Nidhal Guessoum dan Spirit Sains Umat Islam yang Salah Kaprah

0
27

BincangSyariah.Com – Nidhal Guessoum M.Sc, P.hD. adalah seorang astrofisikawan asal Aljazair. Kelahiran 6 September 1960 ini menjabat sebagai profesor di American University of Sharjah, Uni Emirat Arab. Ia sering membahas permasalahan astronomi yang beririsan dengan problema keislaman seperti  Visibilitas Hilal dan waktu shalat di daerah-daerah dengan posisi garis lintang yang unik.

Professor Nidhal Guessoum aktif mengajar di banyak unversitas bereputasi di tingkat dunia seperti Cambridge, Oxford, Cornell dan lain-lain. Ia aktif menulis dan menuangkan pemikirannya terkait dengan relasi antara islam dan Sains. Salah satu sikapnya adalah, menolak pemikiran cocokologi sains dan Islam/pseudo-sains ala Harun Yahya dan Zaghlul M. Najjar.

Prof. Guessoum menyuarakan upaya menanamkan kembali metodologi ilmiah dalam budaya Muslim. Pada 2010, beliau menulis sebuah buku berjudul  Islam’s Quantum Question: Reconciling Muslim Tradition and Modern Science. Dalam buku tersebut, ia menegaskan ada sebuah desakan besar untuk segera melakukan integrasi berbagai nilai sains modern dengan prinsip agama, (bukan justru sebaliknya), utamanya teori biologi dan evolusi manusia, yang menurutnya dapat diupayakan agar tidak bertentangan dengan prinsip dan etos Islam. Umat Muslim harus menjawab berbagai tantangan ini dengan serius jika ingin memulihkan warisan dan integritasnya yang sebenarnya.

Wujud kekhawatiran beliau diantaranya dituangkan dalam satu bagian dari buku Islam’s Quantum Question: Reconciling Muslim Tradition and Modern Science (h. 7). Beliau menceritakan gambaran keterbelakangan sains yang melanda dunia Islam dengan mengingat sebuah konferensi kemukjizatan sains dalam Alquran dan sunnah, yang diadakan di Kuwait pada tahun 2006.

Beberapa makalah yang dipresentasikan dalam konferensi tersebut adalah:

  1. Kemujizatan saintifik tentang kehancuran setelah tiupan sangkakala
  2. Kemukjizatan saintifik dalam masalah perbedaan kencing bayi laki-laki yang masih menyusui.
  3. Obat dan racun dalam dua sayap lalat.
  4. Kejaiban kebangkitan dan rekonstruksi tubuh manusia dari tulang ekor.
  5. Kemukjizatan dalam masalah turunnya besi dari langit. Dan lain-lain.
Baca Juga :  Membaca Posisi Kitab Hadis Karya Imam As-Syafi’i

Guessoum mempertanyakan mengapa konferensi yang dihadiri oleh orang-orang akademisi di dunia Arab justru membahas permasalahan yang tidak jelas pembuktiannya secara ilmiah, hanya karena mencari kecocokan dengan ayat Alquran dan hadis, untuk kemudian disebut sebagai mukjizat sains atau sains Alquran. Sungguh mengkhawatirkan jika anggapan sains di tubuh umat Islam selama ini ternyata hanya upaya cocoklogi kitab suci yang sama sekali tidak mengikuti prinsip eksperimental dan rasionalitas sains.

Contoh lain dalam masalah ini adalah sebuah konferensi di Qatar bertajuk Quranic Healing pada tahun 2007, konferensi ini dihadiri oleh banyak kalangan akademisi dan pejabat public di kawasan Arab. Yang menjadi pembicara kunci dalam konferensi ini adlah professor Zaghlul Najar yang memiliki latar belakang ilmu Geologi.

Zaghlul Najar dalam sampaiannya mengkritik dualisme dalam kedokteran modern. Ternyata yang dimaksud dengan dualisme oleh beliau salah satu bentuknya adalah kajian kedokteran tidak memberi ruang pada kajian “penyembuhan dengan ayat Quran.” Menurutnya seharusnya ilmu kedokteran harus mengkaji hal ini. Dikotomi antara ilmu kedokteran modern dengan Quranic healing tidak boleh terjadi.

Apa yang disampaikan oleh Prof. Najar baru pembukanya saja. Masih ada ujaran berkedok sains lainnya yang dibahas dalam forum itu seperti, perubahan molekul air setelah dibacakan ayat suci Al-Quran, aliran elektromagnetis bacaan ayat Al-Quran terhadap air, penyimpanan energi Al-Quran melalui media air.

Sebagian peserta konferensi juga membahas penyembuhan Alquran dalam masalah magis seperti kesurupan, A’in (jin yang ditransfer oleh pandangan mata) yang kemudian dikaitkan dengan gelombang elektromagnetik yang dihasilkan oleh otak menjadi energi negatif.

Menurut Prof Nidhal isi yang disampaikan dalam konferensi ini sangat menggelikan untuk disebut sebagai ilmu medis, semuanya justru mirip seperti nuansa abad pertengahan yang dibawa ke masa sekaranag. Di penghujung konferensi lalu dibuat ksimpulan agar Negara-negara Arab memberikan perhatian pada perkembangan medis semacam ini, praktik penyembuhan dengan ayat Alquran semakin diberdayakan, klinik pengobatan kesurupan dan penyakit ‘Ain dibuka. Semua ini sungguh terdengar menggelikan, dan hingga sekarang tidak ada hasil apa-apa dari konferensi semacam ini.

Baca Juga :  Jaminan Surga dari Nabi bagi Sahabat yang Berprasangka Baik

Gambaran menggelikan lainnya dalam masalah ini adalah sebuah buku berjudul Characteristic of the Nobel Quran, yang ditulis oleh Fahd Ar-Rumi, seorang professor studi Alquran di Riyadh. Dalam bukunya ia menulis, “Alquran dapat menyembuhkan berbagai penyakit kejiwaan seperti nafsu makan babi, homoseksualitas dan lain-lain, namun ini bukanlah bentuk kemukjzatan utama Alquran, lebih dari itu, kemukjizatan medis Alquran semakin terlihat ketika ia juga dapat menyembuhkan penyakit fisik melampaui kemampuan ilmu kedokteran modern.”

Professor Nidhal melalui bukunya ini mengajak umat Islam secara umum mulai mempertanyakan sebuah pertanyaan penting, apakah pandangan sains di mata ummat islam memang melalui bentuk semacam ini. Kondisi ini pada akhirnya membuat kita semakin tertinggal dari kemajuan sains dan terlihat sebagai antipasti terhadapnya. Jika Islam semakin menunjukkan wajah dan kesan konyol ketika membahas persoalan Sains, sungguh ini menjadi sinyal buruk yang harus segera dipikirkan matang-matang.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here