Nurcholish Madjid: Intelektual dengan Gagasan “Islam Yes, Partai Islam No!”

0
240

BincangSyariah.Com – Nurcholish Madjid atau akrab dipanggil Cak Nur adalah intelektual Islam Indonesia yang banyak mencetuskan pemikiran-pemikiran moderat dan progresif sehingga—oleh banyak kalangan—disebut sebagai salah satu pembaharu Islam Indonesia.

Cak Nur lahir di Jombang, Jawa Timur pada 17 Maret 1939 M atau bertepatan dengan 26 Muharram 1358 H. Ayahnya K.H Abdul Madjid, adalah jebolan Pesantren Tebuireng yang diasuh Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari kala itu, sedangkan ibunya bernama Fathonah, putra Kiai Abdullah Sadjad dari Kediri. Meski beraliran NU, ayah Cak Nur adalah simpatisan Masyumi, sebuah parpol Islam modernis di zaman Orde Lama.

Cak Nur kecil pernah mondok di Pesantren Darul Ulum, Jombang dan kemudian melanjutkan ke Pesantren Darus Salam Gontor, Ponorogo selama kurun waktu tahun 1955-1960. Atas rekomendasi pimpinan pesantren, yaitu Kiai Zarkasy, Cak Nur lalu melanjutkan pendidikannya di Jurusan Sastra Arab, Fakultas Adab, IAIN Syarif Hidayatullah, Jakarta, dan lulus pada tahun 1968. Dan kemudian mendalami ilmu politik dan filsafat Islam di Universitas Chicago, 1978-1984, sehingga mendapat gelar Ph.D. dalam bidang Filsafat Islam (Islamic Thought, 1984) dengan disertasi mengenai filsafat dan kalam (teologi) menurut Ibn Taimiyah.

Karir intelektual Cak Nur mulai muncul saat ia menjadi Ketua Umum Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) sampai dua kali, yakni dalam kurun 1966-1968 dan 1969-1971. Pada tahun 1960-an, HMI adalah salah satu organisasi mahasiswa besar selain CGMI yang berafiliasi dengan PKI dan GMNI yang berafiliasi ke PNI. Namun setelah Persitiwa 1965, CGMI bubar dan GMNI meredup. Tinggal HMI lah yang dominan di kancah organisasi mahasiswa kala itu.

Pada tahun 1969, Cak Nur membuat risalah ideologis yang monumental yang diberi nama Nilai-nilai Dasar Perjuangan (NDP) HMI. NDP berisi pedoman ideologis bagi kader HMI. Sebelumnya, HMI belum punya “buku pedoman”. Yang menjadi bacaan dasar hanya buku karya Tjokroaminoto, “Islam dan Sosialisme” yang dianggap sudah tidak memadai. Sementara anak-anak muda aktivis komunis pada tahun 1960-an, dengan difasilitasi PKI, memiliki buku kecil yang berjudul Pustaka Kecil Marxis, atau yang dikenal PKM sebagai buku pedoman.

Baca Juga :  Meneladani Ibadah Sunah yang Dilakukan Nabi di Hari Raya Idulfitri

Karenanya, Cak Nur ingin membuat model serupa dengan pendekatan keislaman dengan formula umum yang bisa menyesuaikan perkembangan ruang dan waktu. Jargon-jargon yang dipakai pun standar dan menghindari istilah-istilah yang kontemporer pada masa itu. Dalam perkembangan berikutnya, NDP berubah nama menjadi Nilai-nilai Identitas Kader (NIK). Konon perubahan ini karena kompromi dengan Pemerintah Orde Baru, sebab kata “Perjuangan” dalam NDP yang dianggap “ancaman” yang mengganggu stabilitas. HMI era Cak Nur adalah era emas. Di masa itu, sejumlah intelektual Islam juga aktif di organisasi ini, seperti Ahmad Wahib, Djohan Effendi, dan Dawam Rahardjo. Pemikiran dan perdebatan intelektual tumbuh subur.

Beberapa bulan setelah menulis NDP, tepatnya pada 3 Januari 1970, Cak Nur membuat gonjang-ganjing dunia Islam Indonesia tatkala menulis sebuah tulisan berjudul “Keharusan Pembaharuan Pemikiran Islam dan Masalah Integrasi Umat”. Makalah ini disampaikan Cak Nur dalam forum silaturahim empat organisasi pemuda Islam, yaitu HMI, PII, Persami, dan GPI.

Dalam makalah itu, Cak Nur memaparkan permasalahan yang dialami umat Islam yaitu kejumudan dalam pemikiran dan pengembangan ajaran-ajaran Islam, dan kehilangan daya tonjok psikologis (psychological striking force) dalam perjuangannya. Kemandekan ini, menurut Cak Nur, harus didobrak. Syaratnya adalah, kaum Muslim harus siap menempuh jalan pembaruan pemikiran Islam, sekalipun pilihan itu disertai risiko mengorbankan integrasi umat.

Cak Nur memberikan pemecahan yaitu perlunya liberalisasi pandangan terhadap ajaran-ajaran Islam yang meliputi sekularisasi (desakralisasi terhadap segala sesuatu selain hal-hal yang benar-benar bersifat Ilahiyah/transendental, atau dengan kata lain: menempatkan hal yang sakral dan profan pada tempatnya masing-masing, tidak kebolak-balik), kebebasan berpikir, idea of progress dan sikap terbuka, dan perlunya peran aktif kelompok pembaruan yang “liberal” yang non-sektarianisme dan non-tradisionalisme. Dalam makalah ini, Cak Nur juga mengenalkan jargon “Islam Yes, Partai Islam No!” sebagai bentuk kritik terhadap sebagian masyarakat Islam yang mengabsolutkan dan menyakralkan partai Islam.

Baca Juga :  Tiga Tingkatan Cinta dalam Sufisme

Tulisan tersebut menjadi “viral” dan memicu perdebatan panjang di kalangan intelektual dan aktivis Islam kala itu. Kalangan konservatif Islam dan golongan tua umumnya mengecam tulisan ini. Termasuk yang paling tajam adalah Prof. Dr. H.M. Rasjidi melalui bukunya “Koreksi terhadap Drs. Nurcholish Madjid tentang Sekulerisasi” (1972).

Untuk menjawab kritik dan serangan atas tulisan ini, Cak Nur bahkan membuat beberapa tulisan lagi sebagai penjelas dan penguat argumennya  yaitu, “Beberapa Catatan Sekitar Masalah Pembaruan Pemikiran Islam” (1970), “Sekali Lagi tentang Sekularisasi” (1972),  “Menyegarkan Paham Keagamaan di Kalangan Umat Islam Indonesia” (1972), dan “Perspektif Pembaruan Pemikiran dalam Islam” (1972).  Kini, tulisan-tulisan Cak Nur tersebut bisa dibaca dalam bukunya “Islam, Kemodernan, dan Keindonesiaan” yang diterbitkan Penerbit Mizan.

Di samping pihak yang menghujat, banyak kalangan pula yang mengapresiasi tulisan Cak Nur ini. Harian “Indonesia Raya” milik Mochtar Lubis dengan antusias memuat tulisan Cak Nur ini secara penuh pada edisi hari Minggu berikutnya. Nono Anwar Makarim, pemimpin harian KAMI, memuji tulisan Cak Nur ini sebagai “the speech of the year.”

Pemikiran dan kiprah Cak Nur dalam pengembangan peradaban Islam berlanjut ketika dia mendirikan Yayasan Wakaf Paramadina sekembalinya dari Chicago, pada 1986. Pada tahun 1998, Yayasan ini bekerja sama dengan Yayasan Pondok Mulya mendirikan Universitas Paramadina Mulya yang kemudian berubah nama menjadi Universitas Paramadina. Cak Nur menjabat sebagai rektor pertama sampai akhir hayatnya, pada tahun 2005.

Sejumlah karya penting Cak Nur seperti buku “Khazanah Intelektual Islam” (1984), “Islam, Kemodernan, dan Keindonesiaan” (1987), “Islam, Doktrin, dan Peradaban” (1992), “Pintu-pintu Menuju Tuhan” (1994), dan lainnya menjadi sumber inspirasi para anak muda Islam pada dekade 1980-an dan 1990-an, dan bahkan hingga kini. Tak heran ia kemudian dinobatkan sebagai salah satu pembaharu Islam Indonesia yang pengaruhnya sangat besar, khususnya dalam mempromosikan Islam moderat yang inklusif, dinamis, dan sejuk.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here