Pandangan Ibnu Arabi tentang Tragedi Pembantaian Imam Husen

0
949

BincangSyariah.Com – Sepuluh Muharram merupakan tanggal yang sangat penting bagi umat Islam, tidak hanya karena Nabi Musa as dan Nabi Muhammad SAW menganjurkan untuk melakukan ibadah puasa di tanggal ini, namun juga karena di tanggal ini, cucu yang sangat disayangi Nabi dan yang pernah dikecup bibirnya, dibantai habis-habisan oleh 3000 tentara pasukan Ubaidullah bin Ziyad.

Konon meski masih diragukan informasinya, kepala Husen diarak di sepanjang perjalanan menuju Damaskus dan pernah dipajang beberapa hari di tengah kota sampai Abdul Malik bin Marwan meminta menurunkannya dan dikuburkan.

Meski informasi keterlibatan Yazid bin Muawiyah dalam peristiwa pembantaian ini masih simpang siur, jelasnya Imam Husen, yang oleh sekte Syiah dan beberapa kalangan Kristen dianggap sebagai simbol revolusi terhadap kekuasaan yang lalim, tewas terbunuh dalam peristiwa paling keji tersebut.

Namun jelasnya, kesyahidan Imam Husen ini hanyalah salah satu dari rangkaian peristiwa syahid tokoh-tokoh Islam sebelumnya yang dibunuh oleh umatnya sendiri. Jauh sebelum Husen, ayahnya sendiri Ali bin Abi Thalib tewas dipenggal kepalanya oleh Abd ar-Rahman bin Muljam dari Khawarij.

Jauh sebelum Husen, suami dari adiknya, Umar bin al-Khattab tewas ditikam oleh Abu Lulu. Jauh sebelumnya, suami dari bibinya, Usman bin Affan dibunuh secara secara memprihatinkan dalam peristiwa yang disebut sejarawan Islam sebagai al-fitnah.

Terlepas dari semua itu, Husen tetap menjadi simbol revolusioner bagi generasi selanjutnya, baik di kalangan Syiah maupun di kalangan Suni (kecuali salafi-wahabi mungkin). Kendati demikian, tragedi yang amat memilukan dan menyakitkan hati ini masih menuai pro dan kontra di kalangan ulama Suni dan Syiah.

Sepanjang penelusuran terhadap beberapa literatur kesejarahan, kiranya Abu Bakar Ibnu al-Arabilah (bukan Ibnu Arabi penulis Futuhat Makkiyah) yang dianggap paling kontroversial dalam melihat tragedi pembantaian Husen ini. Di tengah banyaknya simpati yang dikemukakan para ulama, termasuk leluhur Salafi-Wahabi, Ibnu Taymiyyah terhadap kesyahidan Husen ini, Ibnu Arabi memiliki pandangan lain yang jauh berbeda.

Baca Juga :  Ibnu Khaldun dan Khilafah Islamiyyah

Ibnu Arabi dalam bukunya, al-Awashim min al-Qawashim, sebuah buku yang membahas fitnah-fitnah yang dialami Islam sejak awal kemunculannya, memiliki pandangan yang cukup mengejutkan, yakni pandangannya bahwa Husen sebenarnya mati dibunuh oleh syariat kakeknya sendiri, syariat Nabi Muhammad SAW.

Kenapa imam Husen dibunuh oleh syariat kakeknya sendiri? Untuk menjawab ini, Ibnu Arabi meriwayatkan sebuah hadis Nabi SAW dalam kitabnya tersebut yang berbunyi demikian:

إنه ستكون هنات وهنات، فمن أراد أن يفرق أمر هذه الأمة وهي جميع فاضربوه بالسيف كائنا من كان

“Akan datang fitnah-fitnah yang terjadi di masa mendatang. Barang siapa yang ingin memecah belah umat yang sedang bersatu ini, maka bunuhlah ia dengan pedang, siapapun orangnya.”

Melalui hadis di atas, para ulama memparafrasekan kembali pandangan Ibnu Arabi mengenai terbunuhnya Imam Husen ini dengan ungkapan singkat:

إن الحسين قتل بسيف جده

“Sesungguhnya Imam Husen dibunuh oleh pedang kakeknya sendiri”.

Lebih jauh lagi, Ibnu Arabi berpendapat bahwa para tentara yang ikut langsung membantai Husen ini berpegang pada hadis di atas. Selain itu, Ibnu Arabi menegaskan bahwa seharusnya Imam Husen cukup berdiam diri saja di rumah dan tak perlu melakukan aksi revolusi untuk membela kebenaran karena dengan revolusinya tersebut Islam akan kembali mengalami masa-masa fitnah yang memakan banyak korban.

Hal ini seperti yang terjadi sebelumnya pada peristiwa terbunuhnya Usman bin Affan, perang Jamal, perang Siffin dan terpecah belahnya umat Islam menjadi beberapa sekte yang saling bertentangan antara yang satu dengan yang lainnya.

Bahkan lebih anehnya lagi, ketika mengkritik pemberontakan Imam Husen terhadap Yazid bin Muawiyah, Ibnu Arabi di pembahasan sebelumnya dalam buku yang sama mendukung sahabat-sahabat Nabi yang memberontak kepada Ali bin Abi Thalib ketika yang terakhir ini menjadi khalifah keempat setelah Usman bin Affan, kendati yang memberontak tersebut sudah berbaiat.

Baca Juga :  Kisah Seorang Satpam Bertobat Karena Pelacur

Dengan berbagai macam dalih, Abu Bakar Ibnu Arabi mencoba memberikan banyak justifikasi terhadap tindakan sebagian sahabat yang memberontak kepada Ali bin Thalib. Ibnu Arabi dalam al-Awashim min al-Qawashim menegaskan:

فيحتمل أنهم خرجوا لخلع علي لأمر ظهر لهم، وهو أنهم بايعوا لتسكين الثائرة وقاموا يطلبون الحق. ويحتمل أنهم خرجوا ليتمكنوا من قتلة عثمان. ويمكن أنهم خرجوا في جمع طوائف المسلمين وضم نشرهم وردهم إلى قانون واحد، حتى لا يضطربوا فيقتتلوا وهذا هو الصحيح لا شيئ سواه، وبذلك وردت صحاح الأخبار.

Kemungkinan para sahabat memberontak kepada Ali bin Abi Thalib karena ada kebenaran yang tampak di hadapan mereka. Semula para sahabat Nabi tersebut berbaiat kepadanya hanya sekedar untuk mendinginkan para revolusioner, namun setelah itu, mereka menuntut kebenaran.

Kemungkinan lain, para sahabat memberontak untuk mengetahui siapa sebenarnya para pembunuh Usman. Mereka memberontak kepada pemerintahan yang sah demi untuk menyatukan kembali umat Islam dan mengembalikan mereka ke dalam satu hukum yang disepakati bersama sampai tidak ada lagi keributan.

Untuk memperjuangkan persatuan ini, mereka sampai memerangi Ali bin Abi Thalib. Inilah keputusan yang benar. Tidak ada dalil lain yang menunjukkan itu. Yang ada hanyalah hadis-hadis sahih yang menceritakan itu semua.

Melalui kutipan ini jelaslah bahwa terkait pemberontakan ini, Ibnu Arabi memiliki dua pandangan yang cukup berbeda yang semuanya itu menjadikan kesatuan dan keutuhan umat sebagai dalih justifikasi. Namun demikian, pandangan ini juga mengandung ambivalensi.

Kita lihat di satu sisi, bagi Ibnu Arabi, Husen telah memecah belah umat dengan usahanya memberontak kepada Yazid bin Muawiyah sebagai pemerintah yang sah dan karenanya ia wajib dibunuh demi keutuhan umat. Namun di sisi lain, para sahabat Nabi yang memberontak kepada Ali bin Abi Thalib, menurut penulis buku al-Awashim min al-Qawashim ini, dibenarkan juga dengan alasan yang sama, kesatuan dan keutuhan umat.

Baca Juga :  Abdul Qahir al-Baghdadi dan Puncak Penulisan Ilmu Kalam Mutakadimin

Di sini kita sedang dihadapkan pada inkonsistensi Ibnu Arabi dalam menilai dua jenis pemberontakan; dalam konteks pemberontakan Imam Husen terhadap Yazid bin Muawiyah, Ibnu Arabi menolak mentah-mentah dan artinya kontra terhadap aksi Husen.

Namun sebaliknya, dalam konteks pemberontakan sebagian sahabat Nabi terhadap Ali bin Abi Thalib, Ibnu Arabi malah mendukungnya.

Melalui penjelasan ini, kita bisa menebak ideologi yang mendorong Ibnu Arabi berpandangan demikian. Melalui teori lingkaran ideologis (ideological square) yang diperkenalkan dalam tradisi Analisis Wacana Kritis, kita bisa membaca arah pemikirannya, yakni dengan kata-kata lain, Ibnu Arabi berusaha merepresentasikan Husen dan Ali bin Abi Thalib dan memetakannya ke dalam apa yang disebut van Dijk sebagai Bad Other/Them. Dan karenanya Husen wajib dikritik dan Ali bin Abi Thalib wajib diberontak.

Imam Husen dan Ali bin Abi Thalib di masing-masing masanya merupakan pemimpin atau tokoh besar Bani Hasyim. Sementara itu, jika Ibnu Arabi kontra terhadap Bani Hasyim yang dibuktikan melalui kritiknya kepada pemberontakan Husen terhadap pemerintahan Yazid bin Muawiyah dan dukungannya terhadap pemberontakan sebagian sahabat kepada pemerintahan Ali bin Abi Thalib, sudah tentu bisa ditebak Good Self/Good Us yang sedang dibelanya.

Siapakah kelompok yang dibela Ibnu Arabi? Ya siapa lagi kalau bukan Bani Umayyah yang sedari masa Jahiliyyah sampai masa Islam menjadi musuh bebuyutan bagi Bani Hasyim.

Dengan demikian, pandangan Ibnu al-Arabi ini dideterminasi oleh ideologi yang sangat pro Bani Umayyah dan karenanya penilaiannya terhadap pembantaian Imam al-Husain sangat bermotif ideologis.

Benarkah demikian? Silahkan baca kembali al-Awashim min al-Qawashim secara teliti niscaya asumsi afiliasi ideologis Abu Bakar Ibnu al-Arabi ini akan muncul terutama ketika membaca pada bagian Uthman bin Affan, Muawiyah dan Yazid dan seterusnya. Ala kulli hal, Allahu Alam.



BincangSyariah.Com dikelola oleh jaringan penulis dan tim redaksi yang butuh dukungan untuk bisa menulis secara rutin. Jika kamu merasa kehadiran Bincangsyariah bermanfaat, dukung kami dengan cara download aplikasi Sahabat Berkah. Klik di sini untuk download aplikasinya. Semoga berkah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here