Pandangan Ibnu Arabi Mengenai Doktrin Trinitas yang Kudus (Bagian I)

1
828

BincangSyariah.Com – “Kekasih-Ku ialah Allah yang Maha Esa dalam trinitas.

Allah ialah tiga oknum dalam satu substansi.”

Kutipan di atas dapat kita temukan di salah satu karya Ibnu Arabi yang berjudul Diwan Tarjuman al-Asywaq. Tarjuman al-Asywaq merupakan kumpulan puisi-puisi Ibnu Arabi yang mengekspresikan secara mendalam tentang pengalaman ruhaninya menuju Tuhan.

Memang agak berat kita membaca dan memahami puisi-puisi sufistik Ibnu Arabi yang penuh dengan bahasa-bahasa simbolik, tidak hanya dalam kitab ini, namun juga dalam kitab-kitabnya yang lain seperti al-Futuhat al-Makkiyyah, Anqa’u Maghrib dan Fushush al-Hikam. Beruntungnya untuk memahami puisi-puisi Ibnu Arabi dalam Tarjuman al-Asywaq ini, kita dapat terbantu oleh adanya kitab ad-Dzakha’ir wa al-A’laq yang memberikan syarah cukup ringkas dan padat terhadap isi kitab ini.

Dalam membaca karya-karya Ibnu Arabi, kita akan selalu dikagetkan oleh ulasan-ulasannya yang menarik dan kontroversial, dan bahkan akan dapat menghantam nalar rasional dan sendi-sendi keimanan kita.

Dalam artikel-artikel sebelumnya, telah kita lihat pandangan-pandangan Ibnu Arabi tentang prediksi kemunculan Imam Mahdi, prediksi kapan terjadinya hari kiamat, cara wali dalam menyeleksi hadis tanpa perlu menggunakan ilmu hadis, keimanan Fir’aun dan simbol salib yang baginya melambangkan alam ruhani dan alam materi, kebebasan kalangan khassatul khassah dari kewajiban melaksanakan syariat dan lain-lain. Semua itu adalah pandangan-pandangan yang tidak lazim dalam ortodoksi Islam.

Namun kali ini kita akan mencoba mengulas pandangan Ibnu Arabi lainnya yang tak kalah kontroversial, yakni pandangannya tentang doktrin trinitas yang diyakini oleh sebagian besar umat kristiani.

Meski sebagian besar umat Islam meyakini doktrin trinitas sebagai kekufuran dan karena itu orang yang meyakininya dianggap kafir, Ibnu Arabi malah melihatnya secara berbeda. Melalui kasyaf ruhaninya (atau kasyaf ma’nawi), Ibnu Arabi melihat bahwa trinitas itu adalah sejenis doktrin mengenai keesaan Allah namun dengan versi yang berbeda.

Ibnu Arabi menyebut doktrin trinitas yang diyakini oleh sebagian umat kristiani sebagai tauhid tarkib sementara tauhid versi Islam ialah tauhid mutlak. Kendati mengakui doktrin trinitas ini seolah seperti menggambarkan adanya tiga Tuhan, Ibnu Arabi tetap berkeyakinan bahwa umat kristiani adalah para penganut doktrin keesaan Allah.

Dan karena masih dikategorikan sebagai bertauhid, umat kristiani juga layak mendapat keselamatan di akhirat nanti. Saya kira kita perlu menyajikan secara langsung ulasan Ibnu Arabi ini dari kitabnya, al-Futuhat al-Makkiyyah:

وأما أهل التثليث فيرجى لهم التخلص لما في التثليث من الفردية لأن الفرد من نعوت الواحد، فهم موحدون توحيد تركيب فيرجى أن تعمهم الرحمة المركبة

“Para penganut doktrin trinitarian bisa saja mendapat keselamatan. Pasalnya, mereka mendapat keselamatan karena dalam doktrin trinitas terdapat konsep ke-ganjil-an (al-fardiyyah). Sementara ‘ganjil’ (dalam tataran metafisis) merupakan salah satu sifat yang Maha Esa. Berangkat dari konsep ‘ganjil’ inilah, penganut doktrin trinitas sebenarnya masih menganut paham tauhid. Namun, tauhid yang mereka yakini ialah tauhid tarkib (bukan tauhid mutlak). Semoga mereka selalu mendapat rahmat berlipat (ar-rahmat al-murakkabah).”

Sampai di sini kita melihat bahwa Ibnu Arabi tetap mengklaim umat kristiani sebagai umat yang bertauhid. Alasannya ialah karena dalam doktrin trinitas masih diakui ke-ganjil-an (al-fardiyyah) dan ganjil itu sendiri adalah salah satu sifat Allah yang Esa dan bahkan dalam berbagai literatur hadis, ganjil adalah angka yang paling disukai oleh Allah (inna Allah witrun yuhibb al-witr). Ibnu Arabi kemudian menegaskan pandangannya:

فربما لحق أهل التثليث بالموحدين في حضرة الفردانية لا في حضرة الوحدانية. فهكذا رأيناهم في الكشف المعنوي لم نقدر أن نميز بين الموحدين وأهل التثليث إلا بحضرة الفردانية

“Para penganut doktrin trinitas dapat digolongkan sebagai penganut paham tauhid; namun tauhid mereka masih dalam ranah ke-ganjil-an (hadrah al-fardaniyyah) bukan dalam ranah keesaan (hadrah al-wahdaniyyah). Demikianlah pandangan ini kami sajikan berdasarkan pada kasyaf yang kami alami. Dalam alam kasyaf ini, kami bisa membedakan para penganut paham tauhid dengan penganut doktrin trinitas hanya melalui ranah ke-ganjil-an.”

Berdasarkan pada kutipan di atas, dapat kita pahami bahwa ada dua jenis golongan orang-orang yang bertauhid: pertama, orang yang bertauhid dalam arti meyakini keesaan Allah dan kedua, orang yang bertauhid dalam arti meyakini ke-ganjil-an Allah.

Umat Islam dapat dikategorikan sebagai umat yang bertauhid dengan kedua jenis golongan ini secara bersamaan: keesaan dan ke-ganjil-an. Sedangkan umat kristiani hanya bisa diklasifikasikan ke golongan yang kedua, yakni orang yang bertauhid dalam arti meyakini ke-ganjil-an Allah. Awal angka ganjil dalam pandangan Ibnu Arabi ialah angka tiga dan dari angka tiga yang ganjil inilah, trinitas menemukan relevansinya dalam pandangan Ibnu Arabi.

فإني ما رأيت لهم ظلا في الوحدانية ورأيت أعيانهم في الفردية ورأيت أعيان الموحدين في الوحدانية والفردانية فعلمت الفرق بين الطائفتين

“Dalam pandangan kasyafku, para penganut doktrin trinitas tidak bisa digolongkan ke dalam ranah keesaan Allah (ahad). Mereka hanya bisa digolongkan ke dalam ranah ke-ganjil-an Allah. Sementara itu, para penganut tauhid murni justru berada dalam ranah keesaan dan ke-ganjil-an Allah secara bersamaan. Dengan demikian, aku dapat mengetahui perbedaan antara dua golongan ini.”

Jadi ketika mengklasifikasikan para penganut doktrin trinitas sebagai umat yang bertauhid, Ibnu Arabi sepenuhnya mendasarkan pandangannya ini pada pengalaman ruhaninya (kasyaf ma’nawi). Selain itu, tampaknya kegemarannya terhadap angka tiga merupakan pintu pembuka baginya untuk memahami ajaran trinitas secara kasyfi.

Angka ganjil tiga memiliki kedudukan tersendiri dalam tasawwufnya Ibnu Arabi. Angka ganjil tiga bagi Ibnu Arabi dalam al-Futuhat al-Makkiyyah merupakan dasar bagi eksistensi dan terciptanya alam semesta ini.

Angka ganjil harus dimulai dari angka tiga, bukan angka satu. Angka satu atau esa menurutnya tidak boleh melahirkan pluralitas. Demikian juga angka dua. Sedangkan angka tiga dapat menggabungkan dua angka sebelumnya dan pada akhirnya dapat melahirkan angka-angka lainnya. Itu artinya angka tiga ialah angka yang sangat penting bagi terciptanya alam semesta ini.

Dari angka tiga ini pulalah Ibnu Arabi membaca trinitas bukan hanya sebagai dasar teologi Kristen namun juga sebagai manifestasi dari kecintaan ilahi terhadap dasar dari semua angka ganjil. Dari angka tiga ini pula, puisinya tentang trinitas mendapat basis legitimasinya tersendiri:

تثلث محبوبي وقد كان واحدا، كما صيروا الأقنام بالذات أقنما

“Kekasih-Ku ialah Allah yang Maha Esa dalam trinitas.

Allah ialah tiga oknum dalam satu substansi.”

 

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here