Mengenal Paket Ribawi Menurut Skema Kredit Tanpa Agunan (KTA)

0
1065

BincangSyariah.Com – Tidak semua orang yang mengambil akad utang adalah karena faktor butuh modal usaha (kredit produktif). Masyarakat kita di kalangan pedesaan, dan sejumlah karyawan perusahaan yang umumnya terdiri dari masyarakat kalangan urban, justru berutang dalam rangka memenuhi kebutuhan dasar keluarganya dan sarana untuk bekerja. Jadi, yang berlaku buat mereka (dalam konteks fiqih islami) seharusnya adalah akad Kredit Tanpa Agunan (qardh). (Baca: Produk Kredit Tanpa Agunan Berbasis Akad Qardlu dalam Fikih Islam)

Jika menilik bahwa definisi dasar dari KTA islami (qardlu) adalah akad penguasaan suatu barang kepada orang lain dengan kewajiban berupa gantinya,” maka pada hakikatnya akad KTA (qardlu) ini bisa dimaknai sebagai dua, yaitu: a) akad pertukaran uang dengan uang, yang berarti melibatkan dua barang ribawi sejenis dengan salah satunya ditunda, b) akad pertukaran antara uang dengan barang dengan harga penyerahan yang ditunda. Untuk akad pertama, disebut sebagai qardlu hasan, dan akad kedua masuk rumpun akad jual beli dengan harga penundaan. Sekalipun bunyinya utang-piutang, bila ada barang yang menjadi wasilah, maka hakikatnya ia adalah praktik jual beli.

Pertama, KTA qardlu sebagai Akad Pertukaran Barang Ribawi Sejenis

KTA (qardlu) yang masuk rumpun akad pertukaran barang ribawi sejenis, memiliki beberapa ketentuan dalam syariat yang tidak boleh dilanggar. Kedua barang yang saling diserahkan harus memenuhi tiga kriteria dasar pertukaran barang ribawi, yaitu: wajib hulul (kontan), tamatsul (sejenis dan sama timbangan atau takarannya, atau satuan mata uangnya) dan taqabudl (saling bisa diserahterimakan dan jelas waktu penyerahannya). Kelebihan penyerahan pada salah satu barang yang dipertukarkan, adalah termasuk transaksi riba fadli.

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم:   الذَّهَبُ بِالذَّهَبِ ، وَالْفِضَّةُ بِالْفِضَّةِ ، وَالْبُرُّ بِالْبُرِّ ، وَالشَّعِيرُ بِالشَّعِيرِ ، وَالتَّمْرُ بِالتَّمْرِ ، وَالْمِلْحُ بِالْمِلْحِ ، مِثْلًا بِمِثْلٍ ، سَوَاءً بِسَوَاءٍ ، يَدًا بِيَدٍ ، فَإِذَا اخْتَلَفَتْ هَذِهِ الْأَصْنَافُ ، فَبِيعُوا كَيْفَ شِئْتُمْ ، إِذَا كَانَ يَدًا بِيَدٍ ) ، وفي رواية أبي سعيد: ( فمن زاد أو استزاد ، فقد أربى ، الآخذ والمعطي سواء

Baca Juga :  Abdullah bin Al-Mubarak dan Kuda Pintar yang Dibeli Santrinya

Artinya: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: emas dengan emas, perak dengan perak, gandum merah dengan gandum merah, gandum putih dengan gandum putih, kurma dengan kurma, garam dengan garam, maka harus sama antara kedua barang yang dipertukarkan (tamatsul), saling serah terima (taqabudl). Jika terdapat perbedaan jenis pada salah satu dari masing-masing di atas, maka jual belikanlah sekehendakmu, dengan syarat harus bisa diserahterimakan (taqabudl). Dalam riwayat Abu Said disebutkan: “Barang siapa melebihkan atau meminta kelebihan, maka itu termasuk riba. Baik yang memungut maupun yang memberi, keduanya sama.” (HR. Muslim).

Ada perincian menarik dari para ulama terkait dengan kelebihan di salah satu barang yang dipertukarkan ini, antara lain sebagai berikut:

Pertama, kelebihan yang tidak disyaratkan saat akad, baik dari arah pemberi pinjaman maupun dari pihak yang dipinjami. Kelebihan atas barang yang diutangkan, baik yang datangnya dari pihak pemberi utang (kreditur) atau penerima utang (debitur), hukumnya adalah boleh, dengan syarat tidak disyaratkan di muka. Kelebihan ini dikenal dengan istilah riba halal atau hibbatu al-tsawab.

الربا ربوان، ربا حلال وربا حرام، فأما الربا الحلال فهو الذي يهدى، يلتمس ما هو أفضل منه

Artinya: “Riba itu ada dua jenis, yaitu riba halal dan riba haram. Riba halal adalah hadiah yang diberikan seseorang kepada orang lain dengan harapan akan diganti yang lebih baik dari apa yang dia berikan.” (al-Qurthuby, Jami’u al-Ahkam al-Fiqhiyyah li al-Imam Al-Qurthuby min Tafsirihi, Beirut: Dar al-Kutub Al-Imiyyah, tt., Juz 2, halaman 10).

Kedua, kelebihan yang disyaratkan saat akad oleh pihak pemberi utang atau pihak yang menerima utang, adalah termasuk riba al-fadhl. Jadi, hakikatnya antara riba qardli dengan riba al-fadhl itu adalah sama, hanya berbeda objek. Jika riba qardli umumnya terjadi pada utang uang dibayar uang, yang terdiri dari naqd (yaitu uang emas dan uang perak), sementara riba al-fadhl umumnya terjadi pada barang ribawi murni, antara lain: emas, perak dan bahan makanan.

Baca Juga :  Siapakah Ahli Dzikir Itu?    

Kedua, KTA qardlu sebagai Akad Pertukaran Barang Ribawi Tidak Sejenis

Dalam khazanah literasi fikih klasik, KTA jenis ini hakikatnya adalah jual beli dengan objek berupa barang ribawi tidak sejenis. Dengan demikian, dari kedua barang yang dipertukarkan, salah satunya bertindak sebagai harga bagi barang yang lain. Emas ditukar dengan perak, maka yang bertindak selaku harga adalah bisa emasnya, bisa pula peraknya. Emas ditukar dengan bahan makanan, maka yang bertindak selaku harga bisa emasnya, bisa pula makanannya.

Yang mutlak dipersyaratkan dalam praktik jual beli barang ribawi semacam ada dua, yaitu:

  1. Wajibnya imkanu al-qabdli (bisanya barang diserahterimakan) sehingga waktu penyerahannya pun harus jelas.
  2. Kejelasan (kemakluman) “harga” dari kedua objek yang dipertukarkan.

Ada dua praktik KTA barang ribawi tidak sejenis ini, yaitu: (a) KTA jual beli dengan harga tunda, dan (b) KTA kredit barang ribawi.

KTA jual beli dengan Harga Tunda

Contoh dari akad pertukaran ini adalah sebagai berikut:

“Ada uang sebesar 100 ribu, yang dengan nilai sekarang bisa mendapatkan jagung seberat 20 kg. Pihak peminjam bilang bahwa uang tersebut akan dibayar dengan jagung. Akan tetapi tidak disebutkan, apakah harga jagung sekarang saat peminjam menerima uang kontan, ataukah harga jagung saat panen? Praktik transaksi yang benar adalah harus mensyaratkan dengan harga jagung saat penyerahan uang, dan bukan harga jagung saat panen. Dengan demikian, saat terjadi penyerahan jagung pada waktu jatuh tempo pembayaran, jagung itu harus tetap memiliki berat 20 kg. Tidak boleh disyaratkan lebih, juga tidak boleh disyaratkan kurang akibat penyesuaian dengan harga. Hal yang sama juga berlaku atas wasilah uang yang dipergunakan sebagai harganya.”

Baca Juga :  Enam Nabi yang Namanya Dijadikan Nama Surah Al-Qur’an

“Namun ternyata, pelakunya mensyaratkan lain. Dengan tidak disebutkan saat akad bahwa jagung itu adalah harus sesuai dengan harga saat penyerahan uang, menjadikan pihak peminjam harus membayar dengan harga jagung saat panen. Ketika jagung saat panen itu anjlog mencapai 2.500 rupiah per kg, maka menjadikan besaran berat jagung yang harus diserahkan ke pemberi pinjaman menjadi seberat 40 kg. Bayangkan! Terjadi pertambahan sebesar 20 kg.”

Hal semacam ini termasuk riba sebagai akibat penyesuaian harga berbasis waktu penundaan. Tak pelak lagi bahwa akad itu termasuk akad riba al-yad. Hukumnya adalah haram.

KTA Kredit Barang Ribawi Tak Sejenis

Jenis/model pertukaran yang lain melalui produk KTA barang ribawi tidak sejenis adalah pertukaran “barang ribawi” secara kredit (nasiah). Yang dibeli terdiri dari barang ribawi, sementara penukarnya juga berupa barang ribawi. Misalnya membeli beras secara kredit, membeli emas secara kredit. Kedua model praktik demikian adalah masuk rumpun riba nasiah, disebabkan objek barangnya berupa barang ribawi yang tidak sejenis.

Walhasil, KTA dengan objek barang ribawi sejenis dan tidak sejenis sebagaimana digambarkan pada model atau praktik di atas, adalah termasuk transaksi riba. Hukumnya adalah tidak boleh dan ulama’ sepakat menyatakannya sebagai haram. Sekali lagi catatan yang perlu dikedepankan adalah bahwa transaksi di atas terjadi pada objek pertukaran terdiri dari barang ribawi. Jadi, jangan pernah berpikir untuk menyamakan dengan pertukaran “barang ribawi” dengan barang “non ribawi”.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here