Siapakah Orang yang Pertama Kali Memperingati Maulid Nabi?

0
1520

BincangSyariah.Com – Seremonial Maulid Nabi merupakan momen yang ditunggu-tunggu oleh sebagian besar umat Muslim di seluruh dunia. Hal ini karena momen tersebut merupakan hari di mana panutan umat Muslim di dunia dilahirkan. Ia adalah Nabi Muhammad saw. yang lahir pada hari Senin bulan Rabiul Awal.

Pada masa Nabi, sahabat, dan ulama awal-awal Islam memang tidak ada seremonial maulid Nabi yang kita kenal seperti saat ini. Maulid Nabi pada saat ini diadakan karena bentuk rasa syukur kita sudah dijadikan sebagai umat Nabi. Oleh karena itu, dalam acara Maulid Nabi yang diadakan itu adalah membaca sirah nabawiah dengan dipimpin seorang pemuka agama.

Setelah pemuka agama tersebut selesai menjelaskan tentang perjuangan Nabi menyebarkan Islam ke seluruh dunia, kita sebagai hadirin makan bersama yang mana praktik ini juga disunahkan Nabi. (Baca: Anjuran Makan Berjamaah). Selain itu, ada juga yang mengadakan santunan untuk orang-orang yang tidak mampu.

Kalau di masa Nabi, sahabat, dan para ulama awal tidak pernah ada yang memperingati maulid, lantas apakah otomatis langsung haram, karena mereka semua tidak pernah melakukannya? Tentu tidak. Alasannya bisa dibaca pada artikel berikut (Baca: Sembilan Alasan Kebolehan Merayakan Maulid). Apa yang Nabi tinggalkan, atau tidak melakukan itu belum tentu haram. (Baca: Praktik yang Nabi Tak Lakukan Belum Tentu Haram).

Lantas siapakah orang yang pertama kali memperingati Maulid Nabi? Imam al-Suyuthi, ulama yang hafal ratusan ribu hadis, dalam kitab Husnul Maqshad fi ‘Amalil Maulid menyebutkan bahwa orang yang pertama kali memperingati Maulid Nabi adalah Muzhaffaruddin Abu Said Gokbori, seorang pemimpin Muslim di daerah Arbil, Irak. Ia merupakan hakim di masa kepemimpin Shaluddin al-Ayyubi.

Baca Juga :  Tentang Sejarah Perayaan Maulid Nabi

Dalam kitab Siyar A’lam al-Nubala, ia disebutkan sebagai pemimpin yang gemar bersedekah. Ia seringkali membagi-bagikan makanan untuk fakir-miskin pada setiap hari Senin dan Kamis. Setiap orang yang ia temui ditanya mengenai keadaan kehidupannya, apakah ia sedang kekurangan atau tidak. Ia membangunkan panti-panti untuk anak yatim dan janda-janda.

Tidak hanya itu, Abu Said Gokbori juga membangunkan madrasah untuk para pelajar dari mazhab fikih Syafiiyah dan Hanafiah. Ulama yang menuliskan tentang Maulid Nabi, seperti Imam Ibnu Dihyah, diberi olehnya hadiah seribu dinar. Ia wafat pada usia 82 tahun, tepatnya malam Jumat, 14 Ramadan, tahun 630 hijriah. Ia dimakamkan di Kufah, dekat pemakaman sahabat Ali.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here