangat terkandung dalam ajaran tauhid ala trinitas.

Jadi keesaan Allah dalam kombinasi ini maksudnya ialah bahwa Allah itu satu substansi yang terdiri dari tiga oknum atau tiga hypostasis. Dalam bahasa Inggris hypostasis ini diterjemahkan secara keliru sebagai person. Kata person sendiri mengandaikan substansi, tentu jika diandaikan demikian trinitas sama saja dengan triteisme. Padahal kenyataannya bukan demikian: trinitas bukan triteisme.

Hypostasis  dalam karya-karya teolog muslim sering diterjemahkan sebagai uqnum atau na’at yang masing-masing bentuk pluralnya ialah aqanim dan nu’ut. Na’at atau nu’ut dalam bahasa Arab satu sinonim dengan kata as-sifah atau as-sifat.

Baca Juga :  Ulasan Ibnu Arabi tentang Kehadiran Imam Mahdi

Jadi secara ringkasnya, menurut pandangan yang pernah dikutip oleh as-Syahrastani dalam al-Milal wa an-Nihal, yang dimaksud trinitas itu ialah bahwa Allah itu satu substansi dengan tiga sifat: al-Ab, al-Ibn dan Ruh al-Quds. Al-Ab atau Bapa merupakan metaphor dari sifat al-wujud, al-Ibn merupakan metaphor bagi sifat al-kalam/al-ilm dan Ruh al-Quds adalah metaphor bagi sifat al-hayat.

Pertanyaan yang kemudian muncul, paling tidak berdasarkan kepada kerangka ilmu kalam Islam, apakah sifat adalah dzat itu sendiri (as-sifat ain adz-zat) ataukah sifat itu makna tambahan terhadap zat? Muktazilah menegaskan bahwa sifat adalah zat itu (muattilah) sendiri sedangkan Ahlu Sunnah menganut pandangan bahwa sifat ialah makna tambahan terhadap zat (ma’nan zaid ala zat).

Kedua aliran ini pada dasarnya masih dalam kerangka yang sama, yakni mengesakan Allah. Di kalangan Kristen, problemnya sama, yakni apakah sifat itu zat atau makna tambahan terhadap zat? Apakah putera yang merupakan metaphor dari sifat kalam Allah adalah Allah itu sendiri ataukah makna tambahan terhadap zat Allah?

Dalam teologi Kristen, Putera yang merupakan metaphor bagi Firman Allah mewujud nyata dalam bentuk manusia bernama Yesus sedangkan dalam Islam ‘Putera’ atau Firman Allah mewujud nyata dalam bentuk kitab suci bernama Alquran.

Di satu sisi, baik Kristen Resmi maupun Islam Resmi (Ahlu Sunnah) meyakini bahwa firman Allah itu qadim dan di sisi lain baik Arianisme yang merupakan sekte heretic dalam Kristen maupun muktazilah yang merupakan sekte bid’ah dalam Islam meyakini bahwa firman Allah itu tercipta.

Jadi, Yesus – Putera/Firman Allah dalam Kristen- dalam pandangan Arianisme itu diciptakan dan Alquran -Kalam Allah dalam Islam – dalam pandangan Muktazilah juga diciptakan.

Baca Juga :  Menyelisik Jejak Cadar dalam Kebudayaan Nusantara

Secara ringkasnya, Firman Allah dalam Kristen dan Islam bentuknya berbeda; dalam Kristen, Firman Allah itu berbentuk manusia dan dalam Islam, Firman Allah itu berbentuk kitab suci.

Menariknya, meski Gereja Resmi dan Islam Resmi meyakini bahwa Firman Allah itu Qadim dan tidak tercipta, keduanya beda dalam implikasinya: Kristen meyakini Yesus itu “Tuhan” sedangkan Islam meyakini bahwa Alquran bukan “Tuhan” meski sebagai kalam Allah yang qadim. Tentu dengan sedikit catatan bahwa “Tuhan” dalam Kristen itu beda pengertiannya dengan Tuhan dalam Islam.

Terma “Tuhan” dalam Kristen merupakan “gelar kepenguasaan” yang diberikan kepada Yesus Kristus dan bukan Tuhan dalam pengertian “yang disembah” seperti dalam Islam. Sebagian ada yang menafsirkan Tuhan dalam Kristen ini sebagai “pembimbing rohani” (al-mudabbir). Ulasan mengenai makna ilah atau Tuhan ini dalam pengertian pembimbing (bukan yang disembah) dapat kita temukan secara ringkas dalam kitab at-Tamhid karya al-Baqillani. “Tuhan” yang artinya “pembimbing” dalam Kristen ini menemukan padanannya pada mursyid tariqat dalam Islam.

Mursyid bagi seorang murid tidak boleh dilanggar perintah-perintahnya, meski perintahnya menyalahi syariat (ulasan relasi mursyid dan murid ini akan kita perjelas dalam tulisan lain). Singkatnya, baik Islam maupun Kristen memiliki perbedaan yang cukup signifikan soal pemberian makna terhadap kata Tuhan.

Perbedaan pemberian makna akan berimplikasi secara serius kepada keyakinan. Kristen meyakini bahwa Allah itu Bapa, Putera dan Roh Kudus dan di masa tertentu sang Putera mewujud nyata dalam sosok manusia bernama Yesus Kristus. Yesus Kristus itu pada tahap selanjutnya dianggap sebagai Tuhan dalam arti “pembimbing”, bukan dalam arti yang disembah.

Kemungkinan berangkat dari pemahaman seperti inilah Ibnu Arabi menekankan bahwa tidak ada yang bermasalah dalam teologi trinitas. Dan karena itu pula, Ibnu Arabi menegaskan bahwa umat Kristiani masih dalam koridor umat yang bertauhid dan akan mendapatkan rahmat ganda (rahmat murakkabah-lihat kutipan dalam bagian pertama artikel ini) di akhirat nanti. Namun demikian, apakah Ibnu Arabi percaya terhadap doktrin trinitas seperti yang terpahami dari puisinya? Saya kira tidak demikian.

Baca Juga :  Mengapa Salat Kebanyakan Kita itu Tak Bisa Khusyuk? Ini Ulasan Menarik Ibnu Arabi

Ibnu Arabi hanya membuka diskusi tentang trinitas sebagai paham tauhid berangkat dari kecintaannya terhadap simbol angka tiga, angka ganjil pertama sebagai dasar realitas. Lalu apa kaitan simbol angka tiga dengan trinitas? Jelas bahwa trinitas, bagi Ibnu Arabi, ialah dasar penciptaan alam semesta ini sekaligus yang menjadi jangkar bagi hukum-hukumnya (yasri at-tatslits fi jami’i-l umur li-wujudihi fi al-asli). Allahu A’lam.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here