Orientalis dan Sinisme Wahabi terhadap Tasawuf

0
1402

BincangSyariah.Com – Anggapan bahwa tasawuf bukanlah bagian dari syariat Islam, bukanlah tuduhan kemarin sore yang baru muncul belakangan. Tuduhan bahwa tasawuf merupakan sekadar pengaruh kebatinan dari agama lain (Hindu, Budha, atau Kristiani) dan tidak pernah dicontohkan oleh Nabi Saw., adalah dakwaan yang sejak lama terdengar.

Ali Sami al-Nassyar dalam karyanya Nasy’atu al-Fikr al-Falsafi mengatakan bahwa tuduhan di atas sudah sejak lama muncul. Menurutnya hal itu merupakan bagian dari kontribusi orientalis yang menggunakan mazhab mereka masing-masing dalam menilai tasawuf sehingga menilainya sesuai dengan seleranya sendiri.

Para orientalis pada masa lalu kebanyakan ingin menghindari pengakuan bahwa tasawuf merupakan syariat Islam. Ada tiga tren model penelitian tasawuf dan sufi yang dipraktikkan di kalangan orientalis.

Pertama adalah mazhab Jerman. Mazhab ini seringkali melakukan analisa kebahasaan sehingga ketika menghadapi istilah tashawwuf, mereka akan meneliti dari segi asal usul bahasa.

Mazhab ini akan mengklasifikasi apakah sebuah kata ada akarnya dari bahasa Arab, atau menyerap dari bahasa kuno lain seperti Yunani atau Sansekerta. Tokoh kelompok ini di antaranya adalah Theodore Noldeck, di mana ia menyimpulkan kalau kata tashawwuf bersumber dari kata shuf, yang berarti bulu domba (yang dijadikan baju).

Kedua adalah Mazhab Inggris. Penelitian ala mazhab ini mencoba membaca tasawuf sebagai bagian dari kisah-kisah, sejarah sehingga mereka perlu memunculkan manuskrip-manuskrip tasawuf dan merilisnya menjadi sebuah buku, baik dalam bahasa aslinya (seperti Arab atau Persia) atau sudah diterjemahkan untuk dibaca oleh pembaca Barat dalam bahasa Inggris.

Menurut mazhab ini kesufian sebagai sebuah spiritualitas (atau mistisme, seperti diterjemahkan oleh banyak orientalis) yang terdapat dalam Islam dan agama-agama lain. Tokoh mazhab ini di antaranya adalah Brown, A.J. Arberry dan N.J. Nicholson.

Sayangnya, penelitian model mazhab ini dikendarai oleh misi-misi kolonialisme. Salah satu contohnya adalah penulis sejarah kesufian Persia yang memiliki interaksi dengan kesufian Islam. Prof. Brown menyimpulkan bahwa kesufian Persia memiliki bentuknya sendiri yang berbeda dengan tasawuf Islam. Pandangannya ini -yang menjadi corong kolonialisme Inggris- lalu melahirkan gerakan agama Babiyah dan Bahaiyyah, di mana spiritualitasnya dicampur antara spiritualitas Islam dan Persia.

Ketiga adalah Mazhab Prancis. Mazhab ini berupaya untuk menjadikan kesufian sebagai tren mistisme dan spiritualitas orang Eropa. Menurutnya, mistisme tasawuf memang ada dalam Islam, namun itu tidak terlepas dari spiritualitas kristiani yang masuk ke dalam sendi ajaran-ajaran Islam. Tokohnya di antaranya adalah Louis Massignon (yang meneliti al-Hallaj). Massignon adalah seorang pendeta Katolik. Hasil kajiannya tentang tasawuf kemudian memunculkan tren di kalangan pendeta Katolik sendiri untuk mengkaji tasawuf al-Hallaj dan memunculkan forum-forum untuk kajiannya.

Menurut al-Nassyar, Massignon tidak terlalu memahami kata-kata al-Hallaj di mana ia segera menyimpulkan kalau al-Hallaj dibunuh karena berkata bahwa saya adalah Tuhan, saya adalah Yang Maha Benar (Anaa al-Haqq). Padahal, ada faktor-faktor politik dan perspektif fikih yang menyebabkan al-Hallaj dibunuh pada masa itu. Peneliti yang mengikuti tren al-Hallaj adalah Henry Corbin yang meneliti Suhrawardi (al-Maqtul) dan Ibn ‘Arabi.

Dari ketiga mazhab di atas, kita bisa menyimpulkan kalau pandangan tajam dari paham wahabi terhadap tasawuf, baik sebagai sebuah bid’ah, ataupun pengaruh dari agama lain, sebenarnya mirip dengan cara pandang mazhab-mazhab orientalisme yang acapkali berat sebelah atau hanya memandang dari satu sisi saja sebuah fenomena.

Wallahu A’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here